Di tingkat desa sendiri, kegiatan kelompok ini telah menginspirasi pemerintah desa setempat untuk memasukan dalam program desa dalam bidang pemberdayaan perempuan. Dina Padu lemba (26) dan Nuraini (32), dua orang perempuan yang awalnya tidak tahu menahu dengan aktifitas kelompok ini akhirnya tertarik untuk bergabung menjadi anggota.
“Kalau dulu paling kami hanya diam di rumah dan membantu suami seadanya saja dikebun atau masak di dapur. Namun sekarang, kami bisa turut berusaha tenun dan ikut aktif dalam simpan pinjam dan arisan bahkan bisa menabung untuk sekolah anak kami,” jelas keduanya seraya menunjukan buku tabungan atas nama anak-anaknya.
Dalam menjalankan kegiatanya, seperti bertani misalnya, dilakukan dengan cara gotong royong. Namun untuk budidaya dan optimalisasi pekarangan dengan menanam sayuran dan tanaman obat keluarga (TOGA) dilakukan oleh masing-masing anggota kelompok. “Kalau misalnya nanti ada kendala, seperti pupuk dan pengendalian hama, kami diskusikan lagi disekretariat atau saling mengunjungi satu dengan yang lainnya,”imbuh Corlina Konda Ngguna, ketua kelompok ini yang hanya sempat mengeyam pendidikan hingga SMP itu.
Iklim tropis dengan curah hujan yang rendah saban tahunnya. Kondisi inilah yang secara alamiah melahirkan manusia Sumba yang siap untuk bertarung dengan kerasnya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya.
Sebagai bagian tak terpisahkan dari manusia Sumba, kaum perempuan Sumba juga memiliki peran penting dalam mencukupi kebutuhan hidup atau paling tidak turut serta dalam mencukupi kebutuhan pangan keluarga dengan bertani atau berkebun. Walau tak dipungkiri, di beberapa tempat di pedalaman atau pedesaan, masih banyak kaum perempuan tidak terlampau dilibatkan aktif dalam forum adat dan lebih ditempatkan sebagai pelengkap semata.
Waingapu.Com - Sumba Timur yang merupakan sebagian besar wilayahnya adalah hamparan padang sabana, ternyata menyimpan potensi alam lain yang melimpah. Tidak hanya kekayaan alam yang salah satunya seperti tambang emas di wilayah Wanggameti yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan antara pihak yang pro dan kontra akan adanya eksplorasi tambang tesebut.
Kehadiran Dewan Kerajinan Nasional-Daerah (DEKRANASDA) Sumba Timur (Sumtim) dalam rangkain kegiatan Hari Pers Nasional yang ke-65 di Kupang, bukan hanya penggembira semata. Dekranasda Sumtim yang ambil bagian dalam deretan stand pameran di depan Kantor Dinas Infokom-Kupang ternyata menarik perhatian sejumlah kalangan. Magnit tenun ikat hasil karya khas jemari anak Sumtim, ternyata tidak hanya menarik minat kaum kebanyakan, pejabat teras Propinsi dan Kabupaten se-NTT, namun ternyata memikat Bagir Manan, Ketua Dewan Pers Nasional.
Waingapu.Com - Ditengah himpitan ekonomi untuk memperjuangkan hidup tidak menyurutkan sosok seorang mantan ketua paguyuban sopir angkutan, Paulus Maku, untuk mengeluh dan menggerutu ketika rumahnya terbakar kala itu. Dengan pakaian yang tersisa, yang menempel dibadannya waktu itu, Paulus Maku mulai membuka usaha tambal ban.