Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Jum 10 Februari 2012
Banner

Mentan Panen Kapas Perdana Didampingi Lula Kamal

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Dionisius Umbu Ana Lodu   
Senin, 06 Juli 2009 00:42

Iklim investasi yang kondusif di Sumba Timur (Sumtim) ternyata bukan hanya sebatas wacana. Jika dimasa-masa lalu, banyak pihak atau pengusaha dari luar yang berpikir seribu kali untuk berinventasi, kini seiring dengan terbukanya sejumlah isolasi, inventasi merupakan hal yang tidak sulit untuk dilakukan di Kabupaten yang bermottokan Matawai Amahu Pada Njara Hammu itu.

Salah satu investor yang sejauh ini dinilai serius dan berhasil berinvestasi adalah PT. Ade Agro Industri. Perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan ini, telah beberapa tahun menanamkan modal dalam bidang perkebunan kapas dan jagung disejumlah wilayah Sumtim.
Jumat (3/7/2009), Menteri Pertanian (Mentan), Anton Apriantono melakukan kunjungan kerja sekaligus melakukan panen perdana kapas di lahan PT Ade Agro Industri di Ngohung, Desa Kadumbul, Kecamatan Pandawai. Kehadiran mentan ini sekaligus menjadi ceremonial penetapan  Sumtim menjadi salah satu daerah pengembangan kapas di Indonesia.

Anton datang ke Sumtim tidak sendiri namun didampingi oleh Dirjen Perkebunan, Ahmad Manggabarani dan beberapa direktur di Departemen Pertanian.  Dalam panen perdana itu, Anton didampingi Bupati Sumtim, Ir. Gidion Mbilijora, M.Si dan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi NTT, Ir. Petrus Muga. Ceremonial panen perdana itu makin meriah karena juga hadir, Lula Kamal, artis yang cukup ternama ibu kota.

Dalam sambutannya,Anton menjelaskan, kehadirannya dalam rangka melihat potensi pertanian yang ada di daerah itu. Anton mengakui kekaguman dan tercengang akan potensi pertanian di Sumtim. “Ternyata daerah ini punya potensi berlimpah.  Lahan yang luas dan sumber air yang banyak sangat memungkinkan untuk dikembangkan. Mungkin selama ini karena berbagai keterbatasan jadi belum dimaksimalkan pemanfaatannya,” kata Anton

Lebih jauh Anton menjelaskan, Sumba Timur khususnya dan Pulau Sumba umumnya tetap bisa mempertahankan potensi peternakan namun juga bisa dijalankan beriringan dengan pengembangan potensi pertanian dan tanaman pangan. “Lahan di sini sangat luas, saya lihat tadi sepanjang jalan, banyak lahan yang kosong. Lahannya jauh lebih luas dari ternak yang ada. Saya sudah sampaikan keBupati untuk bersama-sama memikirkan langkah-langkah strategis untuk dikembangkannya potensi yang menjanjikan itu,” lanjut Anton.

Terkait dengan panen perdana kapas diatas lahan yang dulunya hanya merupakan padang sabana dengan rerumputan dan ilalang itu, Anton membeberkan sejumlah realita yang terjadi di NKRI dalam bidang perkebunan dan perindustrian.”Sembilan puluh persen  kapas untuk bahan baku tekstil diimport dari negara lain. Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara pengeksport produk tekstil terbesar,” tandasnya.

Sehubungan dengan masa kerjanya sebagai menteri yang tinggal seumur jagung itu, jika dikaitkan dengan rencana dan program pembangunan infrastruktur dan sarana pendukung pengembangan potensi pertanian, ditanggapi Anton dengan cukup bijak. “Siapapun yang akan menjadi Menteri Pertanian berikutnya harus mendukung program ini. Saya di sini bicara program bukan jabatan. Siapa pun yang jadi menteri berikutnya harus mendukung program ini,” tegas Anton.

Bupati Sumtim, Drs. Gidion Mbilijora, M.Si mengatakan, kapas yang dikembangkan di Sumtim merupakan varietas asli Indonesia. “ Lima belas dari 20 kecamatan  di Sumba Timur berpotensi untuk mengembangkan tanaman kapas. Karena itu, dukungan dari pemerintah pusat yakni Departemen Pertanian. Dukungan itu, tidak hanya untuk ternak tetapi juga pengembangan  Mente dan Kkakao sangat dibutuhkan,” ucap Gidion, figur Buapti Sumtim yang dikenal low profile itu.

Sementara itu, Komisaris PT Ade Agro Industri, Li Cahyadi yang ditemui wartawan secara terpisah mengatakan, luas lahan untuk pengembangan tanaman kapas yang dikembangka PT Ade Agro Industri di Ngohung 300 ha baru dimanfaatkan 55 ha. Di Laipori 1500 ha, baru dimanfaatkan 75 ha. “Pengembangan kapas di PT AAI ini merupakan kemitraan antara GAPOKTAN Pandawai Amahu dengan PT AAI. Dengan luas areal 125 Ha, jumlah anggota 88 orang dengan pendampingan dari Balitas Malang dan Oakville Pastoral Australia. Teknis budidaya varietas  kapas jenis canesia 8 ini menggunakan atau memakai jarak tanam 70 x 20 cm dengan populasi 57 ribu batang per hektar. Irigasi atau sistem pengairan memakai  sistem Center Pivot.  Sehingga diperkirakan produktivitasnya  6450 kg kapas berbiji per hektar,” beber Li.

 

Komentar  

 
0 #1 Guest 2009-07-08 23:25
saya sangat setuju dgn apa yang dikatakan pak anto mengenai sumba.sumba itu begitu luas dengan sedikit tataan aja,sumba bisa menjadi kota majig.kenapa tidak???sumba berjalan trus,jgn berhenti menata kota sumba yang asri.sumba,i miss sumba.
 
 
0 #2 Guest 2009-07-13 22:15
aduh sy stuju dgn p anton, g nyangka dtng juga ke sumba....biar lht potensi daerah kt tinggal bgmana respon dr msyarkat sumtim
ayo bergerak.......n semangat.......
kalau bukan kt siapa lg n jgn tunggu orng jawa atau pendatang lain yg memanfaatkan hbs msh banyak jg pengangguran di sumba....
 
 
0 #3 Guest 2009-07-23 20:47
ni mw meralat ttg komentar sy diatas tlng pemerintah sumba n masyarakat waspada ttg perusahaan kapas yg ada di sumba masalahnya jenis kapas canesia kedepannya akan merusak lingkungan sumba kt tercinta...

kt sebagai orng yg peduli ma sumba tlng di perhatikan masalah ini n untuk lebih jelasnya buka di dgn judul mansanto rencanakan buka perkebunan kapas.
tdk kebayang sumba yg masih asli ntar di cemari.
 
 
0 #4 Rambu Eti 2009-12-29 12:16
jangan langsung tergiur dengan hasil finansialnya... tolong perhatikan dampaknya terhadap lingkungan. jgn pernah beranggapan bahwa padang sabana yang kelihatannya kosong tidak memiliki potensi. tolong jelaskan jenis kapas yang di kembangkan di ngohung desa kadimbul? asal kapasnya dari mana? PT Ade Agro Industri dapat sponsor dari luar negeri? jika ia dr negara mana ya?
 

Tambah komentar


Kode keamanan
Refresh