| "PISANG MOLEN" Matawai |
|
|
| Kontributor: Jara Marapu |
| Sabtu, 14 Februari 2009 01:36 |
|
{davatar username=masher}Pagi-pagi sebelum berangkat kerja atau sore-sore sambil duduk di bale-bale rumah, apalagi kalau rumahnya berbetuk rumah dek, menghadap secangkir kopi panas dengan pendamping sepiring pisang molen, pasti terasa nikmat dan sejenak dapat menghilangkan segala pikiran yang penat. Di daerah Sumba Timur, terdapat banyak wilayah yang merupakan kantong-kantong penghasil buah pisang dan jenisnya bermacam-macam mulai dari pisang meja, pisang baranang, pisang kapok dan banyak pisang-pisang yang lain. Produksi tanaman pisang di Sumba Timur perlu diakui bahwa pertumbuhannya mengalami kemajuan ketika pada masa pemerintahan bupati “mbeni buhang hangga opang”, kata masyarakat Waingapu. Banyak lahan-lahan kosong dijadikan kebon pisang dimana tujuannya menjaga kesuburan tanah sekaligus untuk meningkatkan ekonomi masyarakt setempat, dan itu masih berlangsung sampai sekarang Adalah sepasang keluarga tinggal bersama empat orang anak di desa yang diklaim sebagai daerah penghasil dan pemasok pisang terbesar di Pasar Inpres Waingapu. Dari daerah itulah setiap hari kendaraan bemo mondar mandir mengangkut bertandan-tandan buah pisang dibawah ke pasar inpres. Tidak terlepas pasangan keluarga ini, yang di kenal memiliki kebon pisang paling luas dan berada didaerah paling subur, sehingga hampir setiap hari mengirimkan pisangnya ke pasar paling sedikit 10 tandan, dengan harga pertandan berkisar 15.000 rupiah, tergantung besar kecilnya tandan. Hari itu dirumahnya yang berbetuk rumah dek sekitar pukul empat sore kedatangan tamu beberapa orang . Ada dua orang yang dia kenal sebagai sahabatnya dari pasar inpres, sedangka yang tiga orang baru dikenalnya pada hari itu, kalau tidak salah tiga orang tersebut merupakan orang berjabatan, karena masih menggunakan seragam yang lengkap dengan atribut kedinasannya. Dengan penuh keluguan, karena merasa sebagai masyarakat kecil, bercampur rasa bangga kedatangan tamu orang berjabatan, sebagai tuan rumah yang baik maka dibentangkanlah selembar tikar pandan, karena biasanya rumah dek jarang sekali menggunakan kursi dan dipersilahknlah tamu – tamu tadi duduk di tikar. Sesaat setelah tamu tadi duduk, tuan rumah menyorongkan bola happa, sebagai rasa penghormatan dan penghargaan kepada setiap tamu. “ambu mbeni na Umbu, kita hanya duduk – duduk kosong ini...” sapanya kepada tamu, sementara yang disapa membalas dengan senyum dan menganggukan kepala, dan menjawab,”tidak apa-apa, su ada sirih pinang….” Dibelakang, tuan rumah mulai sibuk buat kopi, dan disuruhnya anak laki-laki sulung, “Umbu kau bawa ini pisang satu tandan ke pasar, kau jual saja harga berapa yang penting bisa jadi uang”. Denga penuh rasa binggung Umbu menyahut, ”sebentar kalau su laku, uang mo pake beli apa?” dengan nada sedikit berbisik, “nyumu beli saja kanguta ”pisang molen” harga 10 ribu e, sisa uang bawa pulang sama pake naik bemo.” Maka jadilah pergi kepasar, jual pisang satu tandan, setelah dapat uang, beli pisang molen untuk dibawa pulang. Setelah sampai dirumah kue pisang molen dihantar kedepan bersama dengan kopi panas sebagai bentuk sambutan bagi para tamu tersebut. Diiringi dengan canda tawa dan sesekali keluar nada penegasan dari tamu, seperti sedang memaparkan visi misi partai, habislah segelas kopi panas dan se bokor pisang molen. Gambaran keluarga diatas merupakan realitas hidup yang sampai saat ini masih banyak terjadi disekitar kita. Masih banyak hasil bumi yang belum mampu dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat, kalau pun ada kurang memperoleh apresiasi dimata kita sendiri. Kita sudah terbiasa dengan segala yang instant, tidak mau capek, HG (harap gampang), malas, dan genggsi untuk bertanya. Lalu mau sampai kapan, daerah kita tidak akan meningkat kesejahteraan masyarakatnya jika tidak dimulai dari lingkugan keluarga. Hasil bumi akan tetap menjadi asset tetap bagi pemilik modal besar, artinya keuntungan lebih besar ada pada mereka, terus kapan masyarakat kecil bisa merasakan keuntungan yang seimbang dengan hasil jerih payahnya ? Semoga hal ini tidak benar-benar terjadi, mari kita bersama-sama bergandeng tangan saling membantu, sejenak kita buang rasa feodalisme kita, kita duduk dan belajar bersama, mencari cara yang harmonis agar kita bisa hidup sejajar dengan daerah lain yang sudah mampu berswasembada. Minimal kita bisa buat sendiri pisang molen, tanpa harus membeli sampai di Matawai. |




Komentar
RSS feed untuk komentar posting ini.