Menyemai Kembali Rasa Kebangsaan |
|
|
|
| Ditulis oleh Bonefasius Sambo |
| Rabu, 20 April 2011 14:45 |
|
Bonefasius Sambo
Menjadi sebuah bangsa, kita perlu memiliki komitmen disertai prinsip-prinsip untuk mempertahankan eksistensi dan integritas bangsa. Ihwal ini menjadi sangat berarti dalam kehidupan negara-bangsa masa kini. Mengapa demikian? Karena tanpa komitmen dibarengi prinsip-prinsip yang kokoh akan berakibat fatal. Terutama dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara itu sendiri. Masih segar dalam ingatan kita. Rentetan tragedi kekerasan bermotif SARA (suku, agama, ras dan antar golongan). Peristiwa ini terjadi selama periode Januari sampai Maret 2011. Diantaranya, penyerangan terhadap anggota jemaat Ahmadiyah. Pengrusakan tempat ibadah (gereja). Dan terakhir dengan modus operandi baru peneroran. Teror bom buku yang ditujukan kepada beberapa tokoh yang memperjuangkan pluralisme di Indonesia. Implikasinya jelas pada disintegrasi bangsa. Pada kisaran ini sebagai anak bangsa kita menolak keras. Terutama tindakan-tindakan yang menjurus pada makar dan anarkisme. Hal ini menzolimi kedaulatan bangsa. Kekerasan ini mengindikasikan bahwa rasa kebangsaan kita telah luntur. Bangsa ini memiliki corak yang beragam. Hal ini dibuktikan dengan kehidupan masyarakat yang heterogen dan pluralistis. Malahan nilai-nilai pluralisme sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Jadi untuk apa kita mau hadir sebagai sebuah masyarakat yang eksklusif? Bukankankah eksklusivisme itu sebuah ironi?. Lunturnya Rasa Kebangsaan Energi perubahan dari gerakan reformasi 1998 memberi kekuatan baru pada stuktur masyarakat primodialisme. Masyarakat yang sebelumnya terpasung akibat rezim represif Orde Baru mendapatkan kesempatan yang luas dalam berekspresi. Namun dalam kurun waktu lebih dari satu dasawarsa ini, kebebasan menyatakan pendapat dan berekspresi masih bergelut di luar koridor hukum. Hal ini terlihat dari aksi-aksi gerakan massa. Ketika kompromisme terabaikan. Penyampaian aspirasi disertai dengan pemaksaan kehendak. Konflik yang diinflitrasi oleh kepentingan. Inilah contoh beberapa hal yang menjadi biang kerok munculnya beragam masalah-kekerasan. Kemudian masalah yang tak terselesaikan ini akan mengendap menjadi ancaman serius bagi kehidupan masyarakat. Ancaman ini makin menakutkan ketika unsur-unsur masyarakat mendewakan keegoannya. Egoisentris pada unsur SARA semakin menyulutkan konflik. Dan tak pelak lagi kelompok masyarakat tertentu akan berlaku anarkis. Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia rentan dengan isu-isu yang berbau SARA. Isu tersebut menjadi sarana yang mampu memporandakan bangunan keindonesiaan. Bagi oknum tertentu, momentum ini dimanfaatkan untuk memancing di air keruh. Selain itu mereka (oknum) menabuhkan genderang sentimen pada kelompok-kelompok tertentu. Maksudnya kelompok yang dianggap berseberangan. Itulah yang patut diwaspadai oleh masyarakat sekarang. Masyarakat yang terbelakang menjadi lahan subur bagi mereka dalam menyemaikan benih-benih permusuhan. Sampai detik ini Indonesia masih berkubang pada permasalahan kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan berbagai masalah KKN yang belum terselesaikan di ranah hukum. Permasalahan ini membersitkan rasa antipati masyarakat terhadap kinerja pemerintah. Pada titik ini masyarakat perlu bersabar menanti kesungguhan dan keseriusan pemerintah dalam mengentaskan problematika bangsa. Sesungguhnya mata kita melihat dan telinga kita mendengar aneka aksi jalanan berujung anarkisme. Sehingga orang lain menjadi korban. Baik itu korban harta benda bahkan nyawa pun harus melayang. Lalu dimanakah hati nurani sebagai manusia yang memuliakan manusia? Kita bukanlah bangsa barbar yang berjuang untuk mendirikan kekuasaan-kekuasaan baru. Kita adalah sesama. Kita adalah saudara sebangsa. Dari berbagai uraian di atas, memunculkan pertanyaan. Benarkah Negara kita sebagai sebuah negera gagal? Pada tahun 2002, World Economic Forum dan Harvard University membeberkan tentang karakteristik negara gagal. Karakteristiknya antara lain, tingginya angka kriminalitas dan kekerasan, korupsi yang meraja lela, miskinnya opini publik, dan suasana ketidakpastian yang tinggi. Untuk masalah ini diserahkan kepada masyarakatlah untuk menilai. Semaikan Rasa Kebangsaan! Apakah bangsa itu? Ernest Renan mendefinisikan bahwa bangsa itu adalah jiwa dan prinsip spiritual yang menjadi ikatan bersama, baik dalam hal kebersamaan maupun dalam hal pengorbanan. Dari definisi ini kita perlu merefleksikan dalam universalitas keindonesiaan. Bangsa Indonesia terangkai dari beragam suku, agama, budaya, adat istiadat yang disatukan dalam bingkai NKRI. Kemerdekaan yang diraih adalah kolektivitas pengorbanan yang dipertaruhkan oleh seluruh anak bangsa. Melalui pemahaman ini sejatinya mampu memperkuat solidaritas kebangsaan. Masyarakat Indonesia memimpikan suasana demikian. Kondisi ini jangan hanya sebatas wacana utopis. Sejatinya harus direalisasikan. Selain itu kita dapat menyemaikan nilai-nilai kemanusiaan yang mampu menerobos sekat-sekat perbedaan. Keadilan yang merata harus dirasakan oleh seluruh komponen bangsa. Paus Yohanes Paulus II berpendapat bahwa “tidak ada perdamaian tanpa keadilan, dan tidak ada keadilan tanpa pengampunan”. Pendapat Paus di atas berlaku dalam tatanan kehidupan antar bangsa. namun dalam cakupan nasional kita perlu damai dan adil. Dan bangsa Indonesia telah memiliki karakteristik yang kuat dalam pergaulan sosial. Keramahtamahan, sopan santun, dan toleransi, serta gotong royong itulah jati diri bangsa. Selain itu pendidikan etika dalam masyarakat modern perlu diterapkan. Pendidikan etika itu pada prinsipnya adalah kemerdekaan bersama untuk diri sendiri dan orang lain. Etika perlu dilandasi dengan nilai-nilai humanisme. Etika harus mampu melintasi batas-batas ideologis khususnya dalam interaksi masyarakat. Sebagai orang Indonesia kita patut berbangga dengan republik ini. Yang para pemimpinnya terus menjaga kedaulatan bangsa, sekaligus tidak pernah memutuskan nadir keindonesiaannya. Gemerlapnya Jakarta memang memesonakan. Namun Jakarta bukanlah representasi Indonesia. *) Penulis adalah guru, tinggal di Mangili, Sumba Timur |
Berita Terkini
18 May 2012
- 17 May 2012 Jembatan Darurat Payeti: Telah Dibangun dengan Model yang Lebih 'Akrab' dengan Kaum Perempuan
- 16 May 2012 Hujan Berkepanjangan: Cemaskan Warga Pengguna Jembatan Darurat Payeti
- 10 May 2012 MTQ NTT akan Diinkulturasi: Bentuk Dukungan, Usulan Tenun Sumba Jadi Warisan Dunia
- 09 May 2012 Sebrangi Sungai & Bukit Terjal: Siswa SD Bidipraing Akhirnya di Asramakan Selama Pelaksanaan UN
- 08 May 2012 Listrik Proyek PNPM hanya Pajangan: Anak Lai Hiding Belajar Pakai Pelita untuk Hadapi UN
- 03 May 2012 PLN Janji Bina & Tindak Pencatat Meter Nakal
- 27 April 2012 Tikus ‘Invasi’ Lahan Pertanian : Warga Kombapari Terancam Gagal Panen
- 26 April 2012 Warga Mengadu ke DPRD: Diduga Petugas Pencatat Meter PLN Kerja ‘Curi Tulang’
- 24 April 2012 Cara Siswa/i SMPN Nggoa Hadapi UN: Gunakan Lampu Pelita Saat Belajar, Jalan Kaki 7 KM ke Sekolah
- 16 April 2012 Diduga Karena Belum Terima Gaji, Staf Dispenduk Sumba Timur Mogok Berkantor
- 13 April 2012 Naskah Ujian Nasional di Sumba Timur Kurang
- 08 April 2012 18 Tahun Didera Hydrochepalus & Lumpuh: Walau Lirih, Zakarias Tetap Bersenandung
- 06 April 2012 Jemaat GKS Kambaniru Gelar Prosesi Jalan Salib
- 05 April 2012 Sekolah di Sumba Timur, 75% Dibawah Standart Mutu Nasional
- 04 April 2012 Apresiasi Perjuangan Anak Lai Hiding: Dinas PPO Sumba Timur Rencanakan Bangun Sekolah Paralel
- 03 April 2012 Belajar dari Agustinus: Sosok Sederhana di Balik Perjuangan Anak-Anak Lai Hiding
- 31 March 2012 ‘Uji Nyali’ Anak Dusun Lai Hiding: Ke Sekolah Bagaikan Terjun ke Arena Sabung Nyawa
- 29 March 2012 Bangunan Pasar Papuu dan Kiritana Mubazir: TPI & Pabrik Es Waingapu Bernasib Serupa
- 28 March 2012 Harga BBM Belum Resmi Naik: Harga Sejumlah Sembako Menang Satu Langkah!




