Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Sab 19 May 2012
Banner

Merapi dan Hati Nurani Anak Bangsa

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Bonefasius Sambo   
Rabu, 10 November 2010 23:07

Pada tanggal 26 November 2010 lalu Gunung Merapi meletus dengan mengeluarkan awan panas. Kejadian ini dimulai pukul 17.02 Wib atau pukul 18.02 Wita seperti yang dicatat oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Yokyakarta (26/10). Dari hasil pantauan bahwa letusan Merapi tahun 2010 ini melebihi letusan yang terjadi pada tahun 1972 dimana melewati angka 120 jam yang dihitung mulai tanggal 4 November 2010 hingga saat ini.

Bencana letusan Merapi telah merenggut korban jiwa dan masyarakat lainnya kehilangan harta benda. Hingga tulisan ini dimuat erupsi masih terjadi dengan intensitas yang rendah. Seperti dilansir oleh detiknews, Badan Geologi Kementrian ESDM pada Selasa (9/11) hingga pukul 06.00 WIB mencatat, terjadi gempa vulkanik sekali, gempa low frequency 3 kali, tremor tercatat beruntun, guguran terjadi 20 kali. Tremor tercatat sekali dan tidak tercatat gempa multiphase.

Dampak dari letusan Merapi ini menyebabkan korban tewas 198 orang, ratusan orang menderita luka-luka serta ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan mengungsi. Selain itu para korban kehilangan harta benda yang jumlahnya cukup besar. Peristiwa ini menimbulkan pilu yang mendalam bagi para korban.

Sebenarnya peringatan dini (early warning) sudah disampaikan kepada masyarakat setempat. Kendati begitu mereka kurang mengindahkannya. Akhirnya malapetaka datang menjemput, sehingga menelan korban jiwa dan harta benda. Melihat kondisi tersebut maka sudah selayaknya pemerintah perlu mengambil langkah antisipatif.

Belajar dari letusan gunung Merapi setidaknya memberi “lampu kuning” bagi daerah lain termasuk juga NTT. Karena NTT memiliki gunung-gunung yang termasuk dalam daftar 22 gunung api di Indonesia yang mulai aktif lagi yaitu gunung Rokatenda dan gunung Egon dengan status waspada. Situs resmi Provinsi Nusa tenggara Timur pada tanggal (4/11) memberitakan mengenai dua gunung di kabupaten Ende yaitu gunung Iya dan gunung Kelimutu berstatus aktif normal. Kendati demikian masyarakat patut waspada.

Masyarakat harus diberi kesadaran mengenai bencana gunung meletus. Sudah saatnya masyarakat dibawah pada kesadaran yang lebih rasionalitas ilmiah. Ketimbang mitos-mitos irasional. Bencana alam dapat terjadi kapanpun dan dimana saja. Bagi masyarakat yang kurang waspada dan apatis besar resikonya tertimpa bencana.

Kejadian demi kejadian (bencana alam) yang terjadi akhir-akhir ini adalah sebuah gambaran yang jelas mengenai fenomena alam yang tidak menentu. Kewaspadaan pada masyarakat giat ditingkatkan. Tsunami, banjir bandang, tanah longsor, laut dengan gelombang ekstrim merupakan contoh lain bencana alam yang kerap terjadi di tanah air kita.

Melihat bencana yang susul menyusul ini timbul pernyataan reflektif. Hadir sepenggal syair lagu Ebiet G. Ade, “…mungkin Tuhan mulai bosan bersahabat dengan kita…”. Pada titik ini, kita tidak perlu tahu mengapa ini harus terjadi. Jawabannya sangat kompleks. Kita cukup tahu bahwa kita satu sebagai sesama manusia makhluk Tuhan dan satu sebagai anak bangsa atau sebagai saudara. Yakni anak-anak yang dilahirkan dari rahim yang sama yaitu Indonesia.

Hati Nurani Bangsa

Bangsa ini dibangun dengan azas kebersamaan. Keringat, darah, dan air mata dicurahkan untuk menggapai negeri yang bebas merdeka lahir dan batin. Kemerdekaan secara politik kita kumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Lalu segenap anak bangsa berjanji untuk membawa bangsa ini dalam kerangka NKRI selamanya.

Melihat bencana yang terjadi pada saudara kita di Yogyakarta, lantas apa yang bisa kita usahakan? Bagi para korban pada kondisi serba kurang dan serba terbatas tentu akan berujung pada tak terpenuhinya kebutuhan pangan, sandang dan papan. Mereka akan kekurangan makanan dan air bersih. Dampak susulan lainya tentu akan mewabahnya penyakit menular yang akan menenggelamkan mereka pada kesulitan yang makin dalam.

Masalah bencana yang menimpah saudara kita adalah derita bangsa. Walaupun SBY selaku kepala negara telah menetapkan kebijakan khusus untuk penanganan korban Merapi, tanpa campur tangan segenap elemen masyarakat mustahil cepat teratasi baik kebutuhan pokok apalagi rehabilitas pemukiman penduduk.

Tapi bila kita selaku anak bangsa bergandengan tangan niscaya usaha mulia ini bisa terwujud betapapun sulitnya. Pada sisi lain dapat meringankan beban saudara kita di sana.

Kitapun perlu menyadari, hati nurani manusia itu merupakan suara Tuhan. Sebuah kekuatan yang mampu menghubungkan perbedaan manusia.

Masih segar dalam ingatan kita tragesi tsunami , 26 Desember 2004 yang meluluhlantakan Aceh. Catatan harian Dr. Dino Patti Djalal dalam buku Harus Bisa-Seni Memimpin ala SBY (hal.309), seorang Maggie siswa SD di Charlevoix, Michigan AS menulis surat untuk anak-anak korban Aceh, akhirnya surat itu diterima oleh Nada Lutfiyyah gadis yatim piatu yang selamat. Maggie menuliskan, ”Hi, I hope your family and friends are okay. In church,I pray for you and your country. In school, we are raising money for your country. We have a loose change bucket and kids bring money in. Also, we are making tsunami bracelets to raise money too. I have made you one. I hope you like it. I will continue praying for you and your country in church, your friend, Maggie”.

Inilah sebuah nurani yang mulai antara Maggie gadis cilik Amerika Serikat untuk Nada dari Aceh. Dua dunia yang berbeda baik dari segi budaya, agama, maupun warna kulit. Namun hati nurani menyatukannya. Hati nurani telah mengikis habis sekat-sekat duniawi yang dibangun sendiri oleh manusia. Lalu, bagaimana dengan kita, yang merasa senasib dan sepenanggungan tapi terus berdiam diri?***

*) Penulis adalah guru, tinggal di Mangili

 

Untuk mengirim komentar di situs ini, silahkan login dulu, atau gunakan layanan komentar dari facebook di atas :)

Berita Terkini

Drainase Wangga & Kambaniru: Telan Anggaran Lebih dari Rp. 3 Milyar
18 May 2012
article thumbnailWaingapu.com - Banjir yang sering melanda sejumlah wilayah di Kelurahan Wangga dan Kelurahan Kambaniru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur ( Sumtim), NTT, setiap tahun, pada saat musim...
Banner