|
Ditulis oleh Umbu Katuangu Retang
|
|
Rabu, 29 Juli 2009 15:34 |
|
Sri Sultan Hamengku Buwono X: bukankah perasaan kita tergetar dan menggugah kesadaran kolektif bangsa tatkala mendengar lagu-lagu perjuangan Indonesia Raya Indonesia Pusaka Bagimu Neg’ri dan sebagainya?
dari alun-alun utara Yogyakarta tempat bersejarah dikumandangkannya Tri Komando Rakyat 19 Desember 1961 dan Reformasi Damai Rakyat Yogya 28 Mei 1998 ini maka marilah kita kumandangkan pula Salam Damai dari Yogya untuk Indonesia
enam tahun sudah reformasi telah berlalu bumi Indonesia masih saja menyimpan bara api perseteruan yang seakan tak kunjung usai bumi Aceh Poso Ambon Papua masih juga bersimbah darah dan air mata mereka itu adalah bangsa sendiri
Indonesia yang tercipta oleh tangan Tuhan dikumandangkan lewat Proklamasi ’45 ke lima benua dan dengan gagasan indah membangun masyarakat damai, adil dan makmur kini, masih juga menjadi titik api perseteruan merintihkan suara kepedihan sungguh,
awal dari sebuah perpecahan
kebencian memang selalu tragis ia melukai yang membenci maupun yang dibenci ia memecah kepribadiann menggores jiwa bangsa mengingkari fatwa sang maha pujangga Mpu Prapanca meretakkan ikrar Bhineka Tunggal Ika
demi membangun perdamaian bangsa marilah dari Yogya kita serukan Salam Damai agar menggema ke seluruh pelosok negeri dan membawa angin perdamaian ke zona-zona rawan kekerasan bak api dalam sekam
bukankah kita sudah terlalu banyak bersimbah darah dan menangis? maka janganlah bangsa ini menangis lagi
marilah dari bumi Mataram ini kita serukan Salam Damai dari Yogya Untuk Indonesia
(Dirangkum dari berita Bernas, Minggu, 01 Agustus 2004, halaman 6. Termuat dalam Orasi Budaya Sri Sultan Hamengku Buwono X, dibaca oleh : Bambang Paningron, Katon Bagaskara, Sawung Jabo, dalam Pentas Terbuka Penutupan FKY XVI, Alun-alun Utara Yogyakarta, Sabtu, 31 Juli 2004 malam)
|
Komentar
RSS feed untuk komentar posting ini.