Waingapu.Com - Kemiskinan tak selamanya membuat seorang minim prestasi, malah bisa menjadi pelecut untuk pembuktian dan mempertegas optimisme. Kondisi itulah yang mendasari seorang siswa dari keluarga miskin di Kampung Lumbung-Karipi, Kelurahan Kawangu, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT.
Ronexon Mbelu Ranjawali, demikian nama siswa yang biasa disapa Nexon itu, siswa yang bersekolah pada SMA Negeri Pandawai, nampak sumringah tatkala tahu dirinya meraih nilai sempurna (nilai 10) untuk pelajaran yang selalu menjadi momok bagi siswa di NTT, yakni mata pelajaran matematika, dalam ujian nasional (UN) tahun ini. Kendati sekolahnya menempati peringkat terbawah dari seluruh SMA-SMK sederajat dalam prosentase kelulusan tahun ini di Sumtim, pihak sekolah tetap memberikan apresiasi bagi siswa yang dinilai tetap membawa harum nama sekolahnya walau dalam keterpurukan prestasi kelulusan yakni hanya 82, 02 persen.
“Nexon kami beri piagam dan uang tunai sebagai bentuk apresiasi kami atas prestasi yang diraihnya,” jelas Clasius Mbiliyora, Kasek SMAN Pandawai, kepada wartawan yang menemuinya seusai pengumuman kelulusan UN (26/05) lalu.
Sayangnya senyum sumringah Nexon berubah muram jika tiba di rumah. Pasalnya niat untuk bisa melanjutkan studi keperguruan tinggi, hanya bisa menjadi asa yang sulit terwujud akibat ketiadaan biaya.
Kedua orang tuanya hanya petani kecil dengan penghasilan yang tak seberapa. Jika orang tuanya memaksakan diri untuk menguliahkannya, imbasnya adalah kedua adiknya terancam putus sekolah.
“Saya ini orang miskin, untuk makan saja kami susah. Jadi cukup sudah dia sampai tamat SMA. Saya tidak sanggup kasih kuliah. Tapi kalau dia mau pergi kerja di Bali dan mau simpan uang untuk nanti dia kuliah, saya dukung,” jelas Domu Pekuwali, ayah Nexon.
Kondisi ekonomi yang memprihatinkan itu, tidak lantas membuat Nexon patah arang. Ia tetap berkeinginan untuk merantau ke Bali guna bisa mengumpulkan uang buat mewujudkan cita-citanya menjadi guru matematika.
“Kalau saya tidak bisa kuliah, saya mau pergi kerja di Bali saja. Disana mungkin saya bisa menabung agar nanti bisa kuliah dan bisa jadi guru Matematika. Tapi kalau ada lembaga atau orang yang membantu beasiswa buat saya, Puji Tuhan, saya akan balas dengan belajar sungguh-sungguh untuk mewujudkan cita-cita saya,” jelas Nexon. (har)