PLN Waingapu |
|
|
|
| Ditulis oleh nelang |
| Senin, 17 November 2008 01:12 |
|
“Sialan…. Kurang ajar.... Sebentar-sebentar mati…. Sebentar-sebentar mati.” Demikian ungakpan kesal teman saya ketika kami sedang bincang-bincang di teras belakang rumahnya. Semenjak kematian Ir. Umbu Mehang Kunda, frekuensi giliran pemadaman listrik semakin tinggi. Seminggu bisa tiga kali. Frekuensi ini cukup membuat sebagian masyarakat kesal, terutama mereka yang pekerjaannya sangat bergantung pada arus listrik. Ada apa dibalik ini? Masyarakat berdesas-desus kalau ada yang bermain dibalik itu. Bahkan ekstrimnya ada yang menginginkan pemadaman ini dikhususkan ke wilayah-wilayah yang tidak produktif. Lainnya lagi pada bilang kalau sering-sering listrik mati maka omset penjualan, lilin, minyak tanah, generator dan bensin akan tinggi. Listrik, sejak pertama kali ditemukan oleh Thomas Alva Edison diproduksi secara massal dan dibagikan gratis untuk masyarakat. Tahun 1882 ia memasang lampu-lampu listrik di jalan-jalan dan rumah-rumah sejauh satu kilometer di kota New York. Hal ini adalah pertama kalinya lampu listrik di pakai di jalan-jalan. Tapi, ketika listrik telah mendunia, termasuk kota Waingapu tidak luput dari teknolgi modern ini listrik telah menjadi komoditi. Entah karena sumber energi listrik semakin kurang karena segala lapisan masyarakat harus dilayani sehingga frekuensi pemadaman listrik makin tinggi, belum bisa dipastikan. Yang jelas ada yang mengeluh karena tingginya frekuensi pemadaman listrik tersebut lebih dirasakan oleh lapisan masyarakat ekonomi bawah pada wilyah tertentu di kota Waingapu ini. Disisi lain saya jadi teringat dengan ungkapan Aryo Seno Aji, Vice President Energi Terbarukan PT PLN (Persero) “Sumba, menjadi fokus Semoga PLN di Waingapu cepat tetangani sehingga masyarakat dapat menikmati listrik. |
Berita Terkini
18 May 2012
- 17 May 2012 Jembatan Darurat Payeti: Telah Dibangun dengan Model yang Lebih 'Akrab' dengan Kaum Perempuan
- 16 May 2012 Hujan Berkepanjangan: Cemaskan Warga Pengguna Jembatan Darurat Payeti
- 10 May 2012 MTQ NTT akan Diinkulturasi: Bentuk Dukungan, Usulan Tenun Sumba Jadi Warisan Dunia
- 09 May 2012 Sebrangi Sungai & Bukit Terjal: Siswa SD Bidipraing Akhirnya di Asramakan Selama Pelaksanaan UN
- 08 May 2012 Listrik Proyek PNPM hanya Pajangan: Anak Lai Hiding Belajar Pakai Pelita untuk Hadapi UN
- 03 May 2012 PLN Janji Bina & Tindak Pencatat Meter Nakal
- 27 April 2012 Tikus ‘Invasi’ Lahan Pertanian : Warga Kombapari Terancam Gagal Panen
- 26 April 2012 Warga Mengadu ke DPRD: Diduga Petugas Pencatat Meter PLN Kerja ‘Curi Tulang’
- 24 April 2012 Cara Siswa/i SMPN Nggoa Hadapi UN: Gunakan Lampu Pelita Saat Belajar, Jalan Kaki 7 KM ke Sekolah
- 16 April 2012 Diduga Karena Belum Terima Gaji, Staf Dispenduk Sumba Timur Mogok Berkantor
- 13 April 2012 Naskah Ujian Nasional di Sumba Timur Kurang
- 08 April 2012 18 Tahun Didera Hydrochepalus & Lumpuh: Walau Lirih, Zakarias Tetap Bersenandung
- 06 April 2012 Jemaat GKS Kambaniru Gelar Prosesi Jalan Salib
- 05 April 2012 Sekolah di Sumba Timur, 75% Dibawah Standart Mutu Nasional
- 04 April 2012 Apresiasi Perjuangan Anak Lai Hiding: Dinas PPO Sumba Timur Rencanakan Bangun Sekolah Paralel
- 03 April 2012 Belajar dari Agustinus: Sosok Sederhana di Balik Perjuangan Anak-Anak Lai Hiding
- 31 March 2012 ‘Uji Nyali’ Anak Dusun Lai Hiding: Ke Sekolah Bagaikan Terjun ke Arena Sabung Nyawa
- 29 March 2012 Bangunan Pasar Papuu dan Kiritana Mubazir: TPI & Pabrik Es Waingapu Bernasib Serupa
- 28 March 2012 Harga BBM Belum Resmi Naik: Harga Sejumlah Sembako Menang Satu Langkah!





Komentar
Selain itu kami mendapat tantangan membangun pembangkit listrik tenaga ombak laut, karena disisi selatan p.Sumba tersedia potensi ombak laut sepanjang masa dan pemukiman masyarakat yang belum terjangkau pelayanan listrik. Kami mohon informasi aplikasi teknologi PLTOmbak yang cocok di perairan Indonesia.
Terima kasih dan salam,
Djoko Budi Walujo
Saya percaya banyk potensi mikro hidro yg layak daam skala kecil.
Salam,
baringin Nababan
Tahun 2006 lalu saya pernah jalan-jalan di Waingapu jumpa dengan pak ArioSenoaji & pak Baringin Nababan dan mendapat informasi / gambaran tentang potensi tenaga Mikrohidro untuk memenuhi kebutuhan listrik di pulau Sumba. Melalui jalur komunikasi ini saya ingin menjalin komunikasi dengan rekan yang berminat pada pemanfaatan tenaga Mikrohidro untuk listrik, irigasi dan air baku di p.Sumba.
Dengan segala rendah hati saya ikut prihatin atas kondisi kelistrikan di p. Sumba, dan punya keinginan berkontribusi menemukan solusinya. Saya ingin posting ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga MikroHidro sebagai pengenalan pengetahuan dan implementasi untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat setempat.
Terima kasih atas kesempatan ini.
Salam,
Djoko Budi Walujo
(tinggal di Jakarta, penggiat energi terbarukan)
Sebenarnya bukan cuma Laputi saja yang bisa dimanfaatkan untuk dijadikan PLTA.
Kalau mau dikembangkan, sebenarnya Bendungan Kambaniru bisa juga dipakai untuk pembangkit listrik, mungkin tidak bisa dibilang PLTA karena daya yang dapat dibangkitkan belum cukup untuk disebut sebagai PLTA. Kalau ini bisa dilakukan, saya yakin setidaknya bisa mengcover sebagian wilayah Maulumbi dan Lambanapu, sehingga tidak bergantung pada Generator Diesel di Pakamburung itu.
Saat saya kuliah di Malang, dosen saya waktu itu beberapa kali mengajak mahasiswa kelas-nya melakukan field trip ke daerah Blitar, Tulungagung dan sekitarnya. Di situ, dalam satu aliran sungai saja terdapat lebih dari 10 pembangkit listrik mikrohidro. Kalau 1 pembangkit mikrohidro saja bisa menyuplai listrik untuk 1 desa, berarti minimal ada 10 desa yang sudah tersuplai listrik dari 1 aliran sungai itu.
Walaupun wilayah Sumba Timur cukup kering, tetapi beberapa sungai tidak pernah kering. Seandainya sungai Kambaniru, Kawangu, Payeti bisa dimanfaatkan untuk Pembangkit Mikrohidro, saya yakin kebutuhan listrik di Waingapu bisa sedikit teratasi. Saya sudah pernah nulis komentar di artikel lain di situs ini, dan sepertinya artikel itu sudah dihapus, bagaimanapun juga, perkembangan kota tidak bisa terlepas dari listrik. Bagaimana kota Waingapu bisa lebih berkembang kalau listriknya Byar Pet terus? Bagaimana kota Waingapu bisa hidup kalau malam hari gelap gulita karena penerangan jalan yang amat sangat minim??
Mungkin perlu kita shareholder pln, dalam hl ini termasuk masyarakat luas, pelanggan maupun bukan/belum pelangganpln untuk mencari solusi terhadap pln sumba. masalahnya pastilah karena kkurangan daya disamping mesin yang sudah berumur, waktu saya di sumba bersama dgn pak Umbu ...... (Dinas pertambang) kami sdh berhasil waktu itu meminta dana untuk penambahan mesin tapi tdk tahu tdk terealisasi, (pada saat itu saya ditugaskan belajar ke USA). Mungkin kita bisa minta bapak2 kita di DPRD dan PEmda untuk mengusulkan penambahan mesin membantu kelistrikan di PEMDA. saat ini itu solusi tercepat disamping pembangkit angin dan air.
ini hanya salah satu usul yang mungkin dapat didiskusikan. Salam sukses untuk kemajuan Sumba, khususnya Waingapu
baringin nababan - USA
sampai skarang jg sy tdk mengerti,koq bsa pedaman bergilir..kayaknya perlu diselidiki..jangan dibiarkan begitu saja,karena hal spt itu jg yg akan memberikan peluang bgi yang gatal tangan\"pencuri\",,,bukan hanya itu saja,siswa jg akan merasa terganggu,mau belajar,GELAP!! !palagi sekarang menjelang tes bagi siswa kelas 3
terimakasih...
RSS feed untuk komentar posting ini.