Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Sel 07 Februari 2012
Banner

Parade Puisi Max Mini-stage

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Yongky HS   
Senin, 24 Agustus 2009 02:39

Tiba-tiba saja saya memiliki ‘PR besar’ yg harus dipikirkan untuk menggelar even sastra yang terbilang langka di Sumba ini. Menggelar parade puisi yang dihasilkan oleh orang-orang Sumba adalah ‘mimpi’ lama yang pernah ada. Persoalannya menjadi rumit ketika mimpi ini hampir menjadi kenyataan.

Berawal ketika mimpi ini saya sampaikan pada sobat saya Heinrich D Dengi boss Max FM beberpa bulan lalu. Diluar dugaan Heinrich menyambut antusias mimpi saya itu dan siap mendudukung untuk mewujudkannnya. Padahal di bulan September ini kami (bersama rekan-rekan di www.waingapu.com) masih punya PR lain yaitu mengajak orang untuk menulis. Tapi tak apalah, ini pun bisa dijadikan bagian dari upaya mengajak orang untuk menulis, meski lebih spesifik yaitu puisi.

Dan inilah sambutan sahabat saya itu, "Asal kau serius, saya siap t’tanam kaki. Ayo buat apa saja yang penting bisa jadi kontribusi untuk Sumba!” Lalu pertanyaannya adalah, apakah menggelar parade puisi bisa disebut sebagai upaya memberi kontribusi bagi Sumba? Baik, mungkin terlalu berlebihan bila ini disebut sebagai kontribusi, tapi untuk sementara saya setuju dengan rekan Heinrich; “Kita kerjakan saja apa yang bisa kita kerjakan”. Sejalan dengan misi Radio Max FM, berupaya memberi kontribusi maximal, maka parade puisi itu kita beri judul: Parade Puisi Max Mini-Stage.

Apa sebenarnya Parade Puisi Max Mini-stage? Mengapa pula menggunakan istilah Max Mini-stage? Parade Puisi Max Mini-stage sebenarnya hanyalah gelaran acara baca puisi yang nempel menjadi bagian dari aktifitas Radio Max FM. Acara ini digelar dalam rangka rangkaian gawean Max FM menyabut HUT Sumba Timur Desember mendatang. Karena digelar di Bulan September 2009 maka acara ini menjadi awal gelaran yang nantinya akan disusul dengan lomba gambar (oktober), aksi tanam pohon, dan aktifitas lain yg masih digodok pihak managemen Max FM.

Parade puisi ini juga mengutamakan karya-karya puisi yang mengandung muatan alam dan budaya Sumba dan hasil karya orang-orang di Sumba (terutama Sumba Timur) Sehingga masih sejalan dengan upaya sebagai rangkaian memperingati HUT Sumba Timur. Sedang kata ‘Max Mini-stage’ justru berawal dari lahan (halaman) Max FM yang terbilang sempit yg akan dijadikan tempat gelaran. Dari keterbatasan lahan inilah justru melahirkan ‘moto’ yg membanggakan ‘Max Mini-stage” dimaknai sebagai upaya maximal yang berangkat dari kesederhanaan dan keterbatasan.

Belum juga terlaksana acara ini, tantangan lain muncul dari seorang kawan; bagaimana jika puisi-puisi yang digelar nantinya dijadikan buku kumpulan puisi? Wah ide bagus juga ini, tapi terus terang saya pribadi tak terlalu paham tentang puisi walau juga sering tulis-tulis puisi. Sebelum jauh ke usulan yang bagus ini, langkah merekrut puisi-puisi yg layak diusung ke Parade Puisi juga jadi persoalan tersendiri. Baru dipublikasikan lewat Radio Max FM, sudah puluhan penggemar Max yang mengirimkan karyanya untuk bisa ikut dalam Parade PuisiMax Mini-stage. Awalnya kami tidak mematok ‘kelayakan’ dengan seleksi ketat, tapi mau tak mau kami panitia harus mengundang orang-orang yang kompeten untuk menyeleksi layak tidaknya untuk ikut digelar karya-karya yang sudah masuk ke meja redaksi Max FM.

Beruntung kami memiliki para ‘penyair’ yang mau terlibat di acara ini, yang secara umum sudah dikenal oleh orang Waingapu bahwa mereka memang layak disebut sebagai sastrawan. Mereka adalah Bpk. Michael Heren, Bpk. Fran W. Hebi dan Bpk. Isak Sitaniapessy serta rekan-rekan sastrawan lain yang menunggu kepastiannya untuk mau terlibat. Semoga saja lewat acara ini juga bakal menjadikan para sastrawan Sumba (Waingapu) makin intens berkarya dan sebagai ajang silaturahmi sesama insan pecinta sastra. Semoga pula lewat acara ini bakalan muncul sastrawan-sastrawan muda Sumba, paling tidak lewat acara ini bisa menumbuhkan minat dan apresiasi sastra di kalangan generasi muda.

Kita bangga memiliki seorang Umbu Landu Paranggi, tapi terus terang greget kepenyairan Umbu Landu Paranggi justru jarang diketahui dan dirasakan oleh kebanyakan orang Sumba. Kiprahnya yang mencuat di Jogjakarta sehingga di kalangan sastrawan Umbu Landu Paranggi juga dikenal sebagai Presiden Malioboro. Sastrawan-sastrawan besar semisal Taufik Ismail, Putu Wijaya, Emha Ainun Najib dan lain-lain sangat mengakui kebesaran nama Umbu Landu Paranggi di dunia per-puisi-an Indonesia. Tapi di Sumba sendiri, kenalkah kita dengan Landu Paranggi? Kenalkah kita dengan puisi-puisinya? Walau acara Parade Puisi Max Mini-stage tidak didedikasikan untuk Umbu Landu Paranggi, lewat tulisan ini kami menyampaikan Salam Hormat dan Salam Hangat dari Tana Marapu untuk Sang Presiden Malioboro: Umbu Landu Paranggi. Semoga kelak suatu ketika beliau datang ke Sumba sebagai Umbu Landu Paranggi yang penyair hebat!

Kembali ke pada Parade Puisi Max Mini-stage, acara ini akhirnya memunculkan mimpi-mimpi yang lain diharapkan kelak Max Mini-stage bisa menjadi wadah untuk menggelar aksi-aksi seni dan budaya, bukan hanya untuk parade puisi saja. Ini tentu menjadi mimpi lain yang masih jauh ke depan, tapi menilik akan semboyan bos Max FM; “Kita kerjakan apa yang bisa kita kerjakan”, saya pribadi sangat yakin, Max Mini-stage bukan hanya bakal menjadi wadah tapi justru bisa menjadi semacam trade mark dari Radio Max FM....(semoga!)

Waingapu, 23 Agustus 2009

Yongky HS (Penggagas Parade Puisi Max Mini-stage)

 

Info: Acara di gelar

Tgl : 18 September 2009

Jam : 18.00 wita

Tempat: Halaman Max FM Kampoeng Kalu-Waingapu

Disiarkan secara live oleh Max FM 96.9 Mhz

Untuk info hubungi Sdr: Heinrich D Dengi di email Alamat Email ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya

 

Komentar  

 
-1 #1 Guest 2009-08-27 06:01
selamat ya... sukses buat acaranya :))
 

Tambah komentar


Kode keamanan
Refresh