Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Sab 19 May 2012
Banner

Ngana, wenn ich wuesste wo W'arttemberg ist, wuerde ich Dich sirih pinang mitnehmen

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Yongky HS   
Selasa, 23 September 2008 19:37

Selalu kubawa buku agenda pemberian Ngana kemana pun aku pergi. Di Bandara Soekarno-Jakarta  kutulis-tulis sambil menanti pesawatku berangkat menuju Frankfurt-Jerman. "An…masih ingat Tubuk? Ia sampai kini masih menyebutmu dengan lengkap Rambu Ngana. Katanya ia menemukanmu di internet. Benarkah kau tinggal di Jerman? Wah tak nyangka ya bisa terdampar di negeri orang? Di manakah kau tinggal An? Jauhkah tempatmu dari desa Langenbroich? Eh tentu kamu juga bertanya-tanya bagaimana aku bisa tahu Langenbroich ya? Kalau Tubuk benar mau mengirimkan suratku untukmu lewat internet mungkin aku sudah dalam perjalanan menuju Langoenbroich, suatu desa di Jerman yang terkenal karena di desa inilah dua peraih Nobel sastra  pernah bertemu; Henrich Boll dari Jerman dan Alexander Solzhenitsyn dari Soviet. Agus R. Sarjono yang mencritakan itu padaku. Dan kau masih ingat kan An, kalau aku selalu ingin jadi sastrawan? Walau kenyataannya aku hanya bisa menggubah Lodu  Nyelung  dan Lodu Pamalangu …..”

Setiba di Bandara Frankfurt kepalaku masih terasa pusing, maklum baru dua kali ini aku naik pesawat. Dulu pernah aku naik pesawat dari Sumba menuju Jakarta untuk hadir di Anjungan Budaya Sumba Timur di Taman Mini.

Ya, aku hadir disana atas permintaan Pemerintah Daerah untuk menyanyikan lagu-lagu Sumba dengan iringan Jungga. Kali ini bukan karena kemampuanku menyanyikan lagu Sumba dengan iringan jungga yang menghantarku sampai ke Jerman. Ini semua lebih karena Tubuk-lah yang memperkenalkanku dengan sutradara film Surat Untuk Bidadari.

Tubuk mempromosikanku lewat internet untuk jadi seniman-seniman daerah yang  diajak Garin Nugroho untuk menghadiri Berlinale Film Festival.

“Kau ingat Om Garin An? ternyata aku sudah lama  ‘mengenalnya’ sewaktu dia membuat film Surat Untuk Bidadari aku selalu diajak kesana-kemari tatkala syuting. Aku tak tahu peranku waktu itu, kita  masih kelas satu SMP. Hanya seingatku akulah yang selalu menerjemahkan jika Garin tak bisa berkomunikasi dengan orang-orang di kampung kita. Dan tentunya kau  masih ingat An, Garin sering berkunjung ke rumahmu karena ayahmu adalah tokoh adat di kampung kita. Sampai sekarang aku masih memanggil ayahmu dengan sebutan Bapa Raja”.

“Dan selanjutnya aku justru diperkenalkan pada Agus S. Sarjono oleh Om Garin. Agus S. Sarjono itu  penyair yang pernah berkunjung ke kampung kita bersama-sama dengan Taufik Ismail yang pernah menulis puisi; Beri Daku Sumba. Kamu tau itu semua kan An?.Agus mengajakku untuk tinggal bersamanya di Heinrich Boll Haus, tempat di mana para sastrawan dunia diundang untuk tinggal dan berkarya di sana. Dan sebenarnya Agus S. Sarjono memintaku untuk mengiringi dia membacakan puisi. Entah apa istimewanya permainan jungga pemberianmu itu An. Aku hanya diminta memainkanya sementara dia membacakan sajak-sajak yang tak kumengerti juga maknanya”

“Akhirnya aku sampai juga di Jerman. Astaga An, betapa dinginnya negeri ini. Untunglah kubawa beberapa hinggi untuk membalut tubuhku. Dan ternyata Langenbroich hanyalah sebuah desa tak beda jauh dengan kampung kita An. Bau kotoran hewan sama seperti bau tanah di bumi Marapu kita. Aku dan Agus S. Sarjono menginap di sebuah tempat yang bagiku malah seperti kuil. Ada tungku penghangat di tengah-tengah bangunan itu. Aku teringat kebiasaan kita mengumpulkan  dan membakar ilalang kering untuk berdiang dan mengusir agas. Agus S. Sarjono berdiskusi dengan beberapa ssastrawan dari manca negara. Tapi aku taktahu apa yang mereka diskusikan, maklumlah An, kau tahu kan aku hanya mengenal Bahasa Indonesia dan Hilu Humba”

Sudah empat hari aku menemani  Agus S.Sarjono di Heinrich Boll Haus, setiap hari kerjaku hanya memainkan jungga sambil sesekali kutuli-tulis di agenda pemberian An. Aku juga membawa sirih-pinang, Agus S. Sarjono selalu memandangku heran tatkala kunikmati sirih-piang. Suatu kali kucoba tawarkan dan dia hanya tersenyum.

Lain halnya  dengan Agus, selama empat hari kerjanya hanya diskusi dengan para sastrawan, menghadap laptop membalas e-mail dan menulis. Jika kulihat dia tengah asyik mengahadap laptop, diam-diam aku memaki diriku sendiri. Mengapa tiada kumengerti tentang, computer, laptop, email, internet  dan segala hal yang berkaitan dengan komputer. Andai kutahu pasti aku juga bisa menjumpai An di internet seperti yang diceritakan Tubuk padaku.Pasti aku bisa mengerti khabarnya, di mana tempat tinggalnya, apa ia sudah bersuami? Dan mungkin bisa kubawakan oleh-oleh pinang muda kesenangannya. Tapi benarkah An ada di jerman seperti yang dikatakan Tubuk padaku? Aku tak tahu.

*

Malam itu Langenbroich diselimuti dingin yang bener-bener dingin. Tanpa sirih pinang mungkin sudah membeku tubuhku. Kumainkan junggaku dan Agus S. Sarjono sibuk di depan laptopnya. Ia memintaku untuk terus bermain jungga sambil bernyanyi. Agus semakin serius mengetik sambil tiada henti menghisap rokok kegemarannya.

Selesai kunyanyikan lodu papahangu, agus menghampiriku: “Khudu…lihatlah jauh ke sana, di balik bukit itulah kita akan pentas. Itu kota Duren, di sana ada gedung pertunjukan yang yang cukup terkenal”

“Pentas apa Om?”, tanyaku.

“Pentas puisi kita to..saya baca puisi, kau nyanyikan lagu-lagumu itu. Bule-bule di di sana  pasti akan terlena mendengar permainan musikmu”.

“Puisi kita? Jadi Om Agus akan bacakan puisi saya juga? Om Agus ngerti baca bahasa Sumba?”

“Bukan begitu Khudu…., kubacakan puisiku, kau mainkan musikmu! Eh…memangnya kau menulis puisi juga?”

“Kadang-kadang Om!”

“Oh ya? Pasti di bukumu itu penuh puisi ya. Boleh kulihat?”

Kusorong buku agenda pemberian Ngana milikku, pada Agus. Ia membalik-balik lembar demi lembar. Pasti tiada satupun yang ia tahu, karena semua kutulis dalam bahasa Sumba. Lebih banyak syair-syair lagu dalam buku itu. Aku tak tahu apakah syair lagu itu juga termasuk puisi. “Wah banyak juga tulisanmu!”

“Iya Om, cuma sekedar coret-coret”

“Semua dalam Bahasa Sumba, saya nggak ngerti, yang saya tahu cuma tanggalnya. Ini yang kau tulis terakhir ini apa artinya?" tanya Agus sambil menyorong kembali bukuku.

Dengan malu-malu kubacakan tulisanku itu untuk Om Agus: “Ngana….Yaka kupingu nggi W'arttemberg, Kungandhi kuta-winu lai nyummu (Ngana…Jika kutahu di mana W'arttemberg, Kan kubawakan sirih-pinang untukmu”

“Hai, siapa itu Ngana? Punya kenalan di W'arttemberg?, tanya Agus heran.

“Teman saya di kampung dulu Om. Katanya dia tinggal di W'arttemberg-Jerman. Jauh ya dari sini? Om Agus pernah ke sana?, kubalik bertanya pada Agus. Agus R. Sarjono cuma senyum-senyum menanggapi pertanyaanku.

Malam ini Langenbroich bener-bener dingin luar biasa, tapi aku kian semangat bertanya-tanya tentang W'arttemberg pada Agus R. Sarjono. Harapanku semoga tempat itu tak jauh dari sini dan Agus bersedia mengantarku ke sana, siapa tahu aku bisa bertemu Ngana di sana.

“Om, nanti kalau kita ke tempat Om Garin di Berlinale Film Festival apa melewati W'arttemberg? Itu kota besar apa kota kecil seperti Langenbroich ini?”

Agus masih tetap hanya senyum-senyum mendengar pertanyaanku, aku jadi malu untuk terus bertanya.

“Berikan bukumu, bolehkan kutulis sesuatu di situ?”

“Silahkan Om”

Setelah menulis sesuatu di bukuku, Agus mengajak kami untuk segera tidur. Kubaca tulisannya tapi aku tak mengerti artinya. Hanya kata sirih-pinang dan Bottenberg yang kutahu, yang lain terasa asing bagiku untuk sekedar membacanya, apalagi artinya.

“Artinya apa ini Om?”

“Itu bahasanya orang W'arttemberg, artinya sama tulisanmu”

“Oh ya..?” senang juga aku ternyata Agus menerjemahkan tulisanku dalam Bahasa Jerman. Kubaca ulang-ulang tulisan itu.“Khudu, ayolah kita tidur saja, besok pagi-pagi kita harus berangkat ke Duren untuk pentas” ajak Agus, membuat aku sedikit terhenyak kaget dari lamunan.

Aku segera menuju ke kamar tidur. Meski pakai mantel bulu tebal,  masih kulilit tubuhku dengan hinggi untuk mengusir dingin. Sebelum terlelap kuhafalkan tulisan Agus, mungkin sampai aku mengigau…

“Ngana……….wenn ich wuesste wo W'arttemberg ist, wuerde ich Dich sirih pinang mitnehmen….

Lewa-Waingapu, September 2008

 

 

Komentar  

 
0 #7 Guest 2009-01-20 22:37
Mas Onky,


Sampeyan iku lucu. Aku senang banget moco tulisan sampeyan. Wis iso ngomong sumba barang hehehehe.....aku arep njaluk kenalan. Pas mulih sumba, moga-2 ono waktu ketemu sampeyan.

matur nuwun
 
 
0 #6 ONKY HS 2008-09-24 23:33
Agus R. Sarjono karo Taufiq Ismail,Putu Wijaya,Hamid Djabar(alm) aku tau \"sepanggung\" pas nepaki wonge teko nang Sumba.Pramudya aku yo demen, aku tau moco bukune antarane:Bouven Digul dll,Garin aku gak kenal, sampeyan aku yo durung kenal....kapan2 yen muleh Sumba kenalan yo.....?Hoho
 
 
0 #5 nelang 2008-09-24 19:31
kulo mboten saget boso jowo mas...
wong2 terkenal panjenengan sampun kenal yo..
pernah kenal Pramoedya Ananta Toer juga?

nih org aku suka banget... inspiratif.. tp sayang beliau dah meninggal
 
 
0 #4 ONKY HS 2008-09-24 15:44
Ern..padening maknu, kareuku manda-padening.
Warttemberg, Langenbroich,Du ren,Frankurt, Berlinale Film Festival, Garin Nugroho, Agus R. Sarjono it\'s true but korelation in this story just pani anga hala-hala

Angger saget ndadosaken ingkang maos gumuyu niku sampun agawe bungahe manah kawulo....
 
 
0 #3 Cinta De Angel 2008-09-24 09:54
Kva artkkli, mtta milstni tm ei ole tta trin.


Nie jst ona?

Hur sm helst det r ett br skrftlgt.
 
 
0 #2 Cinta De Angel 2008-09-24 09:18
Ha ha funny.
But i guess this is not true story, isn\'t it?
he he
 
 
0 #1 Fatma 2008-09-24 03:30
Hmmmmm..... :-) :-) :-)
 

Untuk mengirim komentar di situs ini, silahkan login dulu, atau gunakan layanan komentar dari facebook di atas :)

Berita Terkini

Drainase Wangga & Kambaniru: Telan Anggaran Lebih dari Rp. 3 Milyar
18 May 2012
article thumbnailWaingapu.com - Banjir yang sering melanda sejumlah wilayah di Kelurahan Wangga dan Kelurahan Kambaniru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur ( Sumtim), NTT, setiap tahun, pada saat musim...
Banner