Rahasia Penomoran Kode Barang (Barcode) |
|
|
|
| Ditulis oleh Admin |
| Rabu, 16 Juni 2010 01:13 |
|
Kamu pernah belanja di supermarket, kan? Jika pernah, kamu akan melihat kejadian ini. Kasir menyorotkan sinar merah pada garis hitam yang tertera pada barang yang dibeli. Terdengar suara “tit”, lantas nama dan harga barang tertera di layar komputer. Kadangkala, alat yang dipegang kasir tidak berfungsi sehingga kasir mesti mengetik kode barang di komputer. Setelah selesai, giliran kamu merogoh dompet untuk membayar. Coba kamu bayangkan, jika kasir harus mengetik kode setiap barang yang dibeli. Pasti dibutuhkan waktu lama untuk membayar di kasir dan antrian menjadi semakin panjang. Untunglah, seorang ilmuwan bernama Norman Joseph Woodland menciptakan kode barang (barcode) yang membuat proses pembayaran di kasir menjadi lebih mudah. Percakapan Direktur Pabrik Ide tentang barcode sebenarnya bukan murni gagasan Woodland. Awalnya, seorang mahasiswa bernama Benhard Silver mendengar percakapan antara direktur pabrik makanan dengan dekan di Institut Teknologi Drexel, Philadelphia. Sang direktur meminta agar dekan mengadakan riset untuk membuat alat pembaca informasi produk otomatis. Permintaan itu ditolak. Silver menemui Woodland dan menceritakan kejadian tersebut. Muncul gagasan Woodland untuk membuat sistem pengkodean barang. Awalnya, Woodland mencetak kode barang menggunakan tinta khusus yang berpendar di bawah sinar ultraviolet. Pada prinsipnya, ide Woodland bisa diterapkan. Masalahnya, tinta yang digunakan kelewat mahal. Woodland tidak putus asa. Ia keluar dari pekerjaan sebagai dosen untuk menuntaskan ide tentang kode barang. Akhirnya ia menemukan ide membuat kode barang menggunakan pola garis berwarna hitam. Garis pertama adalah penanda dan posisi garis berikutnya berjarak tertentu dari garis pertama. Kombinasi jumlah dan jarak antargaris bernilai tertentu. Sistem pengkodean ini diberi nama barcode karena berbentuk batang (bar). Untuk membacanya digunakan alat pemindai yang disebut barcode scanner. Di bawah barcode tertera angka-angka yang merupakan “nilai” dari kombinasi garis itu. Angka-angka itu akan diketikkan kasir jika barcode scanner gagal memindai. Diatur secara Internasional Penggunaan barcode diatur sebuah organisasi bernama International Article Numbering Association (EAN) dan berlaku secara internasional. Setiap barcode berisi tigabelas digit, terdiri atas kode negara, kode perusahaan, kode produk, dan check digit. Kode negara terdiri atas tiga atau dua digit, berisi informasi negara tempat perusahaan yang memproduksi barang itu. Kode perusahaan merupakan nomor register perusahaan di negara tersebut. Barang yang diproduksi perusahaan yang sama memiliki kode perusahaan yang sama. Kode produk merujuk pada sistem penomoran produk pada sebuah perusahaan. Misalnya, perusahaan X memproduksi mie instan merek A, B, dan C. Setiap merek mie instan mempunyai nomor sendiri. Chek digit merupakan momor tambahan agar barcode memenuhi aturan yang ditetapkan EAN. Kode Negara pada Barcode (dibuat bagan melebar 3 kolom) 977: Penomoran media massa Sumber: http://wacanbocah.wordpress.com/2008/05/13/rahasia-penomoran-kode-barang-barcode/ |




Komentar
RSS feed untuk komentar posting ini.