Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Jum 10 Februari 2012
Banner

PASOLA: Tradisi Kuno yang Masih Bertahan

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Admin   
Minggu, 30 May 2010 16:02

Pulau Sumba sangat indah dengan padang rumput yang membentang luas, pulaunya gersang namun sangat bersahabat dengan binatang peliharaan mereka seperti, sapi, kerbau, kambing, kuda sandlwood dan dipadati oleh rumah-rumah adat disetiap perbukitan dan lembah. Pemandangan seperti ini selalu menarik perhatian bagi siapapun yang memandangnya dan mempunyai potensi yang sangat besar untuk para pemandu wisata yang ingin tinggal lama atau menetap di pulau ini.

Pada awalnya aku ke pulau Sumba hanya sebagai wisatawan lokal, namun lama-kelamaan jadi tertarik dan betah untuk tinggal lebih lama lagi. Dengan perjalananku mengelilingi pulau Sumba yang awalnya hanya sepintas pandangan mata, namun semua itu sangat berarti bagiku dan kuanggap itu adalah pengalaman yang sangat besar demi masa depanku.

Dengan tanpa uang sepeser didompet saat itu aku coba bertahan hidup dan mengutarakan isi hatiku kepada seorang guide ternama di kota Waingapu, Sumba Timur, dan diapun rela menerimaku sebagai bagian dari keluarganya. Jasa dan kebaikannya takkan pernah aku lupakan sampai kapanpun, karena dia telah menyelamatkan aku dari keterpurukan dan mengajariku banyak hal serta selalu membawahku pergi bersamanya mengelilingi pulau Sumba.

Diawali dengan membantu memandu tamu groupnya yang yang berasal dari Travel Maluku Adventure ke Sumba Barat untuk menonton acara Pasola. Saat pertama kalinya aku melihat Pasola. Berikut ini aku ingin menceritakan Pasola berdasarkan apa yg aku lihat dan aku dengar selama pertandingan itu berlangsung.

Awal permainan Pasola dimulai dari pantai, dimana para Rato Nyale dari jam lima pagi telah membuat acara adat pemotongan ayam jantan sambil menunggu matahari terbit untuk menangkap cacing laut yang dalam bahasa sumbanya disebut "Nyale", cacing ini mempunyai bentuk tubuh yang sangat kecil dan memanjang mencapai 30 CM dan akan terlihat pada saat sinar matahari pagi mengenai airlaut. Sebelum dilakukan penangkapan Nyale, seorang Rato akan duduk di atas sebuah batu yang ada didalam air tersebut sambil memperhatikan munculnya Nyale dari dalam laut.

Apabila Rato melihat Nyale segera memberi kabar kepada Rato yang lain dengan teriakan yang disebut "kayaka". Sebuah teriakan kegembiraan bahwa pasola hari tersebut akan dilaksanakan. Sementara para Rato dan pengikutnya menangkap Nyale, pasola di pantaipun dimulai dan berlangsung selama satu hingga dua jam, lalu langsung menuju arena yang luas tempat dimana pasola pada hari itu dipertadingkan. Nyale atau Cacing laut ini dimakan oleh penduduk setempat setelah direbus dengan menu atau bumbu ala mereka. Ada juga yang membawanya pulang ke rumah masing-masing dan menyimpannya untuk beberapa bulan lamanya.

Pasola adalah pertarungan antar dua tim atau grup yang berlainan kampung, akan tetapi sebagian dari pemain pasola masih ada hubungan kekerabatan dalam keluarga atau nenek moyang yang sama, dengan melemparkan lembing dari atas punggung kuda yang sedang dikendarainya dimana kudanya sedang lari sangat kencang, kurang lebih 40 km per jam. Mereka melakukannya dengan lincah dan tangkas dalam menangkis lembing yang hampir mengenai tubuhnya tetapi tetap mampu mengendalikan kudanya didalam kecepatan tinggi. Para pemain ini mengenakan pakaian adat atau pakaian traditional. Di kepalanya dilingkari dengan kain warna kuning atau merah, kemudian pada pinggangnya dililiti oleh kain sumba yang panjang dan bermotif sesuai daerahnya masing-masing.

Kuda- kuda yang ditunggangi itu seperti kendaraan bermotor saja, bisa berhenti mendadak seperti kalau menginjak rem, belok kiri dan kanan. Selama pertandingan berlangsung jika ada yang terluka ataupun meninggal, kedua tim tersebut tidak boleh saling dendam, itu pertanda keperkasaan dalam menjalankan tugas atau adat mereka.

Yang meninggal dalam permainan pasola akan disebut pahlawan pasola dan akan dikuburkan disekitar arena pertandingan. Oleh sebab itu para pemain sebelum masuk ke arena pertandingan biasanya terlebih dahulu melakukan sembayang dikuburan tersebut, memohon diberikan kekuatan atau memohon perlindungan dari para pahlawan yang telah meninggal di medan perang atau pertempuran. Doanya biasanya dengan cara meletakkan sirih pinang dan tembakau di atas kubur tersebut.

Pasola dilakukan pada bulan February dan Maret setiap tahunnya. Dan hanya ada di Sumba Barat dengan wilayah pasolanya Kodi Besar, Kodi Banggedo, Ratenggaro, Gaura, Lamboya. Wilayah ini akan melaksanakan pasola pada bulan Februari dan wilayah Wanokaka pada bulan Maret. Tempat yang diminati pengunjung lokal terbanyak yaitu Lamboya, Kodi dan Wanokaka.

Sehari sebelum pasola dilaksanakan kami menonton sebuah tradisi Fighting atau perkelaian antara dua tim yang dalam bahasa Sumba Barat bernama "Pajura". Tempat Pajura cukup jauh dari Wanokaka, ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang pantai timur Wanokaka kurang lebih dua jam perjalanan pada saat air pasang surut.

Pajura adalah sebuah tradisi tertua yang ada di Wanokaka, Sumba Barat. Pertandingan ini mirip dengan pertandingan tinju, sabuk atau sarung tangannya dibuat dari rumput ilalang, bentuknya seperti dipintal memanjang dan didalam rumput tersebut menyimpan pecahan botol atau gelas lalu melilitkan pada tangan membentuk sebuah sarung tinju. Mereka berbaris saling berhadapan dengan jarak 1 meter dengan yang lainnya. Setiap barisan memiliki 7 - 10 orang dan dikomando oleh Rato atau kepala kampung. Pertarungan antara kampung seperti kampung atas dan kampung bawah hampir sama dengan cerita pasola, mereka masih ada hubungan kekeluargaan.

Pajura membawa dapat mendatangkan malapetaka karena bila pukulannya mengenai wajah mereka akan terluka dari pecahan gelas tersebut. Pertandingan ini berlangsung aman dan sangat tertib atau disiplin, mereka boleh saling memukul pada saat dikomando oleh ketua dan masing-masing harus mengendalikan emosinya walaupun adik atau kakaknya yang terluka. Ada sedikit keanehan menurut pengelihatanku saat itu, dimana yang terluka tidak merasa sakit setelah lukanya dibersihkan dengan air laut oleh ketua adat atau Rato. Sungguh luar biasa. Magic atau kepercayaan mereka kepada Marapu (agama mereka) dalam penyembuhan itu.

Sebelum pertandingan dimulai semua perlengkapan tubuh seperti parang dan pisau dikumpulkan oleh ketua adat dan menyimpannya di tempat yang tersembunyi didalam hutan, karena takut akan terjadi hal-hal yang tidak inginkan.

Awalnya pertandingan ini tidak terbuka untuk umum, namun karena sudah terlanjur dipromosi ke dunia luar maka pertandingan ini boleh ditonton oleh wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Mengapa pajura diadakan? “karena ada rasa dendam didalam kehidupan mereka sehari-harinya, lalu melampiaskan rasa dendamnya itu kedalam Pajura”, istilah sekarang mungkin tepatnya musuh dalam selimut. Mereka boleh memukul kepada orang yang dianggap musuhnya, dengan sasaran utama hanya di bagian wajah, mirip dengan pertandingan caci di Manggarai, Flores Barat, bila mengenai wajah maka tim itulah yang menang. Dan yang menjadi penonton pada saat pertarungan berlangsung harus memberikan support.

Di pulau Sumba masih banyak perkampungan yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan bermotor, karena letak kampungnya hampir sama dipulau Flores yaitu didaerah pengunungan dan lembah. Penduduk di kampung sangat ramah. Setiap berpergian ke sawah atau ke ladangnya para prianya tidak lupa membawa parang atau tombak, sedangkan para wanita tidak lupa membawa siri, pinang dan kapur siri. Walaupun demikian, parang dan tombak yang mereka bawa, tidak digunakan untuk melakukan tindakan kriminal. Mereka sangat menghormati setiap tamu yang datang untuk mengunjungi kampung mereka.

Itulah keindahan pulau Sumba dengan budaya dan tata krama penduduknya sehingga pulau sumba selalu terlukis indah dihatiku.

 

Tambah komentar


Kode keamanan
Refresh