Tawaran Kasih di Bulan Desember |
|
|
|
| Ditulis oleh Bonefasius Sambo |
| Rabu, 02 Desember 2009 02:10 |
|
Uugh... ternyata waktupun terus bergulir, penghuni bumipun turut mengikuti ritme rotasinya. Tapi aku lupa bahwa hari itu langkah hidupku telah menapaki tangga bulan terakhir dalam almanak Masehi. Bulan yang menuntut insan melakukan introspeksi. Bulan yang penuh dengan trik dan intrik yang mengandung rencana dan asa besar manusia. Bukan saja manusia yang menyambut bulan ini dengan sukacita, alampun turut serta. Pohon-pohon yang meranggas tempo hari, kini kembali bertunas. Ada pula pohon yang tampil dengan kembang khasnya. Mereka memberi nama pohon itu dengan sebutan pohon Desember. Selama bulan ini, pagi dan sore aku disuguhi dengan tembang-tembang natal. Sesekali aku menyanyi, walau lebih sering menyanyi di dalam hati. Orang-orang di lingkunganku ramai membahas persiapan perayaan natal. Topiknya seputar kue natal, pakaian natal serta hal-hal lain yang serba natal. Aku anggap itu adalah hal yang lumrah. Sebenarnya aku bingung. Hal apa yang bisa diberikan dalam bulan Desember ini. Apakah materi atau hati? Ataukah hati yang penuh dengan keinginan khas manusia ataukah hati yang penuh dengan kasih. Jangankan pada tataran nurani ataupun kasih, pada nilai rasa aku tak pernah mengerti bahkan memahaminya. Lebih jauh dari itu, mana mungkin aku bisa mengamalkannya. Susah benar hati ini untuk mengamalkan natal secara substansial. Adakah Natal yang melahirkan damai perdamaian bagi diri dan sesama ataukah natal sekedar rutinitas tahunan tanpa makna? Oh ternyata hatiku penuh dengan rencana-rencana megah manusia walau terkadang irasional. Otakku penuh dengan tumpukan konsep-konsep praksis untuk capaian prestise. Mungkin aku harus meneropong kembali masa laluku. Ternyata aku lupa masa bayiku yg polos itu. Aku lupa saat remajaku, saat natal tiba, kedua kakek dan nenekku saling merangkul, saling mencium kening yang kian mengerut dengan tulus, sebagai lambang cinta sejati yang mendalam dan kaya makna. Aku lupa ketika saat dewasaku tiba, kedua orangtua itu semakin mesra, saling memahami, bukti tanda kasih Ilahi yang memersatukan kedua insan itu untuk selamanya. Aku lupa mengenai kisah bumi ini dahulu, yang semestinya taman kedamaian yang mempersatukan makhluk ciptaan Sang Khalik. Ternyata kini telah berubah. Egoisitas, ambisiusme serta keserakahan telah meluluhlantakan bangunan cinta antar manusia itu sendiri. Cinta kini hanyalah sebuah jargon, retorik dan pemikat. Obrolan yang mengisahkan tentang cinta sekedar kamuflase. Sungguh miris nian. Mulai saat ini, aku ingin seperti butiran-butiran embun pagi, seperti pohon desember, seperti bunga bakung, seperti burung-burung di udara, mereka semua menghiasi bumi dan menjadi indah dan juga teduh. Memberikan warna baru tentang keindahan dan keramahan. Sehingga membersitkan niat kekaguman bagi insan dengan stempel mulia itu, untuk sepenuhnya bersujud di hadapan Ilahi.** Penulis adalah Guru |



Pagi itu embun masih membasahi dedaunan. Sesekali kicauan burung Murai masih terdengar. Mungkin suatu isyarat mereka meminta pamit kepada sang fajar. Butiran-butiran embupun tak mau ketinggalan,dengan cahayanya yang mengkilau dan memesona.
Komentar
SELAMAT MENYAMBUT NATAL 2009 DAN TAHUN BARU 2010
TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA.
SALAM BUAT SEMUA YANG DI SUMBA. MULAI DARI WAINGAPU - LEWA - ANAKALANG/WAIBAKUL - WAIKABUBAK - WAITABULA.
SMP KRISTEN PAYETI - SMA ANDA LURI - SMA MANDA ELU.
AMIN
RSS feed untuk komentar posting ini.