| Pakabala Oto Makan Rumput |
|
|
| Kontributor: Yongky HS |
| Kamis, 05 Maret 2009 04:00 |
|
Mantan sopir oto truk pernah berkisah; “Dulu waktu saya bawa oto truk ada kejadian lucu. Saya punya bos perintah sama saya supaya cari rumput yang banyak untuk bekal kawal sapi di kapal. Sedang waktu itu saya hanya bawa satu ‘kleider’, kapan bisa penuh ini oto? Akhirnya saya pigi ke kampung di arah Tanarara sana. Begitu berhenti oto, anak-anak su kerumun saya punya oto, dorang minta mau naik oto. Saya putar otak, saya bilang sama dorang ini oto bisa jalan kalau kita kasih makan rumput. Anak-anak dorang percaya semua. Dorang rame-rame potong rumput muat di saya punya oto, maka tidak lama penuh sudah saya punya oto. Lalu dorang saya bawa putar-putar sedikit dengan saya punya oto. Dorang su senang, saya ju jadi ringan, oto penuh memang dengan rumput”.Kisah-kisah seperti di atas sering kita dengar dalam obrolan tentang banyolan alias hal-hal lucu. Kebodohan, ketidaktahuan dan keterbelakangan sering jadi bahan empuk untuk banyolan yang tak ada habis-habisnya. Kadang hanya sekedar lucu, kadang juga sangat ironis tapi juga kadang sarat dengan nilai-nilai filosofis. Humor-humor seperti itu kita sebut sebagai anekdot. Seperti kisah-kisah Nasrudin atau Abu Nawas. Kembali ke kisah sopir oto tadi, itu bisa jadi cuma gurauan belaka, bisa jadi pula ia mendramatisir kejadian sesunguhnya. Tapi bisa pula itu adalah kisah nyata. Bagaimana kita menanggapi kisah seperti itu? Pertama, pasti kita akan ikut tertawa, minimal senyum-senyum. Mungkin juga ada sedikit keprihatinan karena sebenarnya ini kisah-kisah ekploitasi kebodohan. Tapi dalam situasi nyata, tak jarang malah kita juga tak mau kalah lalu menceriterakan anekdot serupa. Sedikit sok moralis, saya menaggapi kisah itu begini; “Wah hebat, kalau nyumu punya bos suruh cari rumput lagi pasti nyumu ajak lagi itu anak-anak. Dorang yang potong rumput, tapi nyumu yang terima uang ongkos dari nyumu punya bos?”, tanya saya. “Hah itu dulu, memang kadang begitu juga. Tapi kalau sekarang mana bisa, semua su pintar-pintar mana bisa kita ‘pakabala’ begitu”, balas mantan sopir oto. Sekarang kita bisa terusik dengan pernyataan sopir itu tadi; benarkah kita ini sudah pintar dan gak bisa ‘dipakabala’ lagi? Urusannya apa dulu? Kalau urusan oto makan rumput jelas saja kita tak mungkin tertipu. Anak-anak TK saja barangkali akan bilang kita gila kalau kita bilang oto bisa jalan karena dikasih makan rumput. Tapi kalau urusanya tentang kesejahteraan, tentang pembangunan, tentang keuangan dan lain-lain, barangkali kita ini masih gampang dipakabala. Paling tidak kita harus waspada karena seringkali dihadapkan dengan ‘pakabala’ tentang hal-hal tersebut. Apalagi musim kampanye menjelang Pemilu seperti ini, ‘pakalaba’ dalam bentuk rumor mudah muncul di mana-mana. Belum lagi dalam bentuk visi, misi yang indah-indah dan diungkapkan dengan berapi-api. Semua hal-hal seperti itu bakalan sering menghampiri kita setiap saat. Kadang tanpa telaah dan pikiran kita terima begitu saja sebagai sebuah harapan yang menjanjikan. Kalau masih dalam kadar yang bisa diterima nalar, hal itu wajar-wajar saja, tapi bila gak bisa diterima nalar namun juga bikin gentar, ini yang repot. Tahun 2008 lalu kita dibuat kalang-kabut oleh naiknya harga BBM yang berdampak pada naiknya segala macam kebutuhan pokok, kita dibuat klenger karena kenaikan itu tak bisa kita elakkan. Kenaikan yang terimbas oleh naiknya harga minyak dunia ini akhirnya membuat kita harus menerima kebijakan pemerintah untuk menaikan harga BBM. Bahkan pemerintah, dalam hal ini presiden, siap tidak populer karena kebijakan menaikan harga BBM. Kini setelah harga minyak dunia turun meskipun dunia sedang dilanda krisis, anehnya propaganda salah satu partai peserta pemilu justru membanggakan SBY, sebagai prestasi telah menurunkan harga BBM sebanyak tiga kali dalam satu periode tertentu. Memang pada akhirnya harga BBM benar-benar turun. Tapi apakah ini sebuah prestasi kalau kenyataannya itu hanyalah imbas dari turunnya harga minyak dunia? Turunnya BBM kita masih belum dibarengi oleh stabilnya kondisi ekonomi, krisis masih berjalan akibat naiknya harga-harga diluar BBM. Waktu BBM naik harga-harga barang dan jasa serta merta ikut naik. Tapi ketika BBM kita turun dalam tiga tahap, tidak serta-merta harga-harga kebutuhan pokok kita ikut turun. Lucunya lagi, turunnya BBM justru membuat naiknya pamor SBY, itu yang diharapkan tim sukses SBY dibalik kampanye yang lagi gencar-gencarnya di masa kampanye legislatif 2009 ini. Bagi saya pribadi, mungkin juga bagi kebanyakan rakyat Indonesia, tanpa propaganda aneh ini pun sebenarnya, senyum dan gaya bicara SBY masih cukup memikat. Oto memang butuh minyak, dan minyak kita; bensin dan solar sudah turun harga. Tapi kalau kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM sebanyak tiga kali itu sebagai suatu prestasi yang patut dibanggakan, ini namanya; oto makan rumput seperti akal-akalannya mantan sopir oto tadi itu. Itu namanya ‘pakabala’..... Waingapu, 17 Januari 2009 Catatan: Oto: mobil Dorang: mereka Kleider: pengawal hewan di kapal Nyumu: kamu/anda Pakabala: omong kosong/ menipu/ membodohi |




Komentar
RSS feed untuk komentar posting ini.