Pendidikan adalah Pendidikan untuk Membebaskan
Kamis, 06 Desember 2007 22:37

Belajar dari Pendidikan Hadap-Masalah a la Paulo Freire
Siapakah Paulo Freire?

Tokoh Filsafat sekaligus Pendidik, Paulo Freire, dilahirkan pada 19 September 1921 di Recife, sebuah daerah  yang paling terbelakang dan paling miskin di Brazil bagian timur laut.  Mungkin belum banyak dari kita yang mengenalnya, tapi pemikiran dan gagasannya tentang pendidikan mungkin masih sangat relevan bagi kita sekarang. Datang dari latar belakang keluarga dan masyarakat yang miskin, Freire berusaha mengubah daerahnya dan seluruh negara Brazil untuk lepas dari kemiskinan, khususnya melalui bidang pendidikan. Paulo Freire wafat pada tanggal 2 Mei 1997 di Sao Paulo, Brazil.

Karir dan prestasi yang berhasil diraihnya antara lain: Kepala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam Lembaga Pelayanan Sosial Negara Bagian Pernambuco (1946), Direktur Departemen Kebudayaan Universitas Recife (1961), Profesor Tamu di Universitas Harvard, AS (1969). Selain itu ia menulis sejumlah karya dalam bidang pendidikan, salah satunya Pedagogy of the Opressed (Pedagogi Pengharapan) pada tahun 1970. Freire juga memperoleh sejumlah penghargaan dari berbagai badan Internasional, seperti: Penghargaan dari King Baudouin International Development 1980 dari Universitas Calgary, dan penghargaan PBB dalam bidang pendidikan pada tahun 1980.

Latar Belakang Pemikiran: Banking-System Education/Pendidikan Sistem Bank

Freire menilai proses pendidikan yang umumnya dijalankan cenderung kurang melibatkan peran aktif para peserta didik. Ia menyebut pendidikan di sekolah sebagai sebuah sistem pendidikan ala bank. Dalam pendidikan model ini, Freire melihat bahwa para pendidik adalah pihak yang aktif, seolah-olah bertindak sebagai penabung, dan peserta didik hanya pasif menyimpan ilmu yang diberikan oleh pendidik. Freire mengemukakan beberapa ciri antara lain sebagai berikut:

  1. Guru mengajar, murid diajar

  2. Guru mengetahui segalanya, murid tidak tahu banyak

  3. Guru berpikir, murid dipikirkan

  4. Guru bercerita, murid mendengarkan

  5. Guru membuat peraturan, murid diatur

  6. Guru mengkombinasi kewenangan ilmu pengetahuan dan jabatannya untuk menghalangi kebebasan murid.

  7. Guru sebagai subyek aktif, murid sebagai obyek pasif.

Pendidikan model bank ini dikritik oleh Freire dengan menyebutkan bahwa pendidikan model ini, seperti yang umumnya terjadi, berakibat tidak manusiawi. Artinya pendidikan macam ini tidak semakin memanusiakan manusia (peserta didik). Proses pembelajaran di kelas pun hanya berjalan satu arah, monologal, hanya dari guru kepada murid. Padahal seharusnya, menurut Freire, pendidikan hendaknya bersifat membebaskan dan berjalan dua arah (dialogal).

Sumbangan Pemikiran: Pendidikan Hadap-Masalah/Problem-Posing Education

Sebagai ganti pendidikan model bank, Freire mengusulkan pendidikan yang lebih humanis dan revolusioner.  Ia menyebutnya dengan istilah pendidikan hadap-masalah (problem-posing education). Dalam pendidikan model ini, Freire ingin mengangkat sisi keaktifan para peserta didik dalam proses belajar-mengajar. Para guru/pendidik hanyalah merupakan pendamping para peserta didik untuk akrif terlibat dalam memperoleh pengetahuan. Dalam belajar mengajar, harus terjadi dialog dua arah, sehingga tidak tertutup kemungkinan mengembangkan semangat kritis para murid serta persaingan dalam beradu argumen. Kelas tidak lagi didominasi oleh guru/pendidik, tapi lebih hidup dengan keaktifan seluruh peserta didik.

Hal yang mendasari pemikiran Freire ini adalah keyakinan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan dasariah untuk mengubah dan mengarahkan dirinya sendiri. Oleh karena itu pendidikan hendaknya membangkitkan kesadaran kritis peserta didik serta mampu mentransformasikan struktur masyarakat yang menindasnya. Untuk itu, dalam pendidikan jenis/model ini, peserta didik hendaknya diarahkan untuk peduli terhadap masalah sekitar, belajar dari realitas masyarakatnya sehingga kemudian menjadi agen revolusi untuk merubah struktur ketidakadilan yang mungkin terjadi Dari gagasannya ini, Freire dikenal sebagai seorang pendidik dan filsuf yang humanis-revolusioner.

Aplikasi bagi Pendidikan di Sumba?

Belajar dari pendidikan hadap-masalah a la Freire, kita dapat memperoleh strategi bagi pendidikan di negara kita, khususnya di Sumba. SEmua itu didasarkan atas pandangan bahwa setiap orang memiliki potensi pribadi untuk mengembangkan dirinya, dan kesemuanya itu hendaknya bertujuan mengubah lingkungan. Mungkin dengan penerapan sistem pendidikan hadap-masalah Freire ini, angka ketidaklulusan siswa sekolah dasar dan menengah di Sumba pada umumnya, dan Waingapu pada khususnya bisa diminimalisir. Sebagai langkah nyata, saya menyarankan beberapa langkah yang dapat dipraktekkan dalam ruang lingkup pendidikan kita:

1. Sekolah harus lebih dekat dengan alam dan masyarakat sekitar

Maksudnya tentu bukan memindahkan sekolah ke hutan atau pegunungan terpencil, tapi keberpihakan pada alam dan masyarakat berarti bahwa peserta didik lebih sering dilibatkan aktif di masyarakat melalui pendidikan di luar kelas, penelitian-penelitian di lingkungan alam, serta proyek-proyek lingkungan dan sosial. Dengan ini, ilmu yang didapat tidak saja berasal dari teori yang sudah tercetak dalam buku-buku pelajaran, tapi lebih benar-benar berangkat dari realitas masyarakat dan kosmis.

2. Peserta didik hendaknya lebih aktif dalam proses belajar

Guru menempatkan diri sebagai rekan kerja para peserta didik, bukan sebagai diktator atau menjadi semata-mata sumber ilmu. Para peserta didik diharapkan bisa mencari secara aktif sumber-sumber ilmu lainnya selain yang diajarkan oleh guru. Lebih banyak membaca dan mengeksplorasi dunia maya untuk kepentingan studi. Mungkin dalam hal ini perlu peningkatan sarana-prasarana belajar seperti pengadaan dan peningkatan kualitas perpustakaan, laboratorium internet dan semacamnya.

3. Masyarakat perlu mendukung kondusifnya suasana pembelajaran

Akhirnya masyarakat sekitar lembaga pendidikan diharapkan turut mampu mendukung proses belajar mengajar di sekolah. Selain menciptakan suasana yang nyaman di sekitar persekolahan, juga membantu sekolah melakukan KONTROL SOSIAL terhadap para pelajar yang berusaha menyimpang dari tugas belajarnya. Bukankah peserta didik datangnya dari masyarakat sendiri?

Dengan ini, seorang peserta didik yang sebelumnya dipengaruhi oleh masyarakatnya, pada suatu waktu akan ikut mempengaruhi dan menentukan situasi masyarakatnya ke arah yang lebih baik.

Penutup

Berbagai langkah yang telah saya kemukakan di atas tentunya akan banyak memakan biaya dan membutuhkan waktu yang lama untuk diwujudkan. Akan tetapi kita perlu optimis, bahwa kalau ingin maju, kita harus berani berkorban demi tujuan luhur memanusiakan manusia itu sendiri. Seperti halnya Paulo Freire sendiri yang pada kenyataannya gagal mendidik anak-anaknya sendiri, dengan mengirimkan mereka ke sekolah asrama, tantangan dan kekurangan yang kita hadapi tentunya bisa menjadi pemicu bagi kita untuk bertindak menuju perubahan yang lebih baik. Akhirnya, semoga kita sekalian bekerja sama membangun dan menata pendidikan di Sumba, dan di Waingapu khususnya agar menjadi semakin bermutu; semakin membebaskan dan memanusiakan manusia.

 

Bahan Bacaan:

Agus Nuryatno, M., Refleksi Pendidikan Bersama Paulo Freire, dalam Harian Kompas edisi Senin, 5 Mei 2003.

Priyono Pasti, Y., Menuju Pendidikan Demokratis-Humanistik, dalam Harian Kompas edisi Sabtu, 23 Juli 2005.

Paulo Freire, Pedagogi Pengharapan (terj. A. Widyamartaya Lic. Phil.), Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Peter Lowlnd, Freire’s Life and Work, dalam www.paulofreireinstitute.org.

Saeful Millah, Pendidikan Untuk Membebaskan, dalam Harian Pikiran Rakyat, 6 Mei 2006.
Share