Taman Kota |
|
|
|
| Ditulis oleh Yongky HS |
| Selasa, 18 November 2008 08:59 |
|
Mari kita mulai saja menghitung dari arah Bandara Mau Hau. Sebelum masuk jembatan baru Kambaniru akan kita temui patung/tugu buaya lengkap dengan pagar besi. Di tikungan dekat gereja GKS Kambaniru di situ akan kita temui patung penunggang kuda di atas tugu dengan tinggi keseluruhan sekitar 8 meter dan berwarna putih. Maaf saya tidak tahu apa nama patung/tugu tersebut. Terus ke arah kota, di pertigaan Payeti di situ ada patung setinggi orang dewasa. Saya menyebutnya sebagai patung wisuda, karena bentuknya memang berupa wisudawan dan wisudawati. Terus lagi, di pojok halaman Hotel Merlin di situ sebenarnya kita temui juga patung wanita Sumba lengkap dengan atribut wanita Sumba.Tapi sayang kondisinya sudah rusak dan terhalang rindangnya pepohanan di hotel tersebut. Wah kelewatan, di Kantor Polres Sumba Timur juga ada patung Kuda Melompat (maaf lagi-lagi itu hanyalah nama dalam pemahaman saya). Di pertigaan Matawai ada Tugu Jam Kota, saya lebih senang menyebutnya sebagai Bundaran Matawai, yah…itung-itung biar popular kayak Bundaran HI di Jakarta. Di lokasi itu juga terdapat monument (layak gak ya kalau disebut monument?), baik kita sebut saja tugu, Tugu/Patung Kuda. Walau berada di tengah kota kondisinya cukup memprihatinkan. Maklum tak terawat, tamannya lebih cocok disebut sebagai taman ilalang. Malah ada rumah payung-nya yang sudah roboh. Posisinya juga tak sedap terhalang Pos Polisi. Tentang tugu yang satu ini saya lebih akrab dengan sebutan tugu Mbeni Mbuhang Hangga Opang. Maklum tulisan ini memang terpampang di sana, mengingatkan semboyan Bp. Lukas M. Kaborang ketika menjabat Bupati. Masih di seputaran Matawai, di Gereja Katholik Paroki Sang Penebus, di depan gereja tersebut berdiri Patung Yesus dengan atribut Sumba. Patung milik umat Katholik ini termasuk yang dipertahankan ketika diadakan renovasi gedung gereja, dan kondisinya termasuk paling terawat. Selain itu umat Katholik juga mempunyai patung yang terpelihara dengan baik, yaitu Patung Bunda Maria di desa Kanatang. Ayo kita hunting lagi mendata patung/tugu yang ada di kota kita. Di dekat Masjid Aljihad Waingapu ada Tugu Jam(nama ini masih menurut pemahaman saya sendiri). Posisinya strategis di pertigaan jalan, mirip dengan Jam Kota Matawai. “Turun” terus ke arah lapangan Pahlawan di sana ada Tugu (mirip Tugu Pahlawan di Surabaya). Dulunya di puncak Tugu ini terdapat lampunya, namun mungkin karena bisa mengganggu kelancaran navigasi di Pelabuhan, lampunya tak pernah menyala lagi (atau memang tak jadi lagi lampunya ya?) Sekarang kita menuju ke arah Hambala, di pertigaan Jl. Matawai Amahu, dekat kantor Kelurahan Hambala (sekarang Kantor Kelurahan Kambajawa) di situ ada Patung Sapi. Menurut saya sapinya terlalu kurus, tapi patung ini menurut hemat saya termasuk paling popular sebelum ada patung kuda di KM-7. Jika kita berada jauh dari lokasinya, patung ini sering kita jadikan patokan untuk menyebutnya suatu tempat; misalnya kita sering mengatakan di simpang patung sapi, patung sapi lurus terus, patung sapi ke kiri/kanan dan sebagainya. Ke arah dermaga baru, di simpang menuju dermaga baru dan menuju Kanatang di situ ada Tugu Buaya yang serupa dengan yang ada di dekat jembatan baru Kambaniru dan memang dua tugu ini dibuat satu paket, tapi sudah cukup akrab-kah kita dengan keberadaan tugu ini? Mungkin hanya Anda yang ada di sekitar tugu saja yang cukup akrab. Nah sekarang kita menuju ke KM-7 di sana ada Patung Kuda yang sekarang menurut saya paling popular, karena jika menuju kearah Sumba Barat jika ingin lewat jalan baru kita sering mengatakan lewat patung kuda. Posisinya yang di pinggir kota, mungkin lebih cocok jika patung ini kita sebut sebagai tugu selamat datang. Kepopuleran Patung Kuda yang ini mungkin juga karena tempatnya yang lumayan romantis untuk muda-mudi memadu cinta. Sebagai alternatif jalan-jalan sore, tempat ini juga lumayan nyaman. Anak saya paling suka jika diajak jalan-jalan ke sana. Satu lagi yang layak di jadikan tempat untuk sekedar jalan-jalan yaitu menikmati megahnya patung burung-burung di depan kantor DPR kita. Mengenai patung yang satu ini, kawan saya pernah berseloroh; ini patung yang paling cocok/sesuai dengan penghuni gedungnya, patung yang indentik dengan DPR kita. Mungkin karena burung itu identik dengan banyak ngoceh, sesuai dengan anggota DPR kita yang memang dituntut untuk banyak bicara. Memang pas, ya untunglah bukan patung burung beo yang terpampang di sana…hehe.. Nah, mungkin saya masih kelewatan mendata patung/tugu yang menghiasi kota kita. Saya barangkali juga terlalu ngawur menyebutkan nama-namanya, karena memang kenyataannya banyak yang kapatang dengan keberadaan tugu/patung2 tersebut. Maaf bila ternyata, cuma saya saja yang kapatang. Kira-kira menurut Anda mana yang paling sering/pantas menjadi icon kota kita? Mana yang menurut Anda itu menambah keindahan kota kita? Tentu banyak alasan, banyak pendapat, banyak pilihan untuk sekedar menyebut patung/ tugu ini-itu yang layak menjadi icon kota kita. Saya sendiri jika berada jauh dari Waingapu paling ingat dengan Jam Kota Matawai, entah mengapa bayangan saya selalu mengarah di tugu sederhana itu, yang sudah ditemani patung polantas. Mungkin dulu ketika awal-awal tinggal di Waingapu tugu inilah yang paling akrab bagi saya. Setiap pagi saya jadikan tugu ini sebagai target kalau lagi jogging. Dan memang tugu ini juga termasuk yang sudah tua umurnya. Kembali tentang Taman Kota, posisinya yang di tengah-tengah kota memang strategis dan layak untuk jadi lokasi taman. Sudah lama kita mendengar rumor bahwa areal antara Pos Polisi sampai dengan bekas Kantor Penerangan akan dijadikan sebagai jalur hijau? Apa sebenarnya yang dimaksud dengan jalur hijau? Dalam pemahaman saya jalur hijau adalah areal yang dipakai sebagai tempat tumbuhnya pepohonan yang menjadi penyejuk suatu kawasan. Dengan asumsi seperti itu maka yang layak berdiri di situ adalah bangunan-bangunan yang merupakan penunjang keindahan kota. Oke, taman tentulah paling cocok sebagai bangunan yang ada di situ. Sebuah taman yang lengkap dengan tumbuh-tumbuhan, bunga-bungaan dan hiasan (bisa tugu, patung, monument, gazebo, kolam, air mancur dan lampu-lampu hias). Tentulah membanggakan apabila suatu kota dilengkapi dengan taman sebagai sarana plesir warganya, atau minimal menjadi penyejuk kota. Syukur-syukur bila bisa berhasil sebagai icon kota. Tentu bakal menjadi sedikit berbeda wajah Waingapu bila sepanjang Pos Polisi Matawai sampai Kantor Penerangan itu menjadi sebuah taman, menjadi jalur hijau yang menghiasi kota kita. Teman saya yang pernah bertugas di Waingapu selalu bertanya kepada saya; sudah seperti apa Waingapu sekarang? Dan penggambaran saya selalu juga menyebutkan berbagai bangunan baru yang belum ada atau sudah diperbarui daripada ketika dia tugas di Waingapu dulu. Jika nanti ia bertanya lagi, tentulah pula saya akan menambahkan bahwa di Matawai sekarang sudah ada Taman Kota-nya. Sayangnya saya bakalan tanpa kebanggaan menyebutkan berdirinya Taman Kota ini (maaf ini memang subyektifitas saya yang bicara). Taman yang baru ini hanya berjarak 50-100 meter dari taman yang sudah ada (Patung Kuda/Tugu Mbeni Mbuhang Hangga Opang). Di situ juga masih ada POM Bensin/SPBU lama. Ibaratnya dua taman ini hanya terpisah oleh POM Bensin. Taman Kota yang baru, sebut saja Tugu Mamuli karena ada patung mamuli dan kanatar di sana, posisinya jika kita dari arah Waingapu adalah Jam Kota-Pos Polisi-Taman Lama/Patung Kuda-POM Bensin-Taman Baru/Patung Mamuli-Rumah Penduduk (berderet sampai bekas Kantor Penerangan). Mulai dari Pos Polisi sampai bekas Kantor Penerangan ini bejejer rapat, di kiri-kanan POM Besin yang terpisah oleh jalan tembusan. Menilik keberadaan Taman Lama/Patung Kuda yang tak terawat, bagaimana dengan Taman Kota yang baru nanti? Siapa sebenarnya yang bertugas menjaga dan merawat Taman ini? Kimpraswil? Bagian Tata Kota? Bagian Kebersihan Kota? Atau siapa? Jika yang sudah ada saja kita sudah kewalahan memeliharanya bagaimana dengan yang baru nanti? Ibarat punya kuda satu saja susah urus, apalagi ditambah punya dua ular? Bukankah tambah repot? Semoga saja Tugu Mamuli ini kelak tidak bernasib seperti saudaranya si Tugu Kuda. Inilah yang bagi saya tadi tidak membanggakan. Taman Kota belum jadi, anak saya sudah berangan-angan mau bermain-main di situ, kawan saya punya angan-angan ingin sekali kelak duduk-duduk di situ sambil berdiskusi tentang buku. Memang bagus dan tak salah angan-angan itu. Tapi bagaimana jika belum-belum sudah ada yang punya angan-angan menjadikan tempat jualan di situ atau sebagai tempat minum-minum? Lalu siapa yang berhak melarangnya? POLPP? Wah bakalan tambah pekerjaan teman-teman kita di POLPP? Lalu soal jalur hijau, apakah keberadaan Taman Kota ini merupakan wujud tekad pemerintah kita untuk menjadikan kawasan itu sebagai jalur hijau? Kalau memang seperti itu, artinya keberadaan Taman ini ibaratnya sebagai warning bagi POM Bensin dan bangunan-bangunan lain di kawasan itukan? Orang-orang yang berwenang terhadap Pengembangan Tata Kota tentu punya jawaban bijak untuk pertanyaan ini. Terlalu sinis memang, jika belum-belum saya katakan tidak bakalan bangga dengan keberadaan Taman Kota ini, karena sebenarnya sebagai salah satu warga kota Waingapu saya juga memimpikan punya Waingapu yang tertata hamu dan manandangu… alangkah menyenangkan jika kita punya kota yang sejuk di tengah-tengah alam Sumba yang gersang ini. Sebelum saya jadi pesimis, saya rubah pandangan saya: sementara saya belum bangga terhadap Taman Kota baru ini. Anda yang berwenang terhadap pemeliharan Taman Kota, Anda yang berwenang terhadap pengembangan kota, termasuk Anda yang mendapat tender pembangunan Taman ini; saya punya satu tantangan: ayo buatlah saya dan warga Waingapu dan Sumba Timur bangga terhadap kotanya sendiri….(OHS) Waingapu, 16 Nopember 2008 Tags:
|




Di tengah kota kita, tepatnya di lokasi bekas Kantor Koprasi di Jl. D.I Panjaitan, di dekat POM Besin Matawai, kini sedang dibangun sebuah taman lengkap dengan bangunan Tugu berpatung. Pembangunan ini akan menambah jumlah patung/tugu yang menghiasi Waingapu. Ada berapa sebenarnya tugu dan patung yang bisa kita anggap menghiasi kota kita?
Komentar
sebenarnya,,say a sarankan,agar aspirasi saya dan kawan2 yang lainnya dapat direalisasikan, ,setidaknya demi kemajuan waingapu dan kepentingan kita bersama.
perlu dijelaskan bahwa patung-patung yang ada sebagai point terhadap suatu wilayah atau tanda peralihan dari satu wilayah kewilayah yang lain, dimana simbol-simbol tersebut, dalam budaya sumba memeliki arti tersendiriyang terdapat dalam peribahasa sumba yang mendalam, jadi pertanyaan nya bagaimana dinas terkait dalam hal ini seksi kebersihan kota yang melekat pada Dinas Pekerjaan Umum, atau yang dikomadani oleh Bang Sitaniapessy, untuk mempertahankan keindahan kota waingapu, ditangan merekalah tugas itu, dan tentunya peran masyarakat juga diperlukan, sseperti menjaga hewan peliaraannya untuk tidak dilepas begitu saja.
MUNGKIN SUATU WAKTU KOTA WAINGAPU AKAN DISEBUT : KOTA SERIBU PATUNG (saking banyaknya, walaupun belum berjumlah seribu patung).
YA, TAHUN 1997,RASANYA PATUNG-PATUNG ITU BELUM ADA. TAPI IRONISNYA TERNYATA BAHKAN (mungkin) BELUM ADA PENGRAJIN PATUNG DI WAINGAPU SEPERTI DI PRUMPUNG, MUNTILAN, JAWA TENGAH.
JANGAN-JANGAN PEMBUAT PATUNG DIIMPOR DARI BALI
MUNGKIN PERLU DIPIKIRKAN DAN DIUSAHAKAN. SETAHU SAYA KETIKA MASIH KECIL, SUNGAI-SUNGAI DI SUMBA MEMPUNYAI BATU-BATU PUTIH YANG BISA DI BENTUK JADI PATUNG ATAU LAINNYA.
TAPI BIARLAH, WAINGAPU JADI KOTA SERIBU PATUNG. SAKING SENANGNYA MEMBANGUN PATUNG-PATUNG.
MUNGKIN SEBENTAR LAGI AKAN MENYUSUL PATUNG-PATUNG DIRI MANTAN-MANTAN BUPATI (misalnya, maaf brur !).
SATU HAL UNTUK MENJADI KORKKSI : SERINGKALI KITA ORANG INDONESIA HANYA BISA MENCIPTAKAN TAPI TIDAK BISA MEMELIHARA.
KI SAPU JAGAT
DARI LERENG MERAPI - JOGJA
Selain itu saya juga tahu seorang guru yang juga membuat patung. mungkin saja perlu ditambahkan lagi patung-patung untuk dihias di jalan atau di tempat umum di kota waingapu, supaya kota waingapu semakin cantik.
posting @ 2nd floor kopen raya utama,jogjakart a
kalau jalan besar aja udah gelap, gimana jalan2 kecil ya?
tolong di perhatikan tuh
Setuju banget sama Aline.....
saya rasa kebutuhan untuk taman kota di Waingapu blom terlalu urgent..
penerangan jalan kota lebih urgent kalo menurut saya, dah setau saya tingkat kecelakaan kendaraan bermotor di waingapu cukup tinggi, selain karena pengendaranya yang ugal\"an kondisi penerangan jalan juga bisa mempengaruhi...
uhmmmm... lampu\" jalan kok malah di deket patung kuda yach yg lebih banyak di banding jalan protokol atau jalan utama di Waingapu...
ya namanya juga usulan di terima dengan baik yach terima kasih, tidak diterima dengan baik mohon maaf dan terima kasih
^^
Bravo Waingapu
ya saya rasa, perlu dipertimbangkan juga masalah penerangan jalan....
terus terang, tanpa penerangan jalan, seindah apapun penataan kota, tetap saja akan menjadi seperti kota mati.
suatu saat waingapu akan menjadi kota pariwisata..
oiy , emang sih klo tidak ada lampu wgp seperti kota mati.. tapi menurut saya sih tergantung dari dana yang ada.. klo masyarakat sumba timur
tidak lancar membayar pajak, pemerintah dpt uang darimana??? kebanyakan orang pengen yang nyaman2 aja tp susahny itu loh..hee
memasang lampu di jalan2 biaya tdk sedikit , butuh bnyak.. tapi usaha pemerintah pasti ada , tenang aja.. nikmati dulu yang ada..ok
SALAM HANGAT
DARI SALATIGA-UKSW
Yang Namanya PLN dimana-mana sama Kali ya...Sewaktu Kami Ada Proyek Di Aceh Listrik Matinya 20 kali sebulan.Dan lama matinya Listrik setiap saat 4 jam,kalau sabtu minggu Mati Total.Makanya Proyek di Aceh tidak-tidak kelar-kelar sampai sekarang.Begitu kita mau kirim Laporan via Email atau Fax listrik mati,sementara yang dikantor pusat mau laporannya sekarang.Kalau kita menelepon mareka dan tanya berapa menit lagi ada listrik jawabnya singkat saja;Anda dari tadi menelepon terus!Alangkah baiknya anda membuat PLN sendiri!Enakan! !hahaha...memang PLN!!Kalau terlambat membayar denda,pada saat membayar banyak tambahannya;Bua t lampu jalan Rp.5000.Buat orang angkat sampah Rp.2000.Padahal Lampu jalan tidak pernah menyala dan sampah tidak pernah di angkat.Kita menharapkan PLN di Waingapu jangan berbuat seperti itu.Dan Ingat!!Maysarak at yg berlangganan Listrik di Waingapu rata-rata dari keluarga yang kurang mampu.Salam Damai Tahun yang Baru dari Kami yang jauhhhhhhhhhhh! !!
RSS feed untuk komentar posting ini.