Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Sab 19 May 2012

Terpencil dari Gemilau Kota: Kemiskinan & Kinerja Buruk Tenaga Medis, Sandungan Pengobatan Bayi Bersisik

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh ion   
Jumat, 10 Februari 2012 23:55

Waingapu.Com - Terbatasnya akses jalan dan komunikasi hingga kini masih menjadi ‘penyakit akut’ sejumlah wilayah di Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT. Janganlah heran, jika layanan prima yang senantiasa digaungkan oleh para petinggi negeri, jauh dari kata realisasi bagi rakyat kebanyakan, khususnya warga miskin di pedalaman. Kondisi inilah yang akrab dengan Frederika Luya Kupang, bayi berusia 11 bulan, yang menderita kelainan kulit, hingga nampak bersisik seperti kulit ular, di desa Mbatakapidu, Kecamatan kota Waingapu. Kediaman Frederika bersama keluarganya, memang masuk dalam wilayah Kecamatan Kota, namun, gemilau kota bak alergi menyapa hati, mata dan keseharian mereka.

Jalan yang terjal berbatu dan berlubang, adalah satu-satunya akses yang menhubungkan kota Waingapu dengan kediaman Pasangan Suami Isteri (Pasutri) Pura Ndjurumana dan Herlina Mora Lambu. Pasutri yang diberi kepercayaan Sang Khalik menanggung deraan cobaan berat, Pasutri yang dipilih Penguasa Semesta untuk menyatakan kebesaran dan kuasa-Nya.

 

Pasutri petani miskin dan pengayam tikar ini saban hari didera kepiluan, bidadari bungsunya, beberpa jam pasca dilahirkan, kulitnya mengering lalu mengelupas, hingga nampak bersisik layaknya kulit ular kala berganti kulit.

Kediaman mereka yang dihiasi pohon papaya yang daunnya telah habis dijadikan sayur, dan dikelilingi jagung yang telah berbunga, memang nampak asing ditengah gemelap kecamatan kota. Jangankan mobil, pengendara sepeda motor harus berjibaku untuk mencapai rumah pasutri papa ini.

Keterbatasan akses, minimnya penghasilan keluarga, terbatasnya SDM keluarga ini, hingga tidak optimalnya pelayanan para medis, seakan terakumulasi pada penderitaan Frederika yang hingga kini masih terus berlanjut.

“Kalau saja ada yang beli kucing, saya akan jual kucing. Kami sudah jual ayam, telur ayam, babi dan anjing untuk biaya obat dan makan. Kami hanya petani pak, paling sebulan satu kali lihat uang limapuluh ribu saja sudah syukur. Memang kami dengar ada pengobatan gratis buat keluarga miskin, tapi kalau mau ke rumah sakit di kota, kalau ojek 60 ribu pulang pergi, itu untuk satu orang,” jelas Pura ketika ditemui beberapa hari lalu.

Visi dan misi para medis dan pemerintah setempat, dengan mencuatnya pemberitaan tentang Frederika dan penyakitnya, suka atau tidak perlu di ‘refresh’ lagi. Hingga tak terkesan hanya pemanis papan informasi instansi terkait. Betapa tidak, justru selama 11 bulan, Dinas Kesehatan setempat tak pernah tahu kondisi kasus Frederika ini, dan justru baru tahu dari para wartawan.

“Memang belum pernah ada laporan secara khusus tentang anak ini. Kami akui itu, tapi tadi petugas puskesmas telah menjelaskan pada saya dan esok kami akan turunkan tim kesana,” jelas Rien Tamu Ina Tipa, Kadis Kesehatan Sumtim kala ditemui diruang kerjanya, Rabu ( 8/2) lalu.

Jalan berlubang dan terjal berbatu, tentunya akan diperhitungkan atau bahkan tak akan mau dan sukar dilalui mobil mewah para wakil rakyat. Minimnya akses kesehatan yang semestinya menjamah Frederika, berbanding terbalik dengan beban tunjangan kesehatan para petinggi negeri, biaya ganti kursi dan pengadaan kalender serta pengharum ruangan serta toilet mewah wakilnya di Senayan. (ion)

 

Untuk mengirim komentar di situs ini, silahkan login dulu, atau gunakan layanan komentar dari facebook di atas :)

Berita Terkini

Drainase Wangga & Kambaniru: Telan Anggaran Lebih dari Rp. 3 Milyar
18 May 2012
article thumbnailWaingapu.com - Banjir yang sering melanda sejumlah wilayah di Kelurahan Wangga dan Kelurahan Kambaniru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur ( Sumtim), NTT, setiap tahun, pada saat musim...
Banner