Warning: file_put_contents(/home/wainga01/public_html/images/stories/sosok/2011/10/Resized/index.html) [function.file-put-contents]: failed to open stream: No such file or directory in /home/wainga01/public_html/libraries/joomla/filesystem/file.php on line 304

Warning: file_put_contents(/home/wainga01/public_html/images/stories/sosok/2011/10/Resized/index.html) [function.file-put-contents]: failed to open stream: No such file or directory in /home/wainga01/public_html/libraries/joomla/filesystem/file.php on line 304

Warning: file_put_contents(/home/wainga01/public_html/images/stories/sosok/2011/10/Resized/index.html) [function.file-put-contents]: failed to open stream: No such file or directory in /home/wainga01/public_html/libraries/joomla/filesystem/file.php on line 304

Warning: file_put_contents(/home/wainga01/public_html/images/stories/sosok/2011/10/Resized/index.html) [function.file-put-contents]: failed to open stream: No such file or directory in /home/wainga01/public_html/libraries/joomla/filesystem/file.php on line 304

Warning: file_put_contents(/home/wainga01/public_html/images/stories/sosok/2011/10/Resized/index.html) [function.file-put-contents]: failed to open stream: No such file or directory in /home/wainga01/public_html/libraries/joomla/filesystem/file.php on line 304

Warning: file_put_contents(/home/wainga01/public_html/images/stories/sosok/2011/10/Resized/index.html) [function.file-put-contents]: failed to open stream: No such file or directory in /home/wainga01/public_html/libraries/joomla/filesystem/file.php on line 304
Waingapu.Com - Mimpi Saja Sudah Salah, Maka Sistem Juga Salah!
Mimpi Saja Sudah Salah, Maka Sistem Juga Salah!
Ditulis oleh Admin  
Minggu, 02 Oktober 2011 01:01
Februarian Hau Dimu

Waingapu.Com - Merencanakan suatu kegiatan atau aktivitas dalam rangka membangun Sumba Timur secara khusus dan Sumba dalam skala yang lebih luas maka tidak lepas dari suatu konsep berfikir, dan harus diwujudnyatakan dalam aktivitas atau kegiatan tersebut.

Wilayah Sumba Timur yang akhir-akhir diberitakan di berbagai media massa baik cetak, televisi maupun media online cukup memberi gambaran bahwa Kabupaten Sumba Timur berada dalam kondisi krisis pangan. Pemberitaan tersebut tentunya sangat memperhatikan.

Pemberitaan krisis pangan tersebut, jika dicermati maka pemberitaan tersebut sebagian besar terjadi di daerah pedesaan walau tidak seluruh desa. Terus bagaimana dengan krisis pangan di kota Waingapu sebagai jantung gerak dan laju perekonomian di Sumba Timur? Selama ini belum ada kabar tentang krisis pangan tersebut.

Terong

Lepas dari pemberitaan tentang krisis pangan tersebut di atas, adalah sosok Februarian Hau Dimu (46), seorang mantan aktivis LSM Alam Lestari Sumba, sejak Oktober 2010 lalu memulai usaha pertanian organik. Yang ditanamnya adalah kedelai, bawang, kol, labu, kacang hijau, jagung, dan terong yang ditanam di lahan miliknya sendiri yang berada di Kawangu, 10 KM dari kota Waingapu.

Pak Ari, biasa dipanggil demikian menceritakan awal usahanya ini kepada Waingapu.Com ketika berkunjung ke lokasi pertanian tersebut pada sabtu, 1/10/2011, dimana usaha ini merupakan bentuk "keprotesan" pak Ari melihat kondisi Sumba Timur yang dianggap miskin.

"Masalah masyarakat pada umumnya bukan hanya masalah kekurangan air, kekurangan ternak, atau mungkin kekurangan pupuk untuk pertaniannya. Tetapi masalah masyarakat adalah tidak adanya keinginan untuk mengusahakan sumber daya alam yang tersedia melimpah ini agar diolah dan dipergunakan sesuai kebutuhan," demikian kata pak Ari.

Ungkapan ini tentunya sangat berasalan. Pengalaman yang dilihat pak Ari di masyarakat bahwa lulusan-lulusan sekolah yang belum memiliki pekerjaan tetap lebih senang memilih menjadi Tenaga Honor Komite di sekolah yang gajinya hanya Rp.50.000/bulan ketimbang berusaha mengolah tanah untuk pertanian yang hasilnya lebih menjanjikan.

"Saya tidak menekankan hasil panen dalam usaha pertanian ini, tapi saya lebih menekankan hasil pembelajaran dari proses yang ada sehingga menghasilkan nilai lebih pada proses-proses selanjutny," demikian pak Ari mempertegas konsep wira usaha.

Jagung

"Masyarakat kita masih masyarakat yang berorientasi 'pengisi waktu' untuk usaha pertanian ini, bukan masyarakat yang berorientasi pasar. Dan sektor pertanian adalah sektor yang akan tetap eksis dalam perdagangan global ini," lanjut pak Ari.

Dari kegiatan pertanian ini, pak Ari dilirik oleh lembaga partner dari Belanda yaitu Hivos untuk terus mengembangkan usaha pertanian ini. Pada bulan September 2011 lalu Hivos telah menandatangi kontrak kerjasama. Hivos mendukung konsep biogas yang tawarkan pak Ari karena dipihak Hivos sendiri mereka memiliki salah satunya program kerja yang namanya "program biru".

Lampu gas dari biogas

Tentang biogas ini, pak Ari telah menerapkan kegunaan biogas untuk keperluan usaha pertaniannya. Di lahan pertaniannya tersebut tersedia biogas sehingga untuk keperluan penerangan dan memasak pak Ari tidak perlu lagi membeli minyak tanah. Penggunaan biogas, energi yang terbarukan ini tentunya sangat menguntungkan jika bisa diterapkan di masyarakat sumba yang rata-rata di setiap rumah tangga memiliki hewan ternak.

Untuk memodali pembangunan usaha pertanian organik ini pak Ari tidak segan-segan mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri untuk membayar tenaga pengerja membuat beden sayur, membangun tabung biogas digiester, bak penampung kotoran ternak, rumah kebun, dan
bak penampung air, mesin pompa air, dan segala hal yang menyangkut pendanaan untuk operasional usaha pertanian organik ini.

Ketika ditanya soal perhatian pemerintah daerah Sumba Timur tentang pertanian organik ini, pak Ari hanya tersenyum. "Kadang kita bermimpi saja sudah salah, sebab sistem yang dibangun sudah salah. Dinas pertanian pernah datang ke sini, Bapedalda juga pernah datang, tapi kalau kedatangannya seperti wisatawan, ya sama saja," kata pak Ari sambil tertawa.

Kompor gas dari biogas

"Enam bulan terakhir ini perekonomian masyarakat bawah stagnan, terjadinya rawan pangan, kemudian persaingan pasar, ditambah lagi dengan adanya impor sayur-mayur yang didatangkan dari daerah Bali dan NTB, karena tidak adanya kebijakan-kebijakan dari pemda Sumba Timur melalui dinas-dinas terkait. Mestinya harus ada regulasi-regulasi sehingga dapat menolong petani lokal," lanjut pak Ari.

Sayur Kol

Walau tidak sampai tuntas menyelesaikan jurusan teknik mesinnya waktu kuliah dulu, pak Ari ingin menyarankan kepada Pemda Sumba Timur untuk menciptakan karakter-karakter wira usaha. "Jika Pemda Sumba Timur menggandeng STIE Kriswina dan beberapa LSM untuk mendidik minimal 10 orang mahasiswa setiap tahunnya dan mendidik mereka dalam berwira usaha, maka kita akan memiliki lulusan-lusan yang berkarakter wira usaha. Maka pada masa yang akan datang kita tidak dirisaukan lagi tentang bahaya rawan pangan seperti yang terjadi sekarang ini," demikain kata pak Ari menutup perbicaraannya.

Share