| Nggamu Kau |
|
|
| Kontributor: Yongky HS |
| Minggu, 04 Januari 2009 18:36 |
|
“Nggamu kau?” kata anak itu. “Nggamu kau?” kataku juga. “Andung!” Kalimat ini menjadi kalimat penutup cerpen saya Suanggi yang terpilih sebagai 15 cerpen terbaik Anugrah Sastra Majalah Horizon 2004 (maaf pamer sedikit, “ura mere na” ,tapi bukan gila wu’a o….). Apa sebenarnya makna dari kalimat ini? Saya sendiri sebenarnya tidaklah terlalu paham, maklum kalimat itu saya pilih karena saya sendiri kesulitan mengakhiri atau membuat ‘ending’ Suanggi. Malah istri saya berkomentar begini: “Yang suanggi itu siapa? Ranja? Atau Andung? (tokoh-tokoh cerpen) Atau jangan-jangan kau yang suanggi?”. Haha..memang komentar spontan yang lugu dan lucu, maklum istri saya tak tertarik dengan dunia sastra dan hanya sekedar bercanda.Ketika baru kenal dengan Bung Oskar (admin Waingapu.Com), ia mengatakan bahwa pernah membaca suanggi ketika masih di Jogja. Saya pikir, ah pasti ini hanyalah sekedar basa-basi terhadap kenalan baru, biar lebih akrab atau sekedar cari bahan bicara. Itu pikiran saya. Tapi ketika mulai akrab dan sering berbicang-bincang, saya coba ‘umpan’; “Bung apa yang menarik dari suangggi? Ini sengaja saya tanyakan, sekedar cari tahu apa benar dia pernah membaca ‘suanggi’. “Saya suka endingnya mas”, jawab sahabat saya itu. “Endingnya bagaimana?” Saya tanyakan seperti itu untuk mengantisipasi jangan-jangan itu hanyalah komentar ‘klise’ . Ending, alur cerita, plot, dan thema, ini hanyalah hal-hal standar dan klise dalam dunia cerpen/prosa. Ternyata Bung Oskar punya jawaban yang serius; “ Saya suka kalimat penutupnya, ‘nggamu kau’. Kalimat itu seolah mempertanyakan eksistensi saya sebagai orang Sumba yang merantau ke Jawa. Siapa sebenarnya saya ini? Untuk apa dan bagaimana sebenarnya hidup saya ini? Karena itu bahasa saya dan jarang saya dengar ketika di Jawa, rasanya begitu mengena. Makanya saya hafal betul endingnya, walau saya sudah lupa ceritanya secara keseluruhan”.Wah benar-benar tidak saya sangka sahabat saya ini punya jawaban seserius itu, padahal saya hanya mau cari tahu apa benar dia pernah baca atau tidak. Bahkan rasanya terlalu serius menikmati sebuah cerpen sampai seperti itu. Dalam bahasa Sumba, kata ‘nggamu’ memang berbeda dengan kata ‘nggara’. Kata ‘nggamu’ sinonim dengan kata ‘siapa/who’. Kalau ‘nggara’ sinonim dengan kata ‘apa/wha’t. Kebiasaan kita di Sumba untuk menanyakan nama seseorang kita gunakan kata ‘nggara’. ‘Nggara tamu, nyumu? Nggara ya na-tamu-mu?’ Sedang kata ‘nggamu/siapa’ tidak lazim untuk menanyakan nama. Tidak ada yang menanyakan nama itu menggunakan kata ‘nggamu’. Kalau kalimat ‘nggara tamu’, jawabannya singkat saja; ndilu, jangga, rambu, pingu, koba, mangi, slamet, bejo, liling, acong dll. Seperti dalam bahasa Inggris untuk menanyakan nama, kita menggunakan ‘what’. ‘What is your name?’ Bukan ‘Who is your name?’ Sedang Bahasa Indonesia kita sudah rancu dalam hal penggunaan kata ‘apa dan siapa’. Kita sering menggunakan kata ‘siapa’ untuk menanyakan nama seseorang. Pertanyaan; ‘Siapa namamu?’, jadi lazim digunakan. Padahal kalimat yang pas sebenarnya adalah; ‘Apa namamu?’. Tapi justru kata ‘apa namamu’ kini malah terasa janggal untuk menanyakan nama seseorang. Ya itu hanyalah perkembangan bahasa kita. Memang kata ‘siapa’ sebenarnya memerlukan referensi yang lebih panjang untuk diungkapkan. ‘Siapa kau/who are you/ nggamu kau’; memerlukan jawaban yang panjang, lebih sekedar identitas diri. Ada rangkaian panjang untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Ada atribut-atribut kita yang mengemuka untuk pertanyaan itu. Misalnya asal-usul kita, pekerjaan kita, keluarga kita, pangkat kita, bahkan juga obsesi dan harga diri kita dll. Siapa kita ini sebenarnya? Siapa kita ini jika tidak jadi bupati lagi? Siapa kita ini jika tak l jadi Polantas lagi? Siapa kita ini jika tak jadi anggota dewan lagi? Siapa kita ini jika tak jadi sahabat/saudara orang-orang besar? Siapa kita ini jika sudah pensiun dari pekerjaan kita? Siapa kita ini jika berhadapan dengan kebesaran Sang Pencipta? Siapa kita ini sebenarnya? Untuk pertanyaan seperti ini memang memerlukan perenungan yang panjang dan mendalam. Ambillah contoh nama-nama besar di sekitar kita, Ir. Umbu Mehang Kunda, Drs. Lukas M. Kaborang, Drh.Palulu P. Ndima dan Drs. Gidion Mbiliyora Msi. Ini hanyalah sekedar contoh nama. Siapa sebenarnya seorang Umbu Mehang Kunda dan Lukas M. Kaborang jika tak menyandang embel-embel mantan bupati? Siapa Palulu P Ndima jika tanpa embel-embel Drh dan Ketua DPRD Sumba Timur? Siapa Gidion Mbiliyora tanpa embel-embel Drs, Msi, dan bupati? Siapa kita ini, jika terlepas dari semua embel-embel yang kita miliki? Jika berhadapan dengan pertanyaan seperti itu, kita akan dihadapkan pada penelusuran jati diri kita, eksistensi kita dan perenungan yang panjang. Bisa saja kita membuat ‘resensi’ yang panjang tentang diri kita, tapi semuanya akan bermuara pada kesadaran bahwa betapa kecilnya kita di hadapan Sang Pencipta, bahkan mungkin juga betapa kecilnya kita ini di hadapan sesama, kendati memiliki beragam embel-embel. Saya menulis ini di notebook, layar monitornya memantulkan gambar diri saya sendiri. Berhenti sejenak, lalu saya coba bertanya kepada gambar saya di monitor: Nggamu kau? “Saya adalah onky hs, yongky hs, yonhs wunang, nyonk, yhs rakasiwi dan banyak nama lain yang pernah saya pakai. Terlahir dari pasangan sederhana di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Tujuh tahun sekolah di SD karena pernah tinggal kelas (nah ketahuan bahlul-nya). Tiga tahun di SMP, tiga tahun di SMA. Kuliah di fakultas Fisipol Universitas Djember tapi droup out di semester lima (ketahuan lagi ngali-nya). Bekerja di perusahan swasta dan di tempatkan di Waingapu. Ketemu jodoh juga di Waingapu lalu memiliki tiga orang putri. Tetap bekerja di perusahaan lama, punya hobi jadi penyiar di radio, jadi mc, iseng-iseng menggambar dan menulis, dan banyak resensi panjang bisa menjadi jawaban”. Itu jawaban gambar saya yang ada di layar monitor. Tapi sebenarnya nggamu kau? Kutanyakan ulang pada gambar saya di layar monitor. Jawaban yang mewakili sisi negative mulai bermunculan menjadi resensi panjang yang tak kalah panjangnya. Maaf tidak perlu saya tuliskan di sini. Kemudian resensi lain mulai bermunculan mewakili keraguan terhahap ‘eksistensi’ diri. Apa artinya saya sebagai seorang anak, suami dan bapak? Apa artinnya saya sebagai teman, sahabat, saudara dan anak mantu? Apa artinya saya sebagai seorang karyawan, sebagai umat beragama? Sudahkah saya memainkan peran yang layak? Tak usah peran yang baik atau benar, cukup layak saja. Sudahkah saya memerankan dengan layak semua peran yang menjadi bagian saya? Tetapi gambar ‘saya’ di monitor hanya ‘hanganga’, tenggelam dalam lamunanya sendiri. ‘Nggamu kau? Nggamu kau? Nggamu kau?’ bertubi-tubi menyerang dengan gencarnya laksana ribuan peluru yang hendak melumatkan diri saya. Memang pertanyaan seperti ini sering muncul di saat kita berusaha merenung menemukan jatidiri. Momen akhir tahun sering menjadi momen kita untuk menelusuri diri pribadi. Apa yang telah kita perbuat selama setahun ini? Dan apa yang akan kita perbuat di tahun-tahun mendatang. Sejuta angan-angan, sejuta rencana dan sejuta harapan pun mulai bermunculan, menjadi renungan pribadi saya. Lelah juga untuk menyelami jawaban dari pertanyaan ‘nggamu kau’. Sejenak saya tutup notebook agar gambar saya di monitor tidak balik bertanya kepada saya. Lalu rehat sejenak agar bisa menyelesaikan tulisan ini supaya layak dibaca orang, minimal layak untuk saya baca sendiri. Kemudian melakukan kebiasaan saya yang sering diprotes anak-istri: merokok. Sebatang rokok sudah saya habiskan, dan saya buka kembali notebook untuk meneruskan tulisan ini. Tapi sayang, otak saya tambah ‘kalukut’ untuk menyelami jawaban dari pertanyaan, ‘nggamu kau’. Saya malah menemukan pertanyaan yang lain; ‘nggiki?Nggiki hama? Nggiki yana? Nggiki wamu? Nggiki u-palaku ya na-lurimu?’ Wah apalagi ini? Memang terlalu panjang dan dalam untuk menyelami jati diri atas pertanyaan ‘nggamu kau?’ Dan itu justru memunculkan pertanyaan-petanyaan lain yang lebih panjang lagi. Sementara bagi saya pertanyaan yang lebih penting adalah; Bagaimana? Bagaimana ini? Bagaimana menurut Anda? Bagaimana menjalani hidupmu? (ini terjemahan kalimat tadi). Jawaban atas pertanyaan ini bagi saya memberi jawaban atas ‘eksistensi diri’ dengan bagaimana kita memerankan peran kita. Bagaimana kita jalani hidup ini sebagaimana kita harus menjalaninya? ‘Mala-nu, nggiki wamu-ka?!’ Lelah saya menyelami jawaban atas pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Sekarang saya ingin mencoba menanyakan kepada Anda, barangkali Anda menemukan jawaban yang lebih bagus. Paling tidak itu untuk Anda sendiri. Saya ulang pertanyaan-nya: ‘Nggamu kau?’ Waingapu, 20 Desember 2008 Catatan: Hanganga: tercenung/bengong Kalukut: ruwet/lusuh Mala-nu, nggiki wamu-ka?!: (Nah, bagaimana menurut kamu?! Bahlul/ngali: bodoh |




Komentar
penulisny mempunyai karakter berjiwa sumba.. buat mas yongki sukses ya.. salam kenal aja dari saya.. siapa tau nanti bisa jadi penulis di majalah sumba..hee..
semangat ya mas.. God blezz us
Sambil baca.. sambil pikir... sambil....
Sa sapa?
Setiap orang adalah pemimpin. Berbahagialah yang bisa memimpin dirinya sendiri, minimal. Pertanyaan: Sa sapa? jadi penting...
Orang yang tau dia itu sapa, lebih mudah jadi pemimpin. Yang tir tau, lebih cenderung jadi penguasa...
Banyak orang penting, tir tau dia sapa...
jadi, untuk tau kita ini sapa, perlu menanyakan pertanyaan2 ini pada dirinya sendiri : Kenapa saya dilahirkan? Kenapa saya ada disini, bukan disana? Apa isu yang paling penting buat saya hari ini? Sapa orang yang paling saya cinta, dulu, hari ini, dan nanti? Untuk apa saya ada disini? dan masih banyak lagi..... +++%%^^%ada korslet ini*&()#$%#^^^^^ mo pi ambil solder doeloe, he..he...he...
Kalo suanggi, sekarang masih ada suanggi di Waingapu ko?????
Tanya sa................
sambil baca ceritanya kita bisa bayangin sumba.
saya senang sekali setelah membaca cuplikan di atas karena menyadarkan kita betapa pentingnya bahasa kita.
sukses buat yongki karena sudah mengangkat artikel ini yang bisa membangkitkan rasa cinta terhadap bahasa sumba khususnya sumba timur. saya sebagai seorang mahasiswa ingin sekali seperti yongki ketika tamat nanti kita bisa perjuangkan bersama kemajuan daerah kita sumba timur.
mata wai amahu
pada djara hamu
malla ka ta pahama dabba ka ta pahada nya na humba kapeku hamu na welingu la ma lapahu.
RSS feed untuk komentar posting ini.