Rumahku Di Atas Hotel |
|
|
|
| Ditulis oleh Yongky HS |
| Kamis, 30 Oktober 2008 23:07 |
|
Malam tanggal 29 Oktober 2008, saya diundang oleh Admin Waingapu.Com untuk hadir di rumahnya dalam rangka ulang tahun Waingapu.Com yang ke-3. Walau Waingapu sebenarnya terhitung sebagai kota kecil, tapi saya sempat juga nyasar mencari lokasi rumah Admin tersebut.
Secara samar Admin mendiskripsikan lokasi rumahnya; “di belakang SD Masehi Payeti 2 Tandairotu, tanya saja orang-orang di situ rumah orangtua-ku (Ibu Janda Marthen Makaborang) pasti mereka tahu”. Setelah 2x mengelilingi lokasi dimaksud, belum juga saya temukan orang untuk ditanyai. Kucoba menelpon Admin tapi jaringan sibuk (hal biasa kondisi celluler di Waingapu), akhirnya ku-SMS menanyakan dari sisi kiri atau kanan SD Masehi Payeti 2 saya harus masuk menuju lokasi dimaksud? Jawaban Admin, ”Kiri bos, trus ikut saja jalan tanah sampai ujung. Itu rumah ortu saya”. Tanpa ragu lagi saya menuju gang di sisi kiri SD Masehi Payeti 2, tak jauh, ternyata dari gang cuma mengarah pada 2 rumah saja. Tapi sayangnya ketika saya tanyakan nama Admin pemilik rumah tak mengenalnya. Lalu ku-SMS kembali, “Heh salah maneh….kanan sekolah ya?” Belum terbalas SMS-ku, telpon sudah tersambung. Si Admin menjelaskan via telpon… Repot juga ya ternyata urusan kiri dan kanan harus memiliki sudut pandang yang jelas. Jika sekolah itu menghadap ke timur, selatan ada di sisi kanan dari sudut pandang/posisi belakang sekolah. maka dari posisi depan sekolah, selatan berada di sisi kiri. Dalam kasus di atas terjadi kekeliruan karena Admin menjelaskan dari sudut padang saya, sedang saya menterjemahkan dari sudut pandang Admin. Jadi ya nggak nyambung. Jadi mana yang benar? Tergantung kan? Walau sudah belasan tahun di Sumba, saya masih kesulitan jika suatu lokasi digambarkan dengan kriteria utara, timur, barat dan selatan. Maklum dalam pikiran saya sudah terlanjur salah mendiskripsikan arah di Waingapu. Walau tahu Matahari itu terbit dari timur tapi dalam pikiran saya (eh ini namanya pikiran, perasaan atau apa ya?), di Waingapu matahari terbit dari utara. Jadi sekali lagi bakal nggak nyambung jika suatu tempat itu Anda diskripsikan kepada saya dengan pendekatan utara-selatan-barat-timur. Saya kini malah sedikit lebih nyambung jika suatu lokasi itu digambarkan dengan pendekatan atas-bawah, meski itupun harus dengan catatan di mana yang mendiskripsikan itu berada. Mungkin karena kondisi geografis Sumba (Waingapu) banyak lokasi yang tinggi dan rendah, kita di sini lebih biasa menyebut lokasi dengan kata di atas/bawah. Kata bawah, bisa berarti memang lokasinya di tempat yang lebih rendah. Tapi dalam situasi tertentu kata bawah bisa pula berarti tempat yang lebih dekat dengan kita. Demikian juga dengan kata atas, memiliki makna kebalikannya. Contoh: Jika kita berada di Bundaran Matawai, letak Komplek Ruko Mekarsari berada di bawah kantor PLN. Terus kantor Kimpraswil/ PU di mana? Kantor Kimpraswil/PU berada di atas Kantor PLN. Lho kok bisa? Padahal sepanjang jalan Ahmad Yani itu lurus dan datar-datar saja! Ya bisa saja memang seperti itulah nalar kita mendiskripsikan suatu lokasi. Tapi kalau itu kita gambarkan kepada orang lain yang berada jauh di luar Sumba tentu repot. Nanti pasti dikira Ruko Mekarsari, Kantor PLN dan Kantor Kimpraswil/PU berada di satu gedung bertingkat. Lebih lucu lagi nanti kalau dikira Dermaga Lama berada di atas kantor PU, bagaimana sandarnya kapal-kapal yang mau singgah di dermaga? Lucu tidak lucu, logis tidak logis ya memang seperti itulah pola pikir kita mendiskripsikan suatu tempat. Seperti kebanyakan masyarakat Bali mendiskripsikan arah ke laut itu adalah arah selatan walau sebenarya arah lautnya ke utara, tentu akan sulit merubah pola pikir itu (terutama menyangkut perasaannya). Hanya bagi saudara-saudara kita yang muslim kira-kira mengganggu tidak ya jika mengalami situasi seperti saya ini? Misalkan jika berada di suatu tempat yang ada arah kiblatnya (identik dengan arah barat) tapi perasaannya sedang mengarah ke utara? Ah tentu saudara saya yang muslim pasti punya kiat-kiat tersendiri mengatasi situasi seperti itu. Sekedar berbagi cerita; Suatu saat kawan saya dari Jawa menelpon saya. Waktu itu telpon di Waingapu belum otomatis dan nyambungnya agak susah. Telpon kawan saya itu diterima mertua saya. Oleh mertua saya disarankan untuk nanti menelpon lagi karena sedang tidak berada di rumah. Tapi cara mertua saya menjelaskannya begini, “Nanti saja telpon lagi, dia lagi di atas". Beberapa menit kemudian kawan saya telpon kembali dan kembali dijawab oleh mertua saya, ”Masih di atas!” Rupanya mertua saya tidak tahu kalau itu telpon interlokal. Malamnya ketika saya sudah berada di rumah, saya terima sendiri telpon kawan saya itu dan saya lansung diledek macem-macem. “Wah sudah jadi orang kaya ya, ditelpon teman aja harus nunggu berjam-jam untuk turun dari loteng?” “Memangnya rumahmu tinggkat berapa, kok lama sekali turunnya?” Hahaha… ya itulah jika terjadi perbedaan persepsi alias nggak nyambung. Tapi setelah saya jelaskan masih saja kawan saya meledek, "Kalau begitu kapan-kapan saya ingin datang ke Sumba , ingin tahu gimana rasanya naik kuda di atas rumahmu." Hehe..sialan. Jadi Anda yang berada jauh di Sumba dan bukan orang Sumba atau belum pernah ke Sumba, jika suatu saat datang ke Sumba mampirlah ke rumah saya. Kalau Anda datang dengan pesawat dan turun di Bandara Mau Hau mampir saja ke rumah saya…Tapi jangan kaget saya kasih tahu dari sekarang, "Rumahku berada di atas Hotel Merlin. Dan jangan kaget pula di rumahku matahari terbit dari utara….hahaha." Waingapu, 30 Oktober 2008
|





Komentar
kapan2 ngumpul lagi ya untuk bikin event ttg dunia IT di Waingapu
thanks dah hadir di acara ultah Waingapu.Com :-)
betul juga, awalnya aku juga agak bingung dengan istilah2 org sumba.... tapi asyik kok bisa menambah khasanah ungkapan/istilah mereka...
SILAHKAN DI TERJEMAHKAN (mungkin saja): LOR...KIDUL...WETAN....KULON... (sama ya!)
HEH...SUMBA MEMANG UNIK....TAPI AKU MENCINTAINYA.
semoga besok2 bisa pulang ksana dan liatin rumah yang da di atas hotel merlin....heheheheheh
sukses waingapu.com
Holuru = sebelah sana ( ke arah hilir = cenderung menurun daerhanya )
Hodita = ke atas
Howawa = ke bawah
hopapa = diseberang sungai atau lembah
holoa = diluar
Jadi beda dengan lor kidul wetan kulon mas.....
mau kesana tapi blm dpt referensi hotel.
RSS feed untuk komentar posting ini.