Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Sab 19 May 2012
Banner

PLN Waingapu

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh nelang   
Senin, 17 November 2008 01:12

“Sialan…. Kurang ajar.... Sebentar-sebentar mati…. Sebentar-sebentar mati.” Demikian ungakpan kesal teman saya ketika kami sedang bincang-bincang di teras belakang rumahnya.

Semenjak kematian Ir. Umbu Mehang Kunda, frekuensi giliran pemadaman listrik semakin tinggi. Seminggu bisa tiga kali. Frekuensi ini cukup membuat sebagian masyarakat kesal, terutama mereka yang pekerjaannya sangat bergantung pada arus listrik.

Ada apa dibalik ini? Masyarakat berdesas-desus kalau ada yang bermain dibalik itu. Bahkan ekstrimnya ada yang menginginkan pemadaman ini dikhususkan ke wilayah-wilayah yang tidak produktif. Lainnya lagi pada bilang kalau sering-sering listrik mati maka omset penjualan, lilin, minyak tanah, generator dan bensin akan tinggi.

Listrik, sejak pertama kali ditemukan oleh Thomas Alva Edison diproduksi secara massal dan dibagikan gratis untuk masyarakat. Tahun 1882 ia memasang lampu-lampu listrik di jalan-jalan dan rumah-rumah sejauh satu kilometer di kota New York. Hal ini adalah pertama kalinya lampu listrik di pakai di jalan-jalan.

Tapi, ketika listrik telah mendunia, termasuk kota Waingapu tidak luput dari teknolgi modern ini listrik telah menjadi komoditi. Entah karena sumber energi listrik semakin kurang karena segala lapisan masyarakat harus dilayani sehingga frekuensi pemadaman listrik makin tinggi, belum bisa dipastikan. Yang jelas ada yang mengeluh karena tingginya frekuensi pemadaman listrik tersebut lebih dirasakan oleh lapisan masyarakat ekonomi bawah pada wilyah tertentu di kota Waingapu ini.

Disisi lain saya jadi teringat dengan ungkapan Aryo Seno Aji, Vice President Energi Terbarukan PT PLN (Persero) “Sumba, menjadi fokus
perhatian PLN karena memiliki potensi energi alternatif yang cukup besar. Usai rapat dengan Direksi PLN di Jakarta beberapa waktu lalu, dirinya pernah menyatakan kesanggupannya membeli minyak jarak sebanyak 6.000 liter pada tahun 2009 ini.” (sumber: Spriti NTT)

Semoga PLN di Waingapu cepat tetangani sehingga masyarakat dapat menikmati listrik.

 

Komentar  

 
0 #7 Djoko Budi 2009-10-23 09:01
Selamat jumpa lagi pak Baringin (walau via email ini), sejak awal tahun 2009 kami (grup) telah berkomunikasi dengan kepala daerah Sumba Timur dan kepala daerah Sumba barat guna investasi PLTMH skema IPP dan sedang mengurus perizinan antar instansi setempat. Selain itu kami mengajukan proposal pembangunan pembangkit listrik skala mikro hidro dengan memanfaatkan potensi saluran irigasi / dam di beberapa lokasi dengan biaya APBD. Semoga agenda pilkada tahun 2010 dapat mempercepat realisasi di lapangan.
Selain itu kami mendapat tantangan membangun pembangkit listrik tenaga ombak laut, karena disisi selatan p.Sumba tersedia potensi ombak laut sepanjang masa dan pemukiman masyarakat yang belum terjangkau pelayanan listrik. Kami mohon informasi aplikasi teknologi PLTOmbak yang cocok di perairan Indonesia.
Terima kasih dan salam,
Djoko Budi Walujo
 
 
0 #6 baringin 2009-06-08 20:38
Saya setuju dengan komentar Pak Predhtz, sebagai info La Puti sdh saya operasikan sebelum saya meninggalkan PLN Sumba setelah lama tdk dioperasika (terlantar dan bukan aset PLN) dan melayani desa disekitarnya (Tabundung). Pak Djoko mungkin dapat di mediasi dengan bapak2 di Pemda sumba timur dan calon investor yg berminat mengmbangkan mikro hidro. Saya mengenal bapak2 di pemda sumba timur maupun barat yang sangat antusias untuk pemberdayaan mikrohidro maupun pembangkit bayu untuk keperluan kelistrikan masyarakat banyak, mungkin dari sisi jaringan PLN cabang Sumba dapat di hubungi.
Saya percaya banyk potensi mikro hidro yg layak daam skala kecil.

Salam,
baringin Nababan
 
 
0 #5 Guest 2009-03-06 22:24
Salam kenal,
Tahun 2006 lalu saya pernah jalan-jalan di Waingapu jumpa dengan pak ArioSenoaji & pak Baringin Nababan dan mendapat informasi / gambaran tentang potensi tenaga Mikrohidro untuk memenuhi kebutuhan listrik di pulau Sumba. Melalui jalur komunikasi ini saya ingin menjalin komunikasi dengan rekan yang berminat pada pemanfaatan tenaga Mikrohidro untuk listrik, irigasi dan air baku di p.Sumba.
Dengan segala rendah hati saya ikut prihatin atas kondisi kelistrikan di p. Sumba, dan punya keinginan berkontribusi menemukan solusinya. Saya ingin posting ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga MikroHidro sebagai pengenalan pengetahuan dan implementasi untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat setempat.
Terima kasih atas kesempatan ini.
Salam,
Djoko Budi Walujo
(tinggal di Jakarta, penggiat energi terbarukan)
 
 
0 #4 predhtz 2009-02-27 17:47
Saya pernah dengar tentang penelitian potensi air terjun Laputi. Tapi sebatas itu saja, karena saya tidak pernah membaca hasil penelitiannya seperti apa.
Sebenarnya bukan cuma Laputi saja yang bisa dimanfaatkan untuk dijadikan PLTA.
Kalau mau dikembangkan, sebenarnya Bendungan Kambaniru bisa juga dipakai untuk pembangkit listrik, mungkin tidak bisa dibilang PLTA karena daya yang dapat dibangkitkan belum cukup untuk disebut sebagai PLTA. Kalau ini bisa dilakukan, saya yakin setidaknya bisa mengcover sebagian wilayah Maulumbi dan Lambanapu, sehingga tidak bergantung pada Generator Diesel di Pakamburung itu.
Saat saya kuliah di Malang, dosen saya waktu itu beberapa kali mengajak mahasiswa kelas-nya melakukan field trip ke daerah Blitar, Tulungagung dan sekitarnya. Di situ, dalam satu aliran sungai saja terdapat lebih dari 10 pembangkit listrik mikrohidro. Kalau 1 pembangkit mikrohidro saja bisa menyuplai listrik untuk 1 desa, berarti minimal ada 10 desa yang sudah tersuplai listrik dari 1 aliran sungai itu.

Walaupun wilayah Sumba Timur cukup kering, tetapi beberapa sungai tidak pernah kering. Seandainya sungai Kambaniru, Kawangu, Payeti bisa dimanfaatkan untuk Pembangkit Mikrohidro, saya yakin kebutuhan listrik di Waingapu bisa sedikit teratasi. Saya sudah pernah nulis komentar di artikel lain di situs ini, dan sepertinya artikel itu sudah dihapus, bagaimanapun juga, perkembangan kota tidak bisa terlepas dari listrik. Bagaimana kota Waingapu bisa lebih berkembang kalau listriknya Byar Pet terus? Bagaimana kota Waingapu bisa hidup kalau malam hari gelap gulita karena penerangan jalan yang amat sangat minim??
 
 
0 #3 Guest 2009-02-26 20:09
Sampai kpanpun..listrik di waingapu ma bgtu trs... Alangkah lbh baikx abang2 dong yg di Dinas Pertambangan lirik su tu PLTA yg ada di tabundung alias air terjun Laputi...Knp hax sebatas penelitian bahwa kemampuanx bs menjangkau kota waingapu,,,
 
 
0 #2 Guest 2008-12-13 19:12
Sepertinya di indonesia listrik belum menjadi barang komoditas.

Mungkin perlu kita shareholder pln, dalam hl ini termasuk masyarakat luas, pelanggan maupun bukan/belum pelangganpln untuk mencari solusi terhadap pln sumba. masalahnya pastilah karena kkurangan daya disamping mesin yang sudah berumur, waktu saya di sumba bersama dgn pak Umbu ...... (Dinas pertambang) kami sdh berhasil waktu itu meminta dana untuk penambahan mesin tapi tdk tahu tdk terealisasi, (pada saat itu saya ditugaskan belajar ke USA). Mungkin kita bisa minta bapak2 kita di DPRD dan PEmda untuk mengusulkan penambahan mesin membantu kelistrikan di PEMDA. saat ini itu solusi tercepat disamping pembangkit angin dan air.

ini hanya salah satu usul yang mungkin dapat didiskusikan. Salam sukses untuk kemajuan Sumba, khususnya Waingapu

baringin nababan - USA
 
 
0 #1 Guest 2008-11-19 00:57
waaaahhh...payah ni klo listriknya mati,,gelap dunk..
sampai skarang jg sy tdk mengerti,koq bsa pedaman bergilir..kayaknya perlu diselidiki..jangan dibiarkan begitu saja,karena hal spt itu jg yg akan memberikan peluang bgi yang gatal tangan\"pencuri\",,,bukan hanya itu saja,siswa jg akan merasa terganggu,mau belajar,GELAP!! !palagi sekarang menjelang tes bagi siswa kelas 3
terimakasih...
 

Untuk mengirim komentar di situs ini, silahkan login dulu, atau gunakan layanan komentar dari facebook di atas :)

Berita Terkini

Drainase Wangga & Kambaniru: Telan Anggaran Lebih dari Rp. 3 Milyar
18 May 2012
article thumbnailWaingapu.com - Banjir yang sering melanda sejumlah wilayah di Kelurahan Wangga dan Kelurahan Kambaniru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur ( Sumtim), NTT, setiap tahun, pada saat musim...
Banner