| Putus Telinga |
|
|
| Kontributor: Yongky HS |
| Rabu, 10 Desember 2008 20:25 |
|
Pemilu kita yang akan digelar tahun 2009 kini geliatnya sudah mulai terasa. Maklum KPU memang memberi waktu yang cukup panjang untuk masa kampanye. Poster-poster partai dan caleg kini mulai tersebar di sudut-sudut jalan kita, dengan berbagai ukuran dan media. Selain itu banyak kita temui juga stiker-stiker, kartu nama, kalender serta brosur dan pamflet. Berkat kemajuan dibidang percetakan, membuat poster dengan full colour kini bukan lagi barang yang mahal. Sehingga warna-warni poster pemilu kini tampil lebih ngejreng dan mencolok mata setiap orang yang melihatnya.
Senyum-senyum terindah para caleg tak ada bedanya dengan poster-poster produksi kosmetik dan pasta gigi. Senyum mereka manis-manis… itupun masih dibumbui dengan jargon-jargon politik yang tak kalah manis. Pemilu memang tak ada ubahnya dengan ajang jualan. Sehingga masa kampanye selalu dipenuhi dengan iklan-iklan politik seperti model promo barang dan jasa. Koran , radio dan televise kita pun kebagian order yang lumayan besar di masa kampanye ini. Yang menarik untuk kita simak iklan-iklan politik ini sasarannya cenderung mengarah pada orang kecil dan rakyat biasa. Misalnya jargon seperti ini: peduli dengan kepentingan kaum miskin, berjuang demi mengentaskan kemiskinan, mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera, mengupayakan pendidikan dan kesehatan murah bahkan gratis dan macem-macem…. Nah iming-iming seperti ini bukankah selalu mengarah pada rakyat jelata? Mengapa demikian? Ya maklum saja, dalam wadah Negara kita yang kaya ini memang dihuni oleh rakyat yang notabene sebagian besar adalah kaum miskin. Sehingga taksalah apabila para caleg/partai politik selalu mencari dukungan dengan pendekatan: mendekati kaum papa. Sejak bergulirnya reformasi, kini setiap pemilu kita tak lagi disuguhi oleh pilihan model memilih kucing dalam karung lagi. Kini kita memilih caleg dengan banyak pilihan dan sesuai pilihan kita. Partai bukan lagi menjadi dasar pertimbangan untuk menggunakan hak pilih kita. Justru sekarang kita dihadapkan pada pilihan orang-orang dekat. Minimal kita memilih atas dasar kenal calegnya, walaupun itu hanya sebatas kenal. Tentu sulit bagi kita untuk tidak memilihnya bila calegnya itu adalah, paman kita, saudara kita, tetangga kita, ponakan kita, ipar kita, umbu kita dan lain-lain alasan yang berdasar pada kedekatan social. Dan terus terang kadar kwalitas akan sangat jauh dari dasar pertimbangan kita, entah kita yang tak tahu memilih sesuai kwalitas atau memang pilihanya yang sulit dipilah-pilah atas dasar kwalitas. Entahlah! KPUD kita sudah menetapkan Daftar Calon Tetap Peserta Pemilu 2009, ada 457 calon yang berlaga memperebutkan 30 kursi di DPR kita. Macam-macam profesi turut ambil bagian, mulai dari pendeta, guru, pegawai negri aktif dan pesiunan, wartawan, sopir, tukang ojek dan banyak profesi lain-lain. Demi pemenuhan keikutsertaan kaum perempun, caleg- perempuan juga mulai bermunculan walau masih sekedar pengembira/ pemenuhan kuota 30%, maklum animo kaum perempuan untuk terjun di dunia politik memang masih minim. Apa memang sebenarnya yang membuat kita begitu berminat untuk menjadi Anggota DPR? Gaji? Mungkin! Status social? Mungkin! Pilihan akhir? Mungkin juga! Idealisme? E….masih mungkin juga, walau kecil sekali kemungkinan yang ini! Memang banyak alasan orang untuk terjun dalam bursa caleg. Ini sekedar kajian anga-anga saja: Cobalah kita lihat betapa seorang anggota DPR adalah orang yang terhormat, statusnya membuat kita mau tidak mau menempatkan mereka sebagai anggota dewan yang terhormat. Gaji mereka juga tergolong wah untuk ukuran kita yang cuma tamatan setingkat SMU. Fasilitas yang didapat juga lumayan, sementara kerja mereka tidak banyak menuntut keahlian(maaf). Justru kerja terberatnya hanyalah bagaimana mereka bisa terpilih, itu saja! Sekali lagi ini hanya kajian anga-anga. Nah, inilah (barangkali) yang membuat si Dumu, si Ndilu, si Ani dan si Anu…berlomba-lomba mimpi untuk jadi Anggota DPR. Seratus persen anggota DPRD kita semua juga ikut kembali untuk berlaga sebagai caleg di Pemilu 2009. Ada yang mengalami peningkatan, kini sudah berani mencalonkan diri sebagai caleg tingkat Propinsi. Ada yang kembali berlaga dengan bendera partai yang berbeda, ada pula yang tetap mengendarai partai yang sama. Memang aturan kita tidak membatasi berapa periode seseorang bisa ikut berlaga sebagai caleg. Bahkan ada pula yang kini sudah memasuki periode ke-3 dan ke-4. Artinya apa? Artinya memang duduk sebagai anggota DPR ini membuai, memiliki kenikmatan, dan punya gengsi tersendiri sehingga mereka yang pernah duduk di sana jadi ketagihan. Makanya waktu kampanye menjadi ajang berlomba secara mati-matian, agar terpilih kembali. Segala issue berkaitan dengan masyarakat kecil kalau perlu diusung demi memperoleh dukungan mereka. Bumbu janji-jani juga mejadi bagian takterelakan dalam proses kampanye. Tapi jika mereka sudah benar-benar jadi anggota DPR, apa mereka masih punya kepedulian terhadap masyarakat kecil? Apa mereka benar-benar menjadi agen aspirasi rakyat? Apa mereka berkarya semata-mata demi kesejahteraan rakyat? Atau justru tasibuk sendiri demi kepentingan sendiri? Tutup mata terhadap rakyat yang kelaparan disaat mereka bisa makan enak? Ah maaf tulisan ini menjadi serius begini, maklum bicara dunia politik dengan literer manapun pulang-pulang kita akan lebih mengarah kepada aspek-aspek riil yang kita rasakan. Apapun teorinya, apapun aturanya, apapun lembaganya, siapapun pelakunya, selalu berpulang pada apa-apa yang kita rasakan. Jadi walau kapatang urusan politik kita-kita ini juga punya hak sok tahu, minimal hanya sekedar pani anga di dekr-deker, babisik di warung-warung, batulis di kolom-kolom surat pembaca, posting di situs web dan di mana-mana. Bukankah kita juga mengenal istilah vox pupuli vox deo, bahasa rakyat adalah bahasa Tuhan. Tapi siapa yang mendengar bahasa rakyat ini? Bukankah bahasa Tuhan justru bisa didengar dengan hati? Wah tambah kalukut otak kita kalau kita ngomong dengan istilah bahasa Tuhan. Baik, ini sekedar intermezo. Ketika saya menulis ini, istri saya sedang memasak kuah asam ikan kombong. Bau harumnya sampai ke meja tempat saya menulis, dan otomatis selera makan saya langsung timbul. Kuah asam ikan kombong, dimakan dengan sambal super pedas, nasinya panas dan di makan siang-siang begini, hemmm nikmat betul, istilah kita mengatakan: makan sampai putus telinga. Anda kenal dengan istilah ini? Makan sampai putus telinga, entah bagaimana atau dari mana istilah ini muncul. Kalau orang Jawa punya istilah yang saya tahu; makan sampai perut meledak. Maksudnya makan keenakan sampai kekenyangan. Tapi ini lain, makan enak kok malah telinganya yang putus? Haha.. Makan sampai putus telinga; mari kita buat kajian filosofis terhadap istilah ini, tapi ini kajian anga-anga saja. Jadi salah dan tidaknya jangan terlalu ditanggapi serius. Semangkuk kuah asam ikan kombong plus sambal super pedas plus sepiring nasi plus dimakan siang-siang. Bagi lidah Sumba secara umum, hidangan ini sudah memiliki nilai plus alias nikmat sekali. Namanya nikmat sekali, kadang-kadang kita lupa bahwa kita sudah kenyang, kita juga sering lupa berbagi dengan orang lain. Karena talalu nikmat kadang kita juga tidak hawel dengan orang sekitar. Bahkan mungkin kalau ada yang ingin meminta untuk sekedar mencicipi kita tak bisa mendengar permintaan itu, maklum talalu nikmat telinga kita jadi tuli. Haha benarkah kajian ini? Takperlu Anda jawab karena ini cuma kajian anga-anga alias harba-biru. Ini sudah di penghujung tahun 2008, masa bhakti anggota DPR kita periode 2004-2009 segera habis. Secara Nasional selama masa periode itu kita masih sering disuguhi berita-berita miring sebagian oknum anggota DPR kita. Skandal-skandal mengenai structural keorganisasian, skandal moral, skandal keuangan dan skandal-skandal lain disuguhkan di media kita secara bertub-tubi. Lalu kita bertanya; Bukankah semasa kampanye dulu mereka begitu gigih bicara segala macam atas nama rakyat? Bukankah aspek moralitas juga selalu jadi senjata andalan mereka untuk merebut hati rakyat? Tapi ketika mereka sudah mendapat kepercayaan rakyat, sudah duduk sebagai anggota dewan yang terhormat, sudah mendapat fasilitas dan status sosial yang mapan, sudah bisa makan dan minum secara enak. Mengapa mereka begitu mudah terjerumus pada skandal-skandal seperti itu? Kapan mereka memenuhi janjinya untuk berjuang demi kesejahteraan rakyat? Kapan mereka melunasi janjinya kepada rakyat? Jangankan memperjuangkan kepentingan rakyat mendengarkan rakyat saja sudah sulit. Mungkin benar hata istilah orang Sumba, barangkali mereka su talalu kenyang makan enak sampai putus dong pu telinga. Wah sudah jam dua siang, hujan turun tiba-tiba, listrik padam lagi, saya sudah lapar sekali. Saya mau makan semangkuk kuah asam ikan kombong ada sambal trasi pedas dan sepiring nasi hangat. Walau gelap karena hujan deras dan listrik padam, saya mau makan menggunakan satu tangan saja. Kenapa? Karena tangan saya satunya untuk memegang telinga? Kenapa? Takut bunyi petir? Tidak! Bukan apa-apa saya cuma takut telinga saya putus… hahaha! Waingapu, 08 Desember 2008 Catatan: artikel ini juga dipublikasikan di Tabloid Dwi Mingguan: Waingapu Pos , Jan'09 |




Komentar
Wajah manis senyum manis janji manis pokoknya yang serba manis itu sangat berbahaya karna menyebabkan penyakit gula.
oya di sumba tuh kalo kampanye caleg2sibuk , kenapa??? karena pengen punya mobil plat merah.. kemana2 naik mobil plat merah , sampe urusan pribadipun pake mobil plat merah.. lebih parah lagi banggany di atas langit..
dari jauh saya sarankan kpd warga sumba timur, pilihlah pemimpin yang tidak bermuka duitan.. yang tdk sombong.. sombongny karena,,, mau tau tidak??? karena naek mobil plat merah.. klo udah pny mobil, bangganya aduh , baik klo mobil sendiri.. ketemu keluarga aja di jalan tdk tegur.. sadarlah org kaya tidak mungkin juga kalian kaya terus.. dunia berputar.. jadi selama kalian jaya, jangan tll sombong na.. emang kekeyaanny segudang ya????
perhatikan orang yang membutuhkan kalian.. jangan tll sekikir jg dengan orang.. memberi selagi ,,,y masi jaya.. karena kekayaan tu tidak lama saja..
kalian mati, tidak bawa jg...
salam hangat dr salatiga
SEMOGA BERMANFAAT
GOD BLESS US
kenapa mereka setelah menjadi anggota dewan selalu lupa akan janjinya waktu kampanye,karena mereka sudah terlalu terlena dengan apa yg mereka miliki saat ini,gaji bagus,kedudukan punya ach masa bodo dengan rakyat kecil yg pasti gw mau nikmatin dulu ach begitu kira-kira yang ada di benak mereka...secara waktu kampanye gw dah abisin uang banyak sekarang saatnya untuk balikin modal atau kalo perlu ngambil untung,,,kata ABG Cuape deeee....
emang sie itu urusan mereka sama Tuhan cuman kasian rakyat kecil yang sudah di tipu.....akhirnya orang akan jadi males ikut pemilu secara dari pemilu ke pemilu orang kecil di bodohi terus...ya akhir kata saya sebagai warga waingapu di perantauan cuman mau bilang kepada anggota legislatif di SANA kalo mau berkarya tolong Pake Hati Nurani anda...jangan mikirin kekayaan,kalo mo kaya jangan jadi anggota DPR tapi jadi pengusaha.....dan kekayaan yg anda dapat itu dari hasil yang bener jangan Korupsi.....salam dari Jakarta
ternyata di sumba...ada copianx y....???
aq mau saranin nih...bg para tim sukses..kalau dah habis pemilu tlg agar baliho artis2 musiman aq jgn dibakar...yy plizzhh...
soalx klu mrk dah jd pemenang piala oscar 2009,...mrk tu susah skali diliat wajahx pa lg ketemu, soalx aq ini orang yg tinggalx di kampung..pa lg krn mrk tu takut panas...dan mrk hax mau didalam mobil ber-AC dn gedung ber-AC... yahh maklum aja..namax jg artis...emang gue pikirin...
Gimana bang Mone \'09...lu stuju ko sonde...??? Nanti b sonde kasi masuk lu di Tipi..Wan.. lebih tenar dri caleg lho..
RSS feed untuk komentar posting ini.