Tampilan terbaik, gunakan pixel 1024 x 768 dan Firefox

           | 
Pengumuman Hasil Ujian Nasional di Kabupaten Sumba Timur Tahun Ajaran 2006/2007
Kontributor: Nikson   
Sabtu, 16 Juni 2007

Image
Kadis Pendidikan Sumba Timur, Dra. Rambu Lika Atahumba
Waingapu.com - Suhu udara semakin panas. Saat itu menunjukkan jam 12.00 WITTA, tiba-tiba keluarlah tiga orang pejabat teras Dinas Kabupaten Sumba Timur dari gedung pertemuan dinas pendidikan Kabupaten Sumba Timur seusai bertemu dengan para kepala sekolah menengah atas dan kejuruan se-kabupaten Sumba Timur dalam rangka menerima hasil Ujian Nasional, kami langsung dipersilakan masuk oleh Kepala Dinas Dra. Rambu Lika Atahumba yang didampingi oleh KTU Pendidikan Obed Hilungara, SH., M.Si dan Koordinator Pengawas Drs. Paulus Pungulede. Kami disuruh masuk ke dalam ruangan Hibah, disanalah jumpa pers dilaksanakan.

 

Kabupaten Sumba Timur memiliki 10 buah SMA dan 5 SMK. Sembilan SMA dan 4 SMK yang mengikuti Ujian Nasional. Dua sekolah lainnya SMA Pandawai dan SMK Rumput Laut Pahunga Lodu adalah sekolah yang baru dibuka.

Pada tahun pelajaran 2006/2007 Sumba Timur memiliki peserta ujian SMA berjumlah 1.439 orang dan SMK 382 orang dengan jumlah keseluruhan peserta UN tahun pelajaran 2006/2007 SMA maupun SMK sebanyak 1.821 orang. Dari total tersebut terdapat 657 siswa/i dari SMA dan SMK 259 orang yang tidak lulus. Dari hasil tersebut maka prosentase kelulusannya SMA 54% dan SMK 68% total 57,17%. Bila dibandingkan dari tahun ajaran 2005/2006 perbandingan kelulusannya sangat jauh dimana terdapat 95,28% secara keseluruhan.

Dra. Rambu Lika Atahumba menegaskan bahwa jurusan Bahasa dan IPS paling banyak tidak lulus karena mereka lemah di mata pelajaran Bahasa Inggris dan Ekonomi.

Ketika ditanya faktor apa yang menyebabkan kegagalan siswa dalam UN tersebut? Rambu Lika mengatakan bahwa standar kelulusan yang tinggi, faktor pengajaran, kekurangan guru secara kualitas maupun kuantitas, kesiapan anak dalam menghadapi Ujian dan juga ketidaksiapan mental anak-anak ketika berhadapan dengan Tim Pemantau Independent yang melaksanakan tugasnya tidak sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, yang sebenarnya tugas mereka hanya memantau jalannya pelaksanaan ujian tetapi mereka membawa diri seolah-olah pengawas ujian di dalam kelas.

Image
KTU Dinas Pendidikan Sumba Timur Obed Hilungara, SH., M.Si
Menyinggung soal kompetensi guru, Rambu Lika mengatakan bahwa sebenarnya Dinas Pendidikan telah melakukan berbagai upaya dalam hal peningkatan Kompetensi Guru khususnya guru-guru eksakta, Dinas telah melakukan kerja sama dengan Inside Technology dalam hal ini DR. Kebamoto untuk melakukan pelatihan dalam bentuk Center MIPA. Dalam rangka menanggulangi guru Pemda Sumba Timur juga telah memberikan Akta 4 kepada para sarjana luar pendidikan untuk mengikuti pendidikan guru selama 6 bulan bekerja sama dengan UKSW Salatiga dan PGSD D II dan S1 bekerjasama dengan Undana Kupang. Demikian juga menurut Obed Hilungara bahwa kita telah melakukan kepada mahasiswa-mahasiswa putra-putri Sumba yang berada di luar Sumba untuk memberikan bantuan dengan harapan bahwa kelak mereka akan kembali ke Sumba untuk mengabdi. Di sisi lain juga dalam rangka peningkatan kualitas guru Dinas Pendidikan telah memberikan kesempatan bagi guru-guru untuk mengikuti kelas Penjamin Mutu Pendidikan.

Pada kesempatan yang sama, Obed Hilungara, SH., M.Si, selaku KTU Pendidikan mengatakan bahwa pada tanggal 19-20 Juni diadakan Ujian Kesetaraan Paket C dimana kami mengharapkan bagi anak-anak yang tidak lulus agar dapat mendaftarkan diri sebagai peserta ujian Kesetaraan Paket C yang pendaftarannya dibuka mulai Sabtu 16 Juni 2007 sampai hari Minggu 17 Juni 2007. Mengenai biaya Ujian Paket C, KTU Pendidikan ini mengatakan bahwa tidak dipungut biaya.

Komentar
Tulis Komentar RSS
benyto  - wah, memprihatinkan nieh   |16-06-2007 11:02:41
setelah membaca berita ini, saya turut prihatin. tapi sekarang tak ada lagi yang bisa disalahkan. kita cuma bisa berharap di kesempatan mendatang kualitas pendidikan di kampung halaman semakin ditingkatkan. tentunya ini butuh kesadaran dan peran aktif kita bersama, baik pemerintah, masyarakat maupun insan pendidikan sendiri.
salah satu yang saya perhatikan, mungkin jadi faktor penyebab ketidaklulusan, masyarakat tak pernah menegur anak2 sekolah yang nongkrong di luar sekolah pada jam sekolah, ini mungkin terlalu subyektif tapi perlu dipikirkan dan ditangani bersama.
di balik banyak kesuksesan yang dimuat tentang pendidikan di tanah kita selama ini, ternyata tidak lepas dari kelemahan.
Mari kita bangun pendidikan dengan lebih baik!
Buat adik2 yang belum beruntung, masa depanmu masih panjang, Jangan berkecil hati apalagi sampai minder dan rendah diri. Coba lagi! Selamat bagi yang lulus.
martha  - sistem pendidikan kita menyedihkan   |16-06-2007 17:12:57
Tadi saya berpapasan dengan beberapa orang siswa yang tidak lulus. Wajah mereka tetap ceriah. \"Selasa khan sudah ujian lagi....paket C jadi untuk apa sedih\" ungkap seorang siswa yang tidakk lulus.

Saya sangat prihatin dengan sistem pendidikan kita yang makin tidak jelas. Istilahnya kawan saya, hari ini kita ajari cara buat nasi goreng, ujiannya bagaimana cara membuat keju, jurinya ahli olahraga.

Di satu sisi...beberapa guru sekolah-sekolah terkemuka boleh bangga bahwa banyak anak didiknya yang lulus....yang bukan rahasia lagi itu juga berkat kerja keras guru-gurunya juga pengawas yang selalu \"membantu\" memberikan jawaban saat ujian.

Pertanyaan saya \"jadi apa mental anak-anak kita, ketika 3 tahun guru mengajari sampai berdarah-darah....eh saat ujian akhir, guru pula yang mengerjakan soal-soal ujian...\"

Ya..semoga waktu cepat berlalu dan sistem pendidikan kita bisa secerah matahari.
kobuser   |18-06-2007 23:33:54
saya setuju dengan martha,sudah bukan rahasia lagi kalau paas unas guru2 yang lebih sibuk dan gugup dari siswa, karena mereka kejar target harus lulus berapa persen untuk mempertahankan harga diri sekolah.jadi sudah umum kalau para guru mengerjakan soal unas dan jawaban diberikan ke sekolah bahkan pengawas sekolahpun turut membantu bahkan membacakan jawabannya.....mau bagaimana dengan pendidikan kita????
rainairs  - Bagi Pengalaman   |19-06-2007 12:10:49
Saya setuju dengan semua komentar yg telah diberikan di atas (benyto,martha&kobuser).
Tapi satu hal yg harus kita ingat dan harus selalu menjadi pemikiran kita bersama.
Yaitu, sudahkah pelajaran yg diberikan atau didapatkan di tempat kita (Sumba Timur) sebanding dengan pelajaran yg dipeoleh oleh anak2 sekolah di kota besar (Jawa). Selain itu sudahkah teman2 kita di Sumba Timur memiliki suatu inisiatif untuk mengembangkan pelajaran atau ilmu itu.
Saya memiliki suatu pengalam hidup, dimana dulu waktu saya sekolah SMP&SMA di waingapu. Sangat minim sekali pelajaran komputer yg saya dapatkan atau bisa dibilang tidak ada ilmu yg saya dapatkan tentang komputer dari sekolah. Setelah saya lulus, saya melanjutkan ke Universitas di surabaya (Jurusan Informatika). Bayangkan bagaimana sulitnya saya untuk mengikuti pelajaran yg diberikan. Sedangkan teman2 saya yg lain (yg SMP&SMA di Kota besar) lebih mudah menerima pelajaran itu. Saya bertanya pada mereka, waktu SMP&SMA dl apa mereka sudah dapat pelajaran tentang komputer? Dan ternyata, jawabannya mereka memang sudah mendapatkan pelajaran itu (walaupun sedikit) di SMP&SMA.
Tapi dari situ saya tidak putus asa, saya berusaha agar saya bisa mengejar ketinggalan itu. Dan puji Tuhan saya bisa mengejar ketinggalan itu dan lulus.
Dari sini saya menilai bahwa pelajaran SMP&SMA di Kota besar dan Sumba Timur terdapat perbedaan. Maafkan kalo saya salah menilai, tp ini adalah kenyataannya. Namun, dengan adanya hal ini saya bukannya mempengaruhi arang tua supaya menyekolahkan anaknya ke Jawa saja, tp saya ingin kita sama2 memikirkan apa yg harus kita lakukan agar apa yg diperoleh oleh di SMP&SMA Sumba Timur tidak jauh berbeda dengan yang di Kota besar. Selain itu saya berharap agar teman2 di Sumba timur mau berusaha mengejar ketinggalan yg sudah ada. Jangan mau menyerah dan kalah dengan keadaan. Lagian di Sumba timur sekarang sudah lumayan maju dan sudah tersedia internet. Dari situ kita bisa memperoleh banyak sekali ilmu yg ingin kita dapatkan.
Mungkin ini yg bisa saya bagikan buat semua. semoga bermanfaat. Gbu all
Roy  - Salah siapa?   |19-06-2007 12:49:19
Sungguh ironis membaca komentar dari ibu Kadis Pendidikan Sumba Timur diatas. Kelihatannya ada banyak masalah. Tapi yang diselesaikan cuma menambah jenjang pendidikan guru. Lalu, dimana upaya untuk meningkatkan kelemahan-kelemahan yang lainnya?

Ada satu kelemahan, yang saya pikir, terjadi di hampir semua bagian Indonesia timur, dalam hubungannya dengan murid (siswa) dan guru (pengajar). Yaitu, guru suka "memukul" murid yang menurut mereka bodoh, nakal, dsbnya. Kenapa pendidikan, misalnya di pulau Jawa, bisa berhasil? Itu karena segala bentuk kekerasan fisik dari guru terhadap murid kurang... Paling guru cuma marah, jika ada murid yang nakal.
Anak-anak Sumba Timur, seharusnya tidak lagi mengalami kekerasan di sekolah, karena, di rumah dan lingkungan sekitar, mereka sudah sering terlibat dalam kekerasan fisik, misalnya dipukul oleh orangtua, oleh teman main, dll.. Nah, sekolah seharusnya menjadi tempat yang "nyaman dan tentram" bagi mereka. Jika saja sekolah di Sumba Timur bisa mewujudkan hal ini, saya pikir, kualitas intelektual muda Sumba Timur akan lebih baik.

ADa satu lagi. Masalah pesta dan mabuk-mabukan. Ini juga adalah salah satu faktor "pembuat miskin" seseorang. Lebih baik pergi pesta sampe pagi, terus tidur, dari pada pergi ke sekolah, dimarahin guru lagi....

Nah, wahai guru (dan calon guru) di Sumba Timur, cobalah anda diam sejenak, dan pikirkanlah, apa tugas anda sebenarnya ? Mendidik murid ? Atau memukul ?

Wahai orangtua (dan tetangga), apakah tugas kita? Mendorong anak-anak untuk bersekolah ? Mengurangi tindak kekerasan fisik terhadap anak? atau ?

Wahai kalangan pemerintah dan pembuat kebijakan, sudah kah bapak/ibu memperhatikan kondisi anak-anak Sumba Timur? Dalam bentuk apa, misalnya ?
predhtz   |19-06-2007 14:51:40
avatar Kalau mau dicari siapa yang salah, pasti tidak akan ada yang mau ngaku.

Kalau dibilang sistem pendidikan di Sumba lebih tertinggal dari sekolah2 terutama di Pulau Jawa, tidak sepenuhnya benar.

Saya bilang tidak sepenuhnya benar, karena untuk mata pelajaran inti, materinya sama. Dan terbukti pada saat saya ikut tes UMPTN untuk masuk di PTN di malang yang notabene adalah berjudi dengan nasib karena kemungkinan diterima adalah 1 : 50, nilai mata tes Eksak seperti Matematika, Fisika dan Kimia yang justru meloloskan saya kuliah di Jurusan Teknik Elektro PTN tersebut.
Tapi hal ini menjadi tidak sepenuhnya salah, krn memang untuk mata pelajaran muatan lokal seperti Komputer dan lain-lain, kita sangat ketinggalan. Bagaimana tidak ketinggalan, kalau ponakan saya yang masih kelas 4 SD saja sudah lancar ngetik pake MS Word? Atau anak kelas 2 SD sudah fasih ngomong bahasa mandarin walaupun masih sangat terbatas.

Teman kuliah saya, yang kebetulan SMPnya di Larantuka karena orang tuanya pernah ditugaskan disana, pernah bertanya sama saya \\\\\\\"Kalo OSIS hari Jumat sore itu, masih di suruh bawa sabit, linggis dan batang kayu untuk tanam pagar ya?\\\\\\\". Pertanyaan sederhana yang cukup bikin merah telinga orang yang mendengarkannya.

Bagaimana bisa siswa belajar dengan baik kalau waktu lebih banyak habis untuk potong rumput di sekolah, atau perbaiki pagar sekolah yang bolong2, daripada duduk baca di perpustakaan.
Jujur saja, pengertian kegiatan OSIS di sekolah2 menengah di Sumba, yang saya tangkap sampai saya lulus SMA adalah bawa sabit, ember, kayu kahi, linggis dll untuk membersikan rumput di halaman sekolah plus cat pagar di taman depan kelas, dan bukan kegiatan produktif seperti ekskul majalah dinding, komputer dll seperti yang saya lihat di sekolah2 di daerah lain. (Kecewa Mode: ON)

Belum lagi kebiasaan anak2 sekolah yang hobi nongkrong di pasar atau jadi \\\\\\\"batu\& #92;\\\\\" di angkutan kota pada saat jam sekolah.

Masalah komunikasi antara Sekolah dan orang tua murid juga perlu jadi perhatian. Saya lihat di beberapa di jawa, komunikasi antara orang tua dan sekolah dalam hal ini guru, dijembatani dengan adanya buku kontrol yang harus ditandatangani oleh orang tua dan guru. Dari situ bisa ketahuan, sejauh mana perhatian orang tua terhadap proses belajar anaknya. Saya tidak tahu apakah di sekolah2 di sumba juga menerapkan sistem seperti ini atau tidak.
Karena sejauh ini, saya rasa, guru cuma jadi kambing hitam pihak orang tua jika anaknya tertinggal dalam proses belajarnya.

Mungkin cuma ini yang bisa saya bagikan dengan teman2. Maaf kalau ada kata yang salah.
derry  - smu     |20-06-2007 20:58:21
avatar Selain apa yang udah ditulis di atas oleh teman2, sedikit ajah nih mau nambah.

Seingat saya, waktu masih sekolah di SMAN 1,perhatian guru-guru sama sekali tidak merata kepada semua siswa/i.
Kalau siswanya berorang tua pejabat atau dari kalangan berada.
, pasti gampang banget dapat perhatian guru-guru.
Sedangkan siswa2 yang dari "jenis lain" sangat biasa,pasti tidak akan diperhatikan.

Perhatian guru yang merata akan sangat berpengaruh kepada daya juang siswa untuk belajar lebih keras.
Ingat, mengajar itu bukan cuman ngabisin kurikulum yang dipersiapkan,setelah itu terserah muridnya sendiri.
Harus selalu dengan hati yang tulus mengikuti sampai dimana siswanya bisa. Setelah itu, dengan perhatian tadi yang merata kepada semua siswa,kekurangan siswa akan bisa diatasi.

Seingat saya, ada juga guru yang mengajar sambil MEROKOK!
Hebat kan?
Ya jelas dong, anak murid cowoknya pada banyak yang ikut2an merokok.
Apa masih ada guru2 tersebut di SMU2 di wgp ya?

Anyway, masa smu itu masa yang paling menyenangkan.
Saya mau menukar apa saja untuk kembali ke masa smu lagi.
Swear!
Jadi kalau ada yang belum lulus, jangan terlalu kecewa. Karena kalian masih dapat kesempatan lebih lama di "masa aling menyenangkan dan penuh kenangan itu"

:)
love u all
Indah  - Miris...   |21-06-2007 19:10:20
avatar Miris sekali membaca artikel di atas.. Speechless.. Saya sendiri bingung mau menyalahkan siapa. Tapi yang pasti harus ada yang dibenahi dari sistem pendidikan di Waingapu. Saya ingat jaman saya masih di Sumba, saat itu di SMPN 1 Waingapu. Setiap anak (mungkin) seolah-olah berlomba untuk menjadi yang terbaik. Persaingan tidak lagi dengan teman sekelasnya atau dengan teman satu sekolah. Tapi persaingan antar sekolah sangat terasa. Dan ini sangat memotivasi setiap anak untuk menjadi lebih baik dan lebih baik.

Apakah guru-guru saat ini yang kualitasnya lebih mundur dari saat itu? Atau kemampuan siswa-siwanya yang semakin terbelakang? Saya rasa TIDAK !!!
Menurut saya yang dibutuhkan oleh teman-teman pelajar adalah MOTIVASI !!!

Saya yakin, sangat yakin bahkan, bahwa kemampuan orang Sumba tidak lebih rendah daripada teman-teman di Jawa. Tidak dalam maksud untuk memamerkan, kebetulan saya lulus UMPTN di salah satu institut terkemuka di Bandung. Saya bisa, kenapa teman-teman yang lain tidak bisa ? Bukankah kita sebelumnya diajar oleh guru yang sama dengan fasilitas yang sama pula ? Jawabannya kembali lagi kepada MOTIVASI setiap orang. Ketakutan akan sesuatu yang dianggap susah dan takut untuk mencoba menjadi momok buat membangun motivasi itu. Belum lagi dengan perasaan cepat puas yang selalu menjadi musuh besar kita orang Sumba.

Kualitas guru-guru kita saya rasa tidak perlu dipersoalkan, toh sudah banyak buku panduan mengajar yang ada di toko buku atau yang dibagikan mungkin, bahkan sampai bank soal dan jawabannya yang bisa dipakai sebagai \"kitab suci\" buat mengajar. Yang mungkin saat ini paling dibutuhkan adalah kreativitas para guru untuk merubah pola pikir anak didik (atau bahkan dirinya sendiri ???) untuk menjadi lebih termotivasi untuk belajar dan mencapai hasil yang lebih dan lebih dari yang dimilikinya sekarang !!!!
nona  - osis   |26-06-2007 19:11:07
saya tidak perlu menambah kan apa-apa, karena semua komentar teman-teman dan saudara2 ku ,yang semua nya jelas berasal dari sumba sudah jelas dan lengkap.

awal nya saya serius membaca dari awal komentar saudara dan teman sekalian, yang membuat saya terharu dan prihatin dengan pendidikan adik-adik kita di sumba,tapi semuaaa.... itu buyar seketika saat saya membaca komentar dari saudara "predhtz", saya tertawa geli karena mengingat masa-masa dulu, tiap hari jumat sore kita ke sekolah untuk osis.yang membuat saya lebih geli lagi karena predhtz menyebutkan nama-nama barang yang sudah sangat lama tidak saya dengar atau jarang saya sebut,seperti sabit, linggis, kayu kahi.....hahahahahaeee.
sekarang baru saya ingat,"ada apa dengan pagar sekolah kita?",kok tiap minggu topik nya "tanam pagar".

oh ya, untuk saudara predhtz,masih ada alat yang lupa kamu sebut kan, "Pariku",biasa nya untuk bersihin rumput.

ok, gbu all
samba  - pendidikan dan kebijakan   |18-06-2008 17:29:17
kebijakan pemerintah yang dalam menentukan standarisasi yang sangat tinggi bagi kelulusan merupakan kebijakan yang sangat keliru yang mana jika siswa tidak lulus di ikuti dengan program paket c guna kelulusan jadi bertolak belakang dengan syarat standar yang tinggi maka dapat di simpulkan kebijakan di ambil tanpa adanya kajian yang mendalam yang berakibat kepada kewibawaan pemerintah yang cenderung pingin berbeda maka setiap ganti resim ganti pula aturan yang berakibat kepada masyarakat di rugikan hak hak nya khususnya tentang mendapat pendidikan yang layak dan bermutu di lain pihak di tuntut standarisasi kelulusan yang memiliki dasar yang lemah
VRO  - sedih   |24-08-2008 20:36:42
sedih bgd melihad banyak yg tdk lulus.
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Silahkan masukan kode anti-spam yang Anda lihat di dalam gambar.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >