Tambal Ban Demi Pendidikan Anak |
|
|
|
| Ditulis oleh Admin |
| Jumat, 23 Juli 2010 23:47 |
Paulus Maku
Waingapu.Com - Ditengah himpitan ekonomi untuk memperjuangkan hidup tidak menyurutkan sosok seorang mantan ketua paguyuban sopir angkutan, Paulus Maku, untuk mengeluh dan menggerutu ketika rumahnya terbakar kala itu. Dengan pakaian yang tersisa, yang menempel dibadannya waktu itu, Paulus Maku mulai membuka usaha tambal ban. "Hanya itu keterampilan yang saya miliki selain profesi sebagai sopir angkutan", ungkapnya saat kami berbincang-bincang dengannya di ladang kebun sayur tepat di seberang jalan "kantor" usaha tambal bannya. Usaha tambal ban yang beralamat di Matawai, samping toko Sinar Lombok, memang cukup dikenal di kota Waingapu. Teman-temannya yang rata-rata adalah seprofesi sopir angkut dengan Paulus Maku telah menjadi jaringannya untuk membuka usaha tambal ban tersebut.
Rata-rata penghasilan yang diperoleh Paulus Maku cukup lumayan. Dengan angka Rp 350.000/hari telah cukup membantu perekonomian keluarganya. Latar belakang pendidikannya hanya tamatan SD, berasal dari Bajawa, Flores, menjadi warga sumba Timur sejak tahun 1973. Tapi dengan keuletannya, ia bertahan hidup dari musibah masa lalu yang pernah dialaminya. Yang menarik dari Paulus Maku adalah kepeduliannya terhadap dunia pendidikan. "Masa depan anak-anak saya yang berjumlah tiga orang saya perjuangkan. Seiring waktu dan kemajuan usaha tambal ban ini, saya telah menjadikan dua anak saya menjadi sarjana. Sekarang yang sulung adalah guru di SD Payeti 1, anak kedua sebagai PNS Dinas Kehutanan di Sumba Barat, sedang yang bungsu akan menyelesaikan kesarjanaan filsatnya tahun ini", demikian ungkap Paulus Maku. Paulus Maku adalah sosok yang sederhana, tetapi berpikiran maju, kreatif dan peduli pada sesama. Bukti dari kepeduliannya, ia mengajak anak-anak yang menganggur untuk bekerja bersamanya. Hingga saat ini ia telah memiliki empat orang karyawan.
"Saya tidak hanya mengajak mereka yang menganggur, tapi juga mengajak anak-anak sekolah yang mau dididik sehingga memiliki ketrampilan. Saya beri mereka kesempatan kalau mereka mau bekerja disela-sela waktu senggangnya selain belajar. Lebih baik mereka memanfaatkan waktu luangnya. Uang hasil kerjanya dapat mereka gunakan untuk membeli kebutuhan sekolahnya. Sekarang ada lima anak SMA yang saya tampung bekerja dengan saya. Mereka dari SMA PGRI dan SMA Anda Luri". Saat ini walaupun usahanya sudah ditangani langsung oleh karyawan yang dididiknya, Paulus Maku tidak berpangku tangan dan berdiam diri. Kebetulan di seberang jalan "kantor" tambal bannya, ada sebidang tanah kosong milik kenalannya yang dibiarkan nganggur. Dengan ijin pemilik tanah tersebut, setiap pagi Paulus Maku mengolah lahan kosong itu. Ia menanami bermacam-macam tanaman, mulai dari pohon mangga, pepaya, jagung hingga tanaman sayur.
Sosok Paulus Maku adalah sosok yang dapat patut diteladani. Tidak mudah menyerah walau kondisi ekonomi menghimpitnya kala itu, tapi bangkit dari keterpurukan dan sekarang ia telah menikmati hasilnya. Tambal ban memang pekerjaan kasar bagi sebagian orang, tapi dari usaha itulah Paulus Maku berbangga tanpa bantuan modal dari Pemerintah Daerah. Ia dapat menjalankan usahanya bahkan membuka lapangan kerja buat mereka yang menganggur, tapi lebih dari pada itu ia berhasil menyekolahkan anak-anaknya. Pendidikan anak adalah yang utama bagi Paulus Maku. |








Komentar
betul bung... :) siapapun anda kami menguncapkan terimakasih krn sudah ikut memberi komentar di sini.
kl teladan yg anda maksudkan agar kita mengikuti jejaknya dan menjadi tukang tambal ban, memang naif dan sempit.
mengutip pertanyaan anda di atas tentunya pertayaan tsb dikembalikan kepada anda dan pembaca Waingapu.Com, tinggal kita memaknai kisah hidup Paulus Maku di atas, siapa tahu dr kisahnya menjadi semangat buat kita semua sekalipun kita berprofesi bukan sbg tukang tambal ban... :)
oya, kalau anda punya kompetensi dan kapabilitas, melalui anda, Waingapu.Com meminta bantuan anda untuk mendorong pemerintah, minimal bilang ke mereka (pemerintah), ini lho... ada tulisan di Waingapu.Com ttg "mereka tidak berdaya dengan kemiskinan yang mereka hadapi. mereka miskin dan juga dimiskinkan oleh struktur. tidak ada pengalaman bagi mereka selain kemiskinan".
Setuju dengan admin, kalau anda punya kapabilitas, tolong bilang sama pemerintah Sumba Timur. Nanti kita liat apa yang terjadi..
Sekarang ini sulit membedakan mana yang pemimpin, dan mana yang penguasa. Jangan-jangan anda adalah yang termasuk penguasa?
Bagi saya, refleksi yang saya dapat dari tulisan ini adalah kita harus menjadi kreatif supaya bisa keluar dari kemiskinan. Karena "Ketika anda menjadi miskin, maka anda harus lebih kreatif dari orang lain"... (saya lupa sumber istilah ini, sepertinya dari Mario Teguh)... So, supaya tidak miskin berkepanjangan, jadilah pribadi kreatif seperti Pak Maku.... jangan cuma HG tunggu belas kasihan pemerintah.... Apakah pendapat ini juga termasuk sempit dan naif menurut anda?
RSS feed untuk komentar posting ini.