Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milikNya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita. (II Kor 1:21-22)
Itulah motto hidup kelima Diakon yang ditahbiskan pada 1 Januari 2008 di Gereja Sang Penebus Waingapu oleh Mgr. G. Kherubim Pareira, SVD Uskup Maumere yang mantanuskup Waitabula. Kelima Diakon itu adalah Mikael Sene, PR., Fabianus Gau, PR., Hugo Umbu Raga, PR., Atanasius Tarsisius Ndate, PR., dan Polikarpus Hapu Mehang Praing, PR.
Berikut ini hasil wawancara penulis dengan salah seorang dari mereka, Diakon Polikarpus Hapu Mehang Prainga, PR.
Penulis (P): Bagaimana biodata Romo?
Romo (R): Nama saya sesuai surat permandian; Polikarpus Hapu Mehang Praing. Karena sudah ditahbiskan menjadi imam pada 01-10-208, lengkapnya Rm. Polikarpus Hapu Mehang Praing, Pr. Kalau dalam ijasah sekolah nama saya cuma ditulis Polikarpus Mehang Praing dan saya tidak mengetahui pasti mengapa ‘Hapu’-nya tidak dicantumkan waktu itu. Saya lahir di kampung Mauliru pada 29-11-1978. Dulu Mauliru masih desa, sekarang kelurahan di Kecamatan Kambera
P: Bisa cerita sedikit tentang keluarga Romo?
R: Kalau cerita tentang keluarga tentu panjang dan banyak pengalaman. Lewat ini, saya cuma mau katakana sau-dua hal kecil. Keluarga saya tinggal di kampung. Bapak saya Antonius Karipi Lambanggeding meninggal ketika saya sudah tahun ke-2 di KPA (Kelas Persiapan Atas) di Mataloko, Bajawa. Sedangkan mama Bernadete Konga Naha masih hidup. Orang tua saya bertani juga, setahu saya mereka suka pelhara ternak dan bisa membuat kain sarung adat yang bisa dijual. Mereka orang yang suka bekerja keras. Misalnya bangun pagi untuk tumbuk jagung atau padi, pergi ke kebun dari pagi buta sampai siang hari. Mereka bisa setia mengurus pembuatan kain sejak ‘kabuluku’ (menggulung benang menjadi suatu bulatan) hingga selesai ‘tinungu’ (tenun) dengan proses danwaktu yang panjang. Karena itu sangat dimaklumi sebagai anak-anak bersama mereka tidak boleh malas-malasan dalam kerja. Biasanya orang tua marahami tidak mau bila kami tidak mau bekerja.
Hal lain ada juga, ‘sharing’ rohani saya bersama orang tua. Mungkin sederhana tapi saya rasakan memekas dalam ingatan saya. Bapak saya paling tidak senang dengan orang yang malas ke gereja. Bagi di, hari minggu khususnya adalah hari untuk ke gereja. Jadi semua orang dalam rumah pada hari minggu wajib ke gereja dan pintu rumah ditutup. Bapak marah kalau ada anggota keluargayang tidak ke gereja. Selain itu, menarik, meskipun dia orang kampung, namun banyak kesempatan yang menjadi praktek hidupnya yang nampak. Kalau makan atau mandi, juga kalau langgar kali, dia selalu buat tanda salib, atau kalau sudah malampulang dari suatu tempat dan bilakami didapatinya sudah tidur ia selalu memegang kepala kami satu per satu dan dibuat tanda salib, entahlah perasaan mama, kakak dan adik yang lain. Momen yang satu ini kalausaya pribadi sangat senang dan bangga kalau suda dibuat tanda salib di kepala karena tanganya terasa dingin saat ia memegangnya.
Dalam keluarga kami ada enam bersaudara. Tentang kakak dan adik, mereka seperti orang tua juga. Pekerjaan mereka umumnya bertani. Kakak-adik memang pernah disekolahkan tapi tidak tuntas, dan hamper semua sudah berkeluarga. Mereka cuma berijasah SD dan SMA, dan sekarang masih satu orang yang belajar di SMP.
P: Riwayat pendidikan Romo dari SD hingga Perguruan Tinggi?
R: 1985/1986 – 1990/1991, SDK Praikundu-Lambanapu.
1991/1992 – 1993/1994, SMPK Padadita-Panda Waingapu.
1994/1995 - 1996/1997, SMAK Anda Luri- Waingapu.
1997/1998 – 1998/1999, Seminari Menengah St. Paulus Mataloko- Ngada, Floresa.
1999/2000, TOR Lo’o Damian Atambua-Timor
2000/2001- 2003/2004, Studi Filsafat di UNIKA – Kupang
2004/2005, TOP di Paroki Roh Kudus Weetabula, Sumba Barat.
2005/2006, TOP II di Paroki St. Mateus Palla, Sumba Barat.
2006-2008, Studi Theologi di Seminari Tinggi St. Mikael, Kupang.
Juni-September 2008, Praktek Diakonat di Paroki St. Yosef Manola, Sumba Barat.
01 Oktober 2008, ditahbiskan menjadi imam.
P: Motivasi Romo mau menjadi imam?
R: Pertama-tama saya harus katakana bahwa segala sesuatu ada pada Tuhan dan banyak hal yang tersembunyi bagi manusia dan hanya pada Dia. Sebagai manusia saya bisa mengatakan, bahwa motivasi menjadi imam khususnya, tidak bersifat langsung. Sekedar untuk bernostalgia, keinginan saya dulu tidak langsung menjadi imam tapi hanya inginmenggantikan orang yang setiap hari minggu memimpin ibadah, dalam hal ini guru-guru agama. Ingin tampil dalam berbicara. Itu menjadi bekal awal dalam perjalanan dan orientasi pikiran saya waktu itu belum sempurna untuk menjadi imam, yang mana mesti diperhatikan syarat-syarat atau persiapan diri yang ketat. Jangankan berpikir untu menjadi imam, mencari informasi tentang seminari pu tidak ada dan tidak tahu. Tapi saya harus garis bawahi, apa yang disebut keinginan saya yang sederhana itu, oleh karena penyelenggaraan Tuhan, ternyata d iluar jangkauan pikiran saya, telah menjadi jembatan untuk berjalan. Dalam perjalana inilah saya menyadari bahwa motivasi itu berbunga/ berkembang yang menurut saya adalah karya ajaib Allah sendiri. Saya menemukan dalam kedalaman hati ini bahwa motivasi saya menjadi imam adalah mau menjadikan diri saya sebagai sarana kecil dan sederhana di tangan Tuhan untuk menyampaikan khabar baikNya kepada banyak orang. Sayamau menjadi imam karena inilah saatnya memenuhi kerinduan saya yang mau membina persatuan akrab dengan Tuhan perjalanan hidup khusunya dalam tugas dan pelayanan. Sebagai ungkapan iman dalam ziarah hidupku, saya menyadari Tuhan-lah yang memulai dan merencanakan seluruh hidupku.
P: Suka duka Romo selama menjalani pendidikan Imamat?
R: Menjadi imam yang ditahbiskan sudah merupakan penantian saya bertahun-tahun. Selama kurang lebih 11 tahun ini pendidikan di Seminari Menengah dan Seminari Tinggi, saya sungguh mecintai dan memilih jalan panggilan ini.ketika terjadi pentahbisan pada 01-10-2008 bagi saya sungguh suatu momen yang tidak bisa saya lupakan sampai kapan pun.
Rasa cinta saya pada pilihan menjadi imam ini banyak ceritanya. Saya mau katakana tidak mudah juga mengharmoniskan dalam hati dan pikiran tentang jalan hidup ini karena terlalu banyak tuntutan yang memang merupakan konsekuensi. Misalnya, kalau nilai sudah mulai turun sedikit, saya jadi stress dan sampai tidak bisa tidur siang dan malam. Bahkan malu dengan kawan-kawan yang lain. Kalau kena tegur atau diberi peringatan oleh Pembina, hati ini penuh dengan kegelisahan; saya jadinya tidak tenang.belum lagi masalah-masalah yang datang dari diri sendiri, teman dan keluarga yang kadang-kadang frekwensinya cukup kuat. Sebaliknya, ketika posisi hidup saya aman dan harmonis saya juga mengalami kebahagiaan dan kedamaian. Saya mau mengatakan bahwa pengalaman-pengalaman itu menjadi jalan refleksi hidup yang sambil berserah diri pada Tuhan untuk berjuang agar senantiasa kuat dan setia dalam menggapai Imamat ini.
P: Waktu memilih profesi ini, bagaimana pendapat orang tua Romo?
R: Yang pasti orang tua termasuk bapak saya yang sudah almarhum tahu bahwa saya masuk seminari untuk menjadi imam. Bapak dan mama pernah mendatangani surat pernyataan masuk seminari. Lagi, saya ingat waktu di Seminari Menengah setelah bapak meninggal, mama (Bernadete Konga Naha) membuat satu surat pernyataan dengan tulisan tangan untuk menyerahkan saya masuk seminari lengkap dengan tanda tangan. Karena itu saya boleh katakana mereka juga mendukung saya untuk menjadi imam. Namun saya harus katakana juga bahwa pilihan menjadi imam adalah keputusan bebas pribadi sesuai bisikan suara hati saya sendiri.
P: Sehubungan dengan point suka-duka Romo selama menjalani pendidikan Imamat, Romo punya obsesi?
R: Sembari berserah diri dan berdoa kepada Tuhan yang kini sudah menahbiskan dan menjadikan saya imamNya, saya mau katakana bahwa saya mau menjadi imam bagi Tuhan dan bagi sesame.
P: Romo merupakan Imam Pertama Putra Kambera. Hal ini selalu diungkapkan dalam sambutan-sambutan pada saat pentahbisan. Apa komentar Romo? Atau apakah Romo punya beban moril sebagai pendahulu untuk pangilan-pangilan berikutnya dari Kambera?
R: sebagai imam baru, beberapa hari sebelum dans esudah tahbisan saya sendiri juga selalu mendengar ungkapan atau komentar seperti itu. Boleh-boleh saja orang berkomentar demikian karena ada kegembiraan dan suka cita. Sebagai manusia saya sendiri juga bangga. Tapi baiklah disimak pula, sekedar menggarisbawahi, saya teringat ( dalam sambutan hari tahbisan, Pater Administrator Keuskupan Weetebula P. Edmund Woga) harap tidak keliru, beliau mengatakan sesungguhnya sekarang ini, dari waktu ke waktu Tuhan melakukan perbuatanNya sendiri untukkita dan dunia ini. Ini berarti mesti juga yang menjadi focus kita yang utama adalah anugerah dan rahmat Tuhan yang dinyatakan kepada kita, dengan memilih seorang di antara kita untuk menjadi imamNya.
Saya sudah memilih menjadi imam dengan hati yang ikhlas dan mencintaiNya. Jadi bagi saya kalau sudah mencintai dan memilihnya sulit dibahasakan sebagai beban. Yang ada dalam benak saya, sebagai manusia yang memiliki kelemahan dan keterbatasan, adalah berdoa kepada Tuhan agar masih ada yang ikut saya jadi imam. Meti adayang jadi wunang karenja(imam), supaya kana dangu na tau ma hamayang (supaya banyak orang yang menyembah Tuhan) khusunya yang membawa lii luri – lii manangu la tamu nai Miri Yehu. (Jalan kehidpan-jalan kemengan dalam Nama Tuhan Yesus).
P: Romo imam pertama putra Kambera. Juga baru menerima tahbisan. Sebagai imam baru yang memulai debutnya di Paroki Manola yang masih asing bagi Romo, dan lagi pula budaya agak berbeda, kiat-kiat apa yang Romo lakukan?
R: SK penempatan sebagai imam baru, benar bahwa saya di Paroki Manola tetapi tempat itu bukan suatu yang asing sama sekali buat saya. Waktu menjalankan praktek diankonat selama Juni hingga September 2008, saya ditempatkan di situ. Meskipun pekerjaan itu akan banyak dan akan banyak pula tantangan yang memang akan dihadapi dalam Paroki ini tapi untuk saya paling kurang sudah mengenal sedikit tentang keadaan Paroki Manola ini sebagai modal awal. Juga selama beberapa bulan itu sudah mengenal orang-orang setempat sekalipun tidak semua. Sekedar untuk diketahui, Paroki ini ada di Kecamatan Wejewa Selatan, Sumba Barat Daya. Demikian pula, pasti aka nada kiat-kiat yang akan dibagun yaitu dalam konteks karya pastoral itu sendiri.
P: Romo memelihara hoby?
R: Ya. Salah satu hoby saya adalah bermain bola kaki. Saya pernah jadi bintang kok di Paroki Manola…ha…ha…ha…ha…!
P: Romo tolong jelaskan perbedaan penggunaan terminology, ‘Romo’ dan ‘Pater’!
R: Stahu saya, banyak orang menggnakan demikian; kalau Romo itu untuk para imam projo dan Pater untuk imam serikat. Sebenarnya ungkapan ini sama saja yang berarti bapak. Pater bahasa Latin dan Romo bahasa Jawa. Hemat saya bukan masalah kalau kita memanggil Romo atau Pater,entah itu imamnya dari projo atau serikat/konggregasi.
P: Dalam konggregasi ada 3 macam ketaatan. Ada perbedaan dengan projo?
R: Harap saya tidak keliru. Dalam konggregasi ada 3 kaul; kaul kemurnian, kaul ketaatan, dan kaul kemiskinan. Tiga kaul inlah yang seperti dikenal dalam konggregasi, namun hal-hal tersebut tetap menjadi prinsip, semangat atau spiritualitas hidup yang dihayati dan ditaati sebagai seprang iamam. Salah satu yang bisa dikenal pada imam projo adalah selibat/janji untuk tidak kawin.
P: Teolog-teolog yang Romo kagumi?
R: Semua teolog patut dikagumi. Secara tertentu mereka adalah orang-orang yang mampu berpikir dan memberi pemahaman tentang Allah. Meskipun saya adalah belajar teologi dan membaca banyak pikiran para teolog, hanya belum ada teolog yang menjadi idola pribadi saya, di mana saya selalu mengikuti dan mendalami seluk beluk pemikiran-pemikiran secara persis.
P: Romo kenal Karl Ranner?
R: Dia juga adalah seorang teolog bahkan seorang teolog terkenal di dunia. Pasti semua orang yang belajar teolog mengenal nama orang ini. Ketika kami belajar di Seminari Tinggi, pemikiran orang ini juga yang banyak kali dikenal dan dibahas.
P: Komentar Romo tentang film ‘The Davinci Code’ yang santer akhir-akhir ini karena mendiskreditkan Yesus. Kalau tidak salah, film ini diangkat dari buku Brawn ( Mencari Cawan yang hilang)!
R: Ya, mohon maaf saja, film ini saya belum pernah tonton dan buku-bukunya meamang saya pernah pegang-pegang dan lihat-lihat tapi belum mendalaminya. Saya mendengar komentar orang, kalau itu hanya fiktif dan sensasi belaka untuk mencari ketenaran nama pengarang, entah benar atau salah saya juga belum tahu persis.
P: Mungkin masih ada hal-hal yang ingin Romo kemukakan?
R: Saya hanya mengucapakan terima kasih. Pertemuan dengan media ini adalah satu kebanggaan dan kehormatan bagi saya. Mohon maaf kalau ada hal-hal yang belum memuaskan jawaban-jawaban di atas. Tuhan memberkati.