Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Sel 07 Februari 2012
Banner

Tak Ada Tambur, Gendang pun Jadi

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Admin   
Sabtu, 14 November 2009 20:18

Ada yang berbeda dengan penampilan Makahaungu dalam acara Malam Indonesia di Wisma Bahasa Yogyakarta. Kalau biasanya para penari diiringi oleh suara tambur dan gong khas Sumba, kali ini hal tersebut tidak tampak. Yang terlihat justru Gendang dan Gong khas Jawa yang ditabuh.

Hal ini terjadi lantaran Makahaungu selama ini memang belum memiliki Tambur dan Gong. Jika berlatih atau tampil di sebuah acara, selama ini mereka kerap meminjam atau menyewa peralatan dari sanggar Gailar. Kebetulan saat tampil di Malam Indonesia, sanggar Gailar juga tengah menggunakan peralatannya untuk tampil di arena lain.

Walaupun dengan segala keterbatasan dan kekurangan, semangat mereka untuk mengenalkan budaya Sumba kepada publik luas layak untuk diapresiasi secara positif. Rambu Eri mengatakan bahwa semangat untuk tetap menari selalu ada walaupun dengan persiapan yang amat terbatas.

Perkataan tersebut terbukti dalam acara Malam Indonesia. Umbu Aprianus Mehang Kunda , Umbu Erwin Hamandika dan Umbu Yerimias D.B. Praing tetap antusias untuk menabuh gendang dan gong Jawa. Berkat kepiawaian mereka, bunyi gendang dan gong tersebut tidak jauh berbeda dengan suara tambur dan gong Sumba. Alhasil penampilan para penari pun tidak terganggu apalagi tim penyemangat terus mengumandangkan teriakan Kayaka dan Kakalakku saat pementasan tari.

Apa yang dilakukan Makahaungu bukannya tanpa tanda tanya. Ada juga mempertanyakan soal berkurangnya nilai atau semangat tarian karena menggunakan gendang dan gong Jawa. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab dengan nada humor. “ Sisi positifnya, bisa jadi ini adalah langkah awal, akulturasi atau kolaborasi kesenian Sumba dan Jawa di kemudian hari, jadi santai saja kawan!”

Sebuah Harapan

Semangat Makahaungu untuk tetap bisa mengibarkan kebudayaan tradisional Sumba di Yogyakarta patut menjadi teladan. Kekurangan tidak membuat mereka berhenti berkarya. Kondisi yang terbilang langka di jaman seperti ini di mana banyak orang mau “terima gampang” saja. Lalu apa yang harus dilakukan selanjutnya?

Hal yang selama ini dilakukan yakni secara swadaya “menghidupi” Makahaungu merupakan kekuatan yang layak dipertahankan.  Kemandirian kemudian menjadi kata kunci yang selama ini dipegang dan diwujudnyatakan dalam tindakan. Bayangkan di saat sanggar lain begitu mudah memperoleh fasilitas dengan bermodalkan proposal kepada instansi pemerintah daerah, Makahaungu belum melakukan itu. “ Biarlah pemerintah melihat apa yang telah kita kerjakan, mungkin dana tersebut lebih baik untuk pembangunan rakyat di Sumba,” demikian seloroh salah seorang anggota Hipmasty dalam sebuah bincang-bincang dengan penulis.

Lestari atau tidaknya sebuah materi kebudayaan adalah sebuah pilihan. Pilihan Makahaungu untuk tetap mempertahankan budaya kesenian Sumba -sebagaimana juga dilakukan oleh sanggar tari Gailar- sudah sebaiknya didukung. Sebuah harapan kini juga disematkan pada pemerintah daerah dan masyarakat Sumba yang peduli kelestarian budaya Sumba untuk mendukung berbagai karya positif mahasiswa-mahasiswi Sumba di tanah rantau. Malam itu di wisma bahasa, Makahaungu lagi-lagi meneriakkan, Kayaka’ya!!!!! YA, SEMOGA MEREKA TERUS BEGITU, MENCINTAI HUMBA DENGAN APA ADANYA!

 

Komentar  

 
0 #7 STEV 2010-01-01 05:30
mantap..........................................
 
 
0 #6 umbu aprianus mehang 2009-11-28 02:20
slam HIPMASTY...smua yg tlah kta lakukan d acara malam indonesia d wisma bahasa adlah hasil kerjasma dan kbersa.maan kel.besar HIPMASTY.tanp kerjasama dan kebersamaan smua tdak akan berjlan dgn baik,wlau pun dgn berbgai kekurangan..ayo HIPMASTY tunjukkan merah mu di mata dunia.........
sukses selalu buat HIPMASTY.......
kayakaya .........hhhhhhhoooooooo ooooooo kakalakkunya........hoooooowwwuuuuu uuuuuuuuuuuuuuu uu
 
 
0 #5 mbaradita park 2009-11-20 05:22
bukti nyata bahwa HIPMASTY begitu mencintai sumba sebagai ibu kandungnya adalah dengan membentuk yang sekarang namanya ma kahaungu. ma kahaungu begitu eksis di kota budaya ini yang penug dengan persaingan, dalam memperkenalkan budaya sumba (kabokang dan kadingangu)seba gai budaya lokal yang perlu di perkenalkan secara nasional maupun internasional.
 
 
0 #4 anandua 2009-11-17 00:12
gaya penulisannya bagus sekali....coba aja bikin buku pasti keren tuh....

menurutq " keterbatasan adalah kekuatan kami (Sanggar Ma Kahaungu)tapi disitulah tampak indahnya kebersamaan"
itu lah yang saya rasakan selama bergabung di Ma Kahaungu.

keterbatasan yang dimaksud disini yaitu dalam alat musik, transportasi, perlengkapan menari, dan lain sebagainya...harapannya tetap bertahan se,,,

so tetap semangat buat generasi penerus Ma Kahaungu, qt tunggu hasil karyamu....
 
 
0 #3 egidius 2009-11-17 00:10
sebuah keadaan dimana eksistensi diuji bukan hanya dgn smangat dan tindakan tetapi jg kreativitas dan rasa memiliki dgn tdk hanya mengharapkan belaskasihan karena kt adalah orang yg selalu tau tentang identitas sebagai putra-putri daerah yang berbudaya.;jayalah makahaung biar kayaka mu menggema kesegala penjuru.
 
 
0 #2 KAMARRU MURU 2009-11-16 14:06
INI NAMANYA BUDAYA NUSANTARA
 
 
0 #1 resti 2009-11-15 00:28
yups setuja.......
opang pung gaya su mantap sekali.
bukannya mw kolaborasi ma budaya jawa tp kt menyesuaikan dgn keadaan ingat pepatah "tak ada rotan akar pun jadi alias tdk ada tambur n gong sumba, gendang n gong jawa jadilah....!!!!!
kadang2 sy berpikir cb kt lg disumba pasti apa2 untuk menari dah lengkap...
tp gampang sa bntr lg tu alat2 menari hrs kt wujudkan walaupun pelan2, dgn adanya job menari trus kt kumpulkan uang nya pelan2 walaupun sdkt ntr jd gunung.
Sanggar Makahaungngu pasti bangga mendaptkn sesuatu dr hasil keringat sendiri.....
minta doanya ya....
GBU!!!!
salam HIPMASTY....
 

Tambah komentar


Kode keamanan
Refresh