|
Permisi sebelumya, bolehlah Anda menerka apa kira-kira maksud dari rentetan kata-kata yang menjadi judul tulisan ini. Mohon maaf pula bila Anda kesulitan menerka artinya bahkan mungkin Anda mengira itu bahasa Asing. Padahal ini hanyalah pemeo dan permainan kata dalam dialek Sabu (Masara) yang pernah muncul di Waingapu tempo dulu.
Ceritanya begini, tapi ini hanyalah ceritera ‘dari mulut ke telinga’ bukan dari mulut ke mulut. Kalau dari mulut ke mulut itu cocoknya untuk ciuman atau membuat napas buatan. Dulu sekitar tahun enam puluhan waktu di Waingapu masih jarang sekali ada oto, hal-hal yang berkaitan dengan oto mogok atau kecelakaan selalu menjadi isue dan tontonan menarik. Suatu ketika seorang keur master/juru kir oto, iseng-iseng membawa oto milik misi, ia mengendarai oto itu dengan kencang. Ketika sampai di jembatan Payeti ia tidak dapat bok maka meluncurlah oto masuk got di dekat bekas Kantor Penerangan sana. Orang lalu berkerumun melihat oto yang masuk got itu. Polisi datang dan menanyakan pada si sopir oto alias si keur master tadi; Ada apa ini? Entah karena gugup atau karena apa, ia langsung menjawab dengan spontan; Sa inja re, re nda maka, lolo masu go! Semua orang yang ada di situ tertawa mendengar jawabannya yang begitu kental aksen Sabu-nya. Karena maksud kalimat itu adalah:Saya injak rem, rem ndak/tidak makan, lolos masuk got.
Karena kalimat ‘inja re, re nda maka lolo masu go’ terdengar unik, sejak saat itu kalimat itu menjadi pemeo dan populer di Waingapu. Ada yang versi lain; ‘re-re nda maka lolo masu go’. Kisahnya pun banyak versinya, maklum ini sekedar ceritera dari mulut ke telinga keluar lagi dari mulut balik ke telinga lagi alias kisah ‘dorang bilang’. Walau ini sekedar pemeo, namun ada sesuatu yang menarik di sana. Rem adalah kelengkapan vital kendaraan entah itu kendaraan roda dua, tiga, empat, lima (eh roda lima ada juga ya? Anggap saja yang satu roda cadangannya), roda enam dan seterusnya. Sudah banyak tragedi kecelakaan lalu-lintas yang disebabkan karena tidak bagusnya fungsi rem. Bahkan kecelakaan yang disebabkan oleh tidak bagusnya kondisi kendaraan, jeleknya kondisi rem bisa jadi memiliki peringkat teratas. Sebagus apa pun kendaraan Anda, berhati-hatilah bila kondisi rem-nya tidak bagus. Kita boleh bangga karena kendaraan kita punya cat, ac, asesoris, lampu, interior, suspensi, akselerasi dan kecepatan yang bagus, tapi bila tanpa diimbangi dengan rem yang bagus, hati-hatilah bisa lolo masu go....
Selain rem kendaraan yang harus bagus, ada baiknya juga kita selalu rawat kondisi rem yang lain, yaitu rem dalam hidup kita. Sebagai manusia yang dikaruniai dan dibebani oleh ego, kita seringkali tanpa sadar memacu dengan kencang ambisi dan nafsu kita. Kemapanan, kelimpahan, kenikmatan, kehormatan dan kekuasaan seringkali takubahnya seperti kendaraan mulus yang membuai kita untuk memacunya semakin kencang, kencang dan kencang. Memang tak ada salahnya kita menikmati kemapanan, kelimpahan, kenikmatan, kehormatan dan kekuasaan, tapi kita juga dituntut untuk memiliki rem yang bagus agar tidak terperosok dalam jurang kerakusan dan jurang keserakahan.
Banyak orang berupaya mendekatkan diri pada Tuhan lewat doa-doa, ibadah-ibadah, renungan-renungan dll. Sebagian orang lagi lebih suka bermeditasi, berbuat amal, melakukan puasa-puasa dll. Lain orang lagi lebih suka memagari hidupnya dengan moto-moto hidup, menggali kearifan dari kaidah-kaidah filsafat dan mencari petuah-petuah dari para ‘guru’ dll. Semua itu takubahnya sebagai sebuah rem dan apapun bentuk serta wujud rem hidup Anda, pastikan rem itu berada dalam kondisi baik dan bekerja dengan sempurna agar kita tidak terperosok seperti yang tersirat dalam pemeo kita tadi. Terjerumus dalam dunia narkotika, terjerumus dalam perzinahan, terperosok dalam perjudian, korupsi, kekejian, kebengisan, angkara murka dan segala macam wujud kejahatan, bukankah semua ini disebabkan oleh rem hidup kita yang tak hidup alias blong?
Wah maaf, bicara rem hidup memang lebih rumit daripada rem yang sesungguhnya. Mau bicara rem yang sesungguhnya juga perlu belajar automotif dulu, lebih baik kita bicara rem dalam pemeo tadi saja. Injak re, re nda maka lolo masu go, bagi telinga awam memang terasa unik pemeo atau permainan kata dengan dialek Sabu (Masara) ini. Anda suka juga dengan pemeo ini? Baik saya coba permainan kata yang lain tapi dengan catatan jangan berpikiran ngeres dulu.
‘Mati literi popa lapu’ wah apa lagi ini?.Sabar!. Sabar!. Jangan ngeres dulu, kalimat ini berasal dari kalimat ‘Mati listrik pompa lampu’. Maksudnya jelas kalau listrik mati ya kita nyalakan lampu minyak saja. Lampu yang dimaksud adalah lampu minyak seperti petromak/tingkwang/buterfly dll, kita di Sumba biasa menyebut itu dengan istilah lampu gas. Karena listrik kita sering padam ada baiknya Anda juga sedia lampu gas itu. Bagaimana? Unikkan? Ya itulah pemeo kita yang kita miliki. Apa? Anda mau contoh yang lain? Baik ini satu lagi; ‘Pele di tebo hanta di didi’, bingung? Ini bukan Pele legenda sepak bola itu lho. Pele itu maksudnya halangi, bisa pula diartikan tempel/menempel. Hanta berasal dari kata hantam, dan tebo berasal dari kata tembok. Jadi lengkapnya; ‘pele di tembok hantam di dinding’ ini sebenarnya cuma istilah layar tancap/atau bioskop/proyektor/viewer. Tutup (dengan layar) di tembok, hantam (sorot) di dinding, nah kalau gitu jelaskan? Wah rupanya Anda belum puas juga dengan pemeo-pemeo unik dari Sumba yang bergaya Sabu (Masara). Baiklah, anggap saja ini bonusnya, tapi ini stok terakhir.
‘Iku te kalu lolo, lasu maka dagi’. Anda paham maksudnya? Jangan kuatir ini masih seperti yang tadi bukan sesuatu yang ngeres, kecuali kita berpikiran jorok, itu bisa diasumsikan jorok pula. ‘lolo, lasu’, kalau diasumsikan jorok bisa jadi penis dan makian. Tapi bukan itu maksudnya, ini justru kalimat yang bisa dikatagorikan sebagai petuah. Kok bisa? Ya bisa saja asal kita menangkapknya secara positif. Begini jabarannya, kalimat itu lengkapnya adalah; ‘Ikut tes kalau lulus/lolos, langsung makan daging’. Makan daging bagi kita itu mewakili kata pesta atau syukuran. Tes/ujian kemudian lulus/lolos, bukankah itu sesuatu yang patut disyukuri? Karena kita suka pesta, maka itu layak/patut dipestakan. Makna lainnya kalau Anda lulus atau lolos ujian atau tes (misal UAN, CPNSD dll) jangan lupa mensyukurinya. Nah, petuah yang indahkan?
Apa? Anda masih mau pemeo yang lain? Baik, anggap ini bonusnya bonus. Selain ini, kalau Anda masih mau yang lain silahkan cari sendiri atau bikin aja sendiri ya. Nih kalimatnya begini; ‘Abi ligi cuki batu’, wah kedengarnya seperti bahasa Itali ya? Abi berasal dari kata .ambil’, ligi dari kata ‘linggis’, cuki arti harfiahnya memang senggama tapi ‘cuki’ di sini maksudnya cungkil. Kalau ‘batu’ ya asli dari kata batu, jadi maksud dari kalimat itu adalah; ambil linggis untuk mencungkil batu.
Mungkin Anda sempat senyum-senyum, memang dialek Sabu (Masara) benar-benar memiliki pengucapan kata yang sangat unik. Penekanan kata perkata atau intonasinya juga terasa rumit bagi lidah Jawa saya. Hampir 20 tahun di Sumba, walau bahasa Sabu sering dipakai oleh masyarakat Sabu di Sumba, tapi saya tetap kesulitan mengucapkan kata-kata dari bahasa Sabu dengan aksen yang benar. Sebelum Anda minta bonus lagi tentang pemeo-pemeo unik dari Sumba dengan gaya dialek Sabu (Masara), baiklah ‘sa kasi ni sa’ (saya kasih ini saja);
‘Tu ka bole ami ri ke, bole bani ama o....’, wah Anda yang tidak tahu pasti mengira ini bahasa planet lain. Bukan! Ini juga bukan pemeo atau permainan kata dalam dialek Sabu (Masara), tapi ini benar-benar bahasa Sabu (tapi maaf kalau saya salah menuliskannya). Arti dari kalimat itu adalah; ‘Cukup sudah jangan minta lagi, jangan marah bung’. Arti dibalik kalimat itu apa? Maksudnya; ya sudah cukup sampai di sini, saya rem dulu tulisan ini sebelum kehabisan bahan dan jadi nglantur ke mana-mana. Ciiiiiiittttt....!!!
Waingapu, 20 Pebruari 2009 |
Komentar
sukses bung......
ko pi mana = kamu pergi ke mana?
memang, saudara kita, do hawu dorang, ini, suka bikin lucu.. tapi, itulah keindahan Waingapu... sangat indah berada ditengah2 mereka, meski saya sendiri juga tidak bisa bahasa Sabu..
Sesuai dengan Firman TUHAN, Musa memukul tebing batu dan keluarlah air dari batu tersebut, sehingga bangsa itu dapat minum.
Lalu berserulah bangsa itu : "Sekarang... sumber air... su deka......at. Beta sonde....... terlambat lagi. Sekarang...... beta bisa...... bantu mama...... ambil air...... buat rebus adik...".
ha...ha... ha...
predhtz, ko pi rebus ko pu adik? macam petatas saja, ko pu adik itu....
su kaya "lele" kalian...tuh istilah gaul anak sumba di ygy he...
sa pi sa pu mama(sapi sapu mama)???
saya pergi ke saya punya mama hehehehe.....
RSS feed untuk komentar posting ini.