Muda Tapi Jangan Dianggap Rendah |
|
|
|
| Ditulis oleh Asnafri Taranau |
| Selasa, 24 Agustus 2010 19:34 |
|
Judul tulisan ini merupakan refleksi dari realitas dalam suatu struktur, yang coba saya padukan dengan padangan Injil (I Timotius 4:12a) “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda”. Dalam hal ini, saya tidak bermaksud “sok” rohani, karena bagi saya biarlah kerohanian menjadi rohani dalam dirinya sendiri agar dia tetap rohani, tetapi saya mengambil langkah diantara keduanya (sekuler dan rohani), dengan prinsip tidak mengatakan “tidak” pada sekuler (tidak menyalahkan yang sekuler dan membenarkan yang rohani) dan tidak juga mengatakan “ya” pada yang rohani (membenarkan yang rohani dan menyalahkan yang sekuler). Saya berada diantara keduanya. Tidak mengabaikan pra-eksistensi saya dan juga tidak mengabaikan eksistensi saya disini (di dunia ini). Di atas, saya menulis bahwa tulisan ini merupakan refleksi dari suatu struktur. Tentunya, akan banyak polemik (perdebatan) tentang struktur yang saya sebutkan. Pembaca akan mengatakan, struktur mana yang dimaksud, struktur birokrasikah (pemerintah) atau non birokrasi (LSM, Ormas, Organisasi Mahasiswa, dll)? Untuk itu, saya akan mempersempit lagi menjadi struktur birokrasi. Dalam tataran inilah berbagai tuduhan, sindiran, dan keapatisan kaum muda yang pada akhirnya ”menciptakan” orang muda yang pragmatis dengan ideologi ”realistis”. Wacana tentang prahara politik dan berbagai regulasi (peraturan) memposisikan pemerintah sebagai terdakwa. Dalam berbagai ungkapan seperti: ”Sumba Timur memalukan, karena menjadi kabupaten terkorup di NTT”, ”Apa yang bisa kita harapkan di Sumba, lebih baik bekerja di luar daripada di Sumba, sarjanaku tidak ada guna (Sarjana butta rumba)” dan berbagai ungkapan sejenis memberi kesan bahwa biang keladi dari kemelut sosial-politik berasal dari krisis pemerintahan yang hierarkis dengan tetap mempertahankan status quo. Centang perenang dari berbagai ungkapan-ungkapan yang sinis dan tak didengar seperti itu merupakan limbah dari distorsi pengelolaan pemerintahan. Sistem yang seharusnya setiap individu dapat berperan dan mengambil bagian guna kemaslahatan hidup bersama, dibendung menjadi sistem yang dimiliki dan didudukin oleh keluarga dari mereka yang saat ini berada di ujung tombak kepemimpinan. Tak heran jika ada semacam anekdot ”yang di atas menentukan posisi”. Ungkapan ini seolah-olah memposisikan pucuk pimpinan sebagai ”dewa penolong”. Akibat dari semua itu, kita dibodohi dan diindoktrinasi secara masif. Kita selalu dicekoki dengan frase ”jangan coba-coba melawan arus”. Tidak ada yang lebih berkuasa selain Tuhan di dunia ini. Kita semua hanya boleh tunduk pada kedaulatan Allah. Menjadi pertanyaan bagi mereka yang mendoktrin; apakah kita akan tunduk kepada kekuasaan dunia yang cenderung bersikap tidak adil dan tidak menyelamatkan jiwa, ataukah kita tunduk kepada Allah yang adalah kasih dan adil serta sumber keselamatan? Kedaulatan Allah jauh melampaui kekuasaan dunia yang semu. Dengan menyatakan kedaulatan Allah berarti memproklamirkan suatu pengakuan iman terhadap kebesaran Tuhan atas seluruh ciptaan. Agen Peubah yang Harus Siap Diubah Generasi muda dalam dirinya sendiri memiliki tiga opsi: pertama, menjadi agen peubah yang di dalamnya generasi muda mempengaruhi sistem demi memperahankan nilai-nilai kemanusiaan; kedua, menjadi penonton dari sitem yang dijalankan oleh sistem yang sewenang-wenang, dan ketiga, menjadi korban dari sistem tersebut. Tentunya, opsi pertama yang dikedepankan. Karena apa? Sepak terjang generasi muda yang memiliki kekritisan, reasonable dan visi yang selalu jauh ke depan adalah modal (human capital) yang memberi dasar bagi suatu perubahan. Sayangnya, generasi muda sekarang cenderung arogan. Arogansi intelektual yang memposisikan diri paling tahu segala hal, pada saat yang sama menjadi batu sandungan bagi keilmuannya sendiri. Kenapa demikian? Karena ia tidak rendah hati. Saya mau bilang satu hal, kerendahan hati itu anugerah, bukan dibuat-buat. Kita melihat di luar sana banyak orang berpura-pura rendah hati. Padahal itu hanyalah topeng dari keserakahan dan egoisme yang diperhalus. Betapa sering generasi muda membangun menara gadingnya sendiri melalui keegoan ilmu yang terkristalisasi melalui bahasa-bahasa mereka yang hanya dipahami dalam dunia akdemik dan berusaha membenarkan segala sesuatu dengan justifikasi-justifikasi scientific. Padahal, mereka sendiri belum tentu memahami apa yang mereka ungkapkan dan mereka juga tidak mengerti kriteria-kriteria scientific. Adalah suatu kebenaran bahwa menjadi agen peubah harus kritis. Bahkan saya bilang bahwa seorang agen peubah harus benar-benar kritis pada hal-hal yang prinsipil. Dan untuk kritis pada hal-hal yang prinsipil, no compromise. Apa itu hal-hal yang prinsipil? Hal-hal yang prinsipil adalah nilai-nilai luhur bagi kemanusiaan manusia. Apa saja nilai-nilai itu? Nilai-nilai itu ialah kebebasan, keadilan, kasih, kesamaan dan persaudaraan. Untuk nilai-nilai itulah generasi muda dipanggil untuk mentransformasi sistem yang mendelegitimasi (mengabaikan atau meremehkan) nilai-nilai itu. Bahwa kita punya free will! Ya. Saya sangat setuju dan bahkan mendukung hal itu. Tapi satu hal yang perlu generasi muda sadari bahwa kebebasan yang kita miliki bukan sebagai suatu kemutlakan. Kita punya sistem, kita punya aturan main. Marilah kita berproses dalam sistem itu. Dalam sistem itu kita mampu memberikan sumbangan yang menghasilkan regulasi yang bermakna bagi kesejahteraan bersama. Kita jangan mengambil sikap oposisi lalu bertindak secara destruktif. Justru cara-cara itu sangat tidak elegan, tidak mencerminkan generasi muda sebagai kaum intelektual yang bermartabat. Ada semacam sindirian bahwa generasi muda (baca: mahasiswa) terlalu idealis. Saya kurang setuju dengan ungkapan itu. Dalam hemat saya, idelisme itu perlu. Idealisme yang saya maksudkan disini bukan paham tetapi nilai yang diakui bersama dan hendak diusahakan untuk dicapai. Nilai-nilai itu adalah visi yang harus drive dengan misi-misi yang tepat. Misi-misi harus diterjemahkan dalam aksi nyata. Tetapi jika dikatakan kalau mahasiswa terlalu teoritis! Saya agak setuju. Kenapa agak? Pendapat saya begini! Ada kecendrungan di bangku kuliah dan mahasiwa sendiri, untuk menghafal paham dan teori yang muluk-muluk. Sayapun kagum ketika teman saya mengatakan menurut ini dan itu. Tapi apakah dia paham maksudnya? Belum tentu! Karena dasarnya menghafal. Nah, kalau sudah tidak dipahami, bagaimana mengaplikasikannnya? Disinilah masalahnya. Kecendrungan suka menghafal teori ini menciderai keilmuan yang ia geluti sendiri. Lalu untuk mencari pembenaran terhadap kemampuannya untuk menghafal teori, dibuatlah semacam pembagian bahwa kami yang kaum intelek (baca: sarjana) bekerja dengan otak, sedangkan mereka yang pendidikannya rendah, kerja fisik. Adakah pembagian semacam itu? Mari kita tinjau dulu! Soren Kierkegaard pernah mengatakan bahwa...”si ahli pikir dan ahli berkhayal yang mempunyai angan-angan dan merenungkan kemungkinan hidup, tetapi jika ia tidak mempunyai pekerjaan tertentu, ia tidak akan mencapai apapun dalam hidupnya”. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tidak ada kerja yang tidak menggunakan akal dan fisik. Seorang petani harus berpikir bagaimana mengolah tanah yag baik agar dapat mendapatkan hasil panen yang memuaskan. Tidaklah heran jika pengetahuan seorang tani bisa mengalahkan pengetahuan seorang sarjana. Bisa ditebak alasannnya. Alasaannya, karena sang petani memperoleh pengetahuan dari pengalaman-pengalaman sendiri, sedangkan pengetahuan sang insinyur berasal dari buku yang dikonsepkan menurut rasionalisasi dan bukan berdasarkan pengalaman empiris. Saya mau bilang satu hal .... hendaklah kita berpikir dengan tangan. Oleh karena itu, untuk menjadi agen peubah, kita harus benahi pola pikir. Pola pikir mempengaruhi dan menentukan pola tindak. Kalau pola pikir kita masih kacau, maka bisa jadi pikiran orang lain yang masuk dalam kepala kita dan kita bertindak berdasarkan pola pikir orang lain. Bahkan dengan tanpa kita sadari, kita pikir bahwa kita bertindak atas dasar dorongan pikiran kita sendiri, padahal kita sebenarnya bertindak berdasarkan apa yang diharapkan untuk ditindaklajuti. Paradoks Kaum Muda: Antara Cita-Cita dan Realita Pemuda Indonesia mencirikan sebuah identitas kebangsaan sekaligus pemegang otoritas, pemegang amanat dan mandat atas nama sebuah “cita Indonesia”, demikian tulis Munawar Fuad Noeh. Tulisan ini mau menggugah kembali kesadaran kaum muda yang telah redup karena berbagai depolitisasi dan globalisasi yang mengarah pada sikap pragmatis dan hedonisme. Dengan pernyataan Noeh di atas, secara psiko-sosial pemuda mempunyai pengaruh dan bobot yang sangat diperhitungkan dalam merepresentasikan arah dan wujud sebuah komunitas yang bernama Indonesia umumnya, dan Sumba khususnya. Hal ini didasarkan modal dasar pemuda yang dimiliki pemuda, yakni perubahan. Perubahan yang dicita-citakan ini diperkuat oleh kekuatan moral, intelektual, profesional dan spirit perjuangan. Sejarah mencatat, perjuangan kaum muda dalam akselerasi waktu demi kemerdekaan benar-benar termanifestasi dalam suatu kesatuan moral (bermuatan politik) atas nama keprihatinan. Tahun 1908, 1928, 1945 dan 1998 adalah periode waktu yang sangat penting dimana pemuda memiliki andil dalam mengacaukan dan melumpuhkan segala bentuk dehumanisasi (tindakan tidak memanusiakan) dalam satu semangat yang bernama Nasionalisme. Namun sayang, situasi saat menunjukkan keredupan dalam spirit itu. Kita cenderung berpendapat bahwa hal itu hanyalah buang-buang waktu, sebab sebagai orang muda apa yang dapat kita ubah? toh yang ”berkuasa” hanya mengatakan kita anak kecil! Juga mengenai korupsi dan kebobrokan-kebobrokan lain, buat apa berkoak-koak! Memangnya kita punya kuasa untuk mengubahnya? Jangan-jangan kita dituduh subversi, dan bukankah itu berarti merusak periuk nasi kita sendiri? Sebaiknya kita realistis saja! Demikianlah kita meredam suaru hati kita dengan suatu `hikmat` gadungan. Budaya konsumerisme yang didorong oleh hedonisme (kenikmatan), sedang menggerogoti generasi muda secara internal. Masalah serius yang menentang kita saat ini, terletak pada manipulasi-manipulasi kebutuhan yang tidak kita sadari. Ada semacam kebutuhan palsu yang kita hidupi. Sebagai contoh, dulu orang suka makan ayam goreng yang ada di warung-warung makan, tetapi sekarang orang lebih suka makan ayam goreng di KFC dan atau Hamburger Mc Donald. Makan di KFC dan Mc Donald belum dengan sendirinya kebutuhan palsu. Tetapi menjadi palsu, jika dia sebetulnya ingin makan ayam goreng di bu Jum, misalnya, tetapi demi gengsi, karena itu trendy, maka harus makan di KFC atau Mc Donald. Kita menjadi kacau dengan apa yang kita nikmati. Apa yang saya katakan di atas, masih sederhana. Yang menjadi masalah ialah bahwa saat ini generasi muda sudah dimanipulasi oleh promosi dan iklan, sehingga ia ”berbelanja demi untuk berbelanja”. Bukan ia butuh baju, lalu pergi beli baju bagus. Kebutuhannya adalah shopping. Saat ini bait-bait suci sudah digantikan dengan bait-bait raksasa yang bernama mall. Shopping bukan lagi karena kebutuhan, tetapi karena shopping itu sendiri. Manipulasi merupakan hukum internal kapitalisme melalui promosi dan iklan. Hanya dengan manipulasi ini, kapitalisme dapat terus memacu kita untuk membeli lebih banyak lagi, lebih baru lagi, lebih hebat lagi. Kita menjadi ketagihan seperti orang kecanduan narkotik. Dengan demikian, betapa gawatnya situasi ini apabila kita membiarkan diri termakan oleh konsumerisme. Ada dua segi yang gawat dari konsemerisme itu. Pertama, orang akan kehilangan kepedulian sosial. Ia begitu asyik untuk mengikuti dorongan membeli yang lebih, sehingga ia tidak lagi merasakan bahwa ada saudara-saudarinya yang kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi. Yang lebih parahnya lagi, penderitaan orang lain, ketidakadilan yang terjadi dan masalah-masalah urgen lain, dirasakan sebagai gangguan. Kedua, ia menjadi terasing dengan dirinya sendiri. Ia semakin termanipulasi, yang ia kejar bukan lagi yang betul-betul ia butuhkan, bukan apa yang sungguh-sungguh diminatinya, melainkan apa yang disugestikan kepadanya melalui promosi dan iklan. Masalah lain yang yang juga sangat penting ialah kualitas SDM yang masih jauh tertinggal. Menurut data UNDP tahun 2004, mutu SDM Indonesia berada di urutan ke 111 dari 175 negara, dimana peringkat ini setara dengan Vietnam. Data demografis Indonesia pada tahun 2004 menunjukkan bahwa pemuda merupakan bagian terbesar dari total penduduk Indonesia yakni sekitar 80,7 juta jiwa atau kurang lebih 37,2%. Sebagian besar dari pemuda tersebut berasal dari kelompok berpenghasilan rendah. Dari sudut pendidikan, pemuda yang termasuk dalam kategori penghasilan rendah itu, tidak dapat melanjutkan studi (drop out) sehingga kualitas SDMnya rendah dan sulit bersaing. Realitas ini, tentu saja akan membawa berbagai persoalan dengan segala kompleksitasnya. Secara sosial, kenyataan ini berpotensi menciptakan disharmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Suatu Gebrakan Praktis Realitas seperti yang telah dijabarkan di atas bukan menjadi penghalang untuk menjadi mandeg. Kelesuan dan keredupan yang ada harus dicairkan dan dicerahkan dengan aksi yang berdampak kemanusiaan. Kita jangan menunggu Ratu Adil dan Juru Penolong yang hanya dijadikan ilusi untuk mengganjal kehampaan dan kelesuan masa depan. Kita generasi muda, adalah pion yang kokoh yang harusnya ada untuk menjawab ketidakpastian, kekhawatiran dan keapatisan yang ada di masyarakat. Bagaimana caranya? Saya mengajukan dua solusi alternatif. Alternatif pertama berupa konsolidasi dan radikalisasi kaum muda dan solusi kedua, dengan konsolidasi itu, kita bergandengan tangan dengan pemerintah untuk memanusiakan manusia dan menghadirkan kerajaan Allah di dunia. Untuk solusi pertama, saya mengajukan beberapa indikator penting:
Sedangkan dalam kaitannya dengan pemerintah, saya mengajukan beberapa indikator pula:
|




Komentar
RSS feed untuk komentar posting ini.