Pengajaran Sains Perlu Diubah |
|
|
|
| Ditulis oleh Admin |
| Kamis, 15 Maret 2007 19:44 |
|
SURABYA, KOMPAS -- Metode pengajaran sains sebaiknya diubah. Metode pembelajaran selama ini membuat pelajar tidak menyukai sains. Metode itu juga membuat pelajar merasa mempelajari sains tidak bermanfaat.
Staf Kedutaan Besar Australia bidang Pendidikan Claudina Milawati menuturkan, metode pembelajaran selama ini membuat sains seolah hal asing dari kehidupan sehari-hari. Sains hanya dikesankan sebagai serangkaian rumus. “Tidak berguna mempelajari banyak rumus jika tidak tahu kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya di sela Lokakarya Pembelajaran Sains yang Menyenangkan di Surabaya, Rabu (14/3).
Metode dan persepsi semacam itu membuat pelajaran sains dijauhi pelajar. Padahal, sains amat dekat dan berguna bagi kehidupan sehari-hari. “Sains bisa dipelajari dengan cara menyenangkan. Di Australia, ada tempat khusus untuk mempelajari sains sambil bermain,” ujarnya.
Pembelajaran sains seharusnya bertujuan membuat pelajar paham konsep dan kegunaannya bagi kehidupan. Pengajaran sains bukan bertujuan agar pelajar bisa menyelesaikan soal saja. Salah seorang peserta lokakarya, Fitria Rahmasari menyatakan, tidak menyangka ada banyak metode menyenangkan untuk mempelajari Fisika. Bahkan, metode itu membuatnya lebih mengerti konsep dan teori. “Saya bisa membayangkan bagaimana suatu hukum bekerja. Dengan demikian, rasanya lebih mudah mengingat rumus-rumus,” tuturnya. Peserta lain, Sherly Gunawan menuturkan, baru tahu jika peristiwa sehari-hari ada bisa dijelaskan dengan hukum-hukum Fisika. “Kesan main-main, tetapi itu membantu penguasaan rumus. Kalau begini, siapapun akan suka belajar Fisika,” tuturnya.Dalam lokakarya kemarin, para peserta diajak mengerjakan sembilan percobaan penerapan hukum-hukum Fisika. Percobaan itu menggunakan benda-benda yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Dalam percobaan tentang pusat massa, peserta diminta menyeimbangkan potongan kentang dengan bantuan garpu. Mereka juga diminta menerapkan Hukum Newton dan Hukum Archimedes dengan air dan beberapa bejana. Laporan Wartawan Kompas Kris R Mada Sumber: Kompas
Tags:
|





Komentar
Sama juga dengan belajar bahasa INGGRIS. Padahal, bahasa INGGRIS itu bahasa Internasional. Selama ini (menurut pengalaman saya), pengajaran TEORI 90%, praktek 10%. Di bangku kuliah, sama juga modelnya. Kecuali untuk universitas ato tempat kursus, yang menekankan pada aspek SPEAKING...
Saya kurang tau bagaimana nasib bidang studi ato mata kuliah lain. Mungkin kira2 sama??
tapi klo boleh kasi tambahan, sebenarnya peran guru juga berpengaruh c..
klo yg saya pelajari sekarang, seharusnya guru tidak hanya sebagai fasilitator dalam kelas tapi sebagai motivator..
....
ya ada hub. kausallah dengan metode2 pengajaran yang seharusnya diterapkan. mengingat di waingaapu juga masih terbatas fasilitasnya (jangankan waingapu, Jakarta saja masih ada sekolah yg \"reo\"..hehehehehehe)
....
GBU
thanx 4 share in this col.
Kapan pemerintah Sumba timur melakukan hal yang sama ?
Jadi adalah perlunya di setiap sekolah SMP dan SMA dilengkapi dengan laboratorium Fisika, Kimia dan Biologi serta peralatan yang memadai untuk mendukung pembelajaran Sains tersebut dan juga penyediaan tenaga didik atau Guru yang memang khusus pada bidang studi tersebut.
Khusus untuk daerah Sumba Timur, memang masih jauh tertinggal kalau dibandingkan dengan Daerah lainnya. Perbaikan ekonomi masyarakat, pemberantasan Korupsi di instansi Dinas PPO memang harus diprioritaskan dan dengan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat Sumba Timur.
RSS feed untuk komentar posting ini.