|
Pink tak ada padaku Biarkan langit itu mendung Aku masih punya nyanyian bintang-bintang Yang tersimpan di matamu
Sepenggal sajak ini tertulis sejak 14 Pebruari 1989 ketika saya masih jadi mahasiswa di Fakultas Fisip Universitas Djember. Jauh setelah 20 tahun berlalu barulah saya sadari betapa sebenarnya ada kesalahan memahami arti Valentine Day. Maklum ini tentu berkaitan dengan proses perjalanan hidup. Bagi remaja yang lagi gagi-gaginya mengenal dan mencari cinta tentulah wajar bila Valentine Day selalu diartikan sebagai momen asmara. Lalu Valentine Day dijadikan kesempatan untuk ‘nembak’ orang-orang yang kita taksir. Sudah mahasiswa tapi tak punya pacar dan tak punya teman cewek yang special, rasanya jadi minder dan janggal. Teman kos, teman kuliah, teman aktifitas semua rame-rame menyusun acara istimewa dengan sang pacar di hari kasih sayang. Saya yang termasuk culun urusan cewek diam-diam menjadi gelisah juga karena tak punya cinta (pacar).
Dalam kesendirian saat teman-teman ‘tasibuk’ dengan urusan pacar, muncullah sajak itu sebagai ungkapan harapan saya untuk mendapatkan cinta. Safari nostalgia mengenang teman-teman yang pernah dekat di hati menjadi target untuk ‘ditembak’. Saya pun akhirnya menjadikan Valentine Day sebagai momen untuk mencari pacar walaupun hanya lewat sajak ‘anga-anga’ itu. Tapi apa sebenarnya Valentine Day itu?
Sejarah Valentine Day Belum ada referensi yang akurat tentang asal muasal Valentine Day, namun dipercaya bahwa ini bermula dari hari raya Katolik Roma yang didiskusikan di artikel Santo Valentinius, seorang calon uskup Romawi tahun 143. Valentinius juga seorang guru ilmu gnostisisme yang berpengaruh. Dalam ajarannya, tempat tidur pelaminan memiliki tempat yang utama dalam versi Cinta Kasih Kristianinya. Penekanannya ini jauh berbeda dengan konsep cinta kasih dalam agama Kristen yang umum. Stephan A. Hoeller, seorang pakar, menyatakan pendapatnya tentang Valentinius mengenai hal ini: Selain sakramen permandian, penguatan, ekaristi, imamat dan perminyakan, aliran gnosis Valentinius juga secara prominen menekankan dua sakramen agung dan misterius yang dipanggil "penebusan dosa" (apolytrosis) dan "tempat pelaminan”. Menurut Ensiklopedi Katolik 1908 nama Valentinus paling tidak bisa merujuk tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna (modern Terni) dan seorang martir di provinsi Romawi Africa. Koneksi antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari. Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah. Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta. Hari raya ini kemudian dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu. Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 February adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris Pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (“Percakapan Burung-Burung”) ‘For this was sent on Seynt Valentyne's day.Whan every foul cometh ther to choose his mate’ (Bahwa inilah dikirim pada hari Santo Valentinus. Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya) Pada jaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka "Valentine" mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada jaman ini. Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir. Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan "Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary".) Budaya yang kita impor dari Eropa itu akhirnya menjadi budaya kita juga. Karena dukungan media. akhirnya Valentine Day dikelola, dimodivikasi dan diperkosa berubah menjadi ajang asmara. Valetine berubah jadi urusan pacar, urusan kekasih gelap, urusan pesta, urusan fashion, urusan kado-kado dan segala macam urusan yang pada dasarnya jauh dari arti asalnya. Walau kita tingal di kampung (Waingapu), imbas budaya Valentine juga sudah lama merambah kampung kita. Radio-radio kita juga memakai momen Valentine Day sebagai ajang mengemas acara sesuai dengan momen ini. Adik-adik kita juga banyak yang sudah mulai menggelar pesta-pesta bertajuk Valetine. Bahkan juga ada beberapa caleg yang memanfaatkan moment ini untuk mendekati simpatisan khusunya kaum muda. Singkatnya kita juga terimbas budaya Valentine meskipun dalam kadar budaya kulitnya saja, karena urusannya masih seputar asmara belaka. Salahkah ini? Tentu tidak!
Bagi saya pribadi Valentine kini hanyalah sebagai momen pengingat terhadap cinta dan kasih sayang terhadap sesuatu dan sesama. Ketika orang ‘tasibuk’ memperingati Hari Valentine, entah hanya dengan berkirim SMS, berpesta, maupun dengan ritual-ritual lain, saya hanya merenung memikirkan kadar kasih sayang saya untuk istri, anak, orang tua, saudara-saudara, sahabat, teman dan sesama. Dalam renungan, sungguh mengagetkan bahwa sebenarnya kadar kasih sayang ini sering luntur oleh egoisme pribadi. Kita mengasihi seseorang seringkali justru berangkat dari mengasihi diri sendiri. Ada pamprih-pamprih yang mencuat kepermukaan, ada alasan-alasan dengan segala perhitungan yang sulit dipahami. Apa boleh buat, memang sulit menyanyangi secara total tanpa pamprih. Bahkan mungkin mutahil.
Supaya sedikit memiliki arti, untuk memaknai Valentine tahun ini saya akan belajar mencintai kolom Kalumbut ini sebagai perwujudan cinta dan kasih sayang saya terhadap Sumba tempat di mana saya menitipkan hidup ini. Itu pun bila Kalumbut dan Waingapu. Com ini bisa dianggap memiliki arti bagi Sumba, khusunya Sumba Timur. Terlalu sempit memang bila hal ini dijadikan wujud untuk memaknai Valentine Day, tapi ya memang itulah cara saya memaknainya. Mau ikut-ikutan merayakan Valentine dengan ritual berbau asmara, sudah bukan jaman saya lagi. Mau ikut-ikutan merayakan dengan berkirim kartu atau SMS ucapan Selamat Valentine, kayaknya banyak kenalan dan family saya justru tidak tahu dengan Valentine Day. Mau merayakan bersama keluarga, lebih repot lagi. Jangan-jangan nanti anak-istri saya malah minta dibelikan segala atribut yang berbau Valentine. Bisa bikin bengkak anggaran rumah tangga.
Jadi biarlah seperti 20 tahun lalu, cukup coret-coret saja di Valentine Day tahun ini. Bukan sajak atau puisi tapi cukup ya coretan ini saja. Lalu bagaimana dengan sajak saya itu? Untuk siapa sajak itu ditujukan? Memang ada ‘harim’ cantik yang sedianya mau saya kirimi sajak itu. Sayangnya tak jadi terkirim, maklum belum ada HP, kalau jaman sekarang simpel saja tinggal SMS. Mau dikirim waktu itu via surat juga ragu-ragu. Tapi alasan utamanya bukan itu. Maaf tolong jangan diketawain ya, ini alasannya: ‘wala kalili’ dasar culun….
Waingapu, Valentine Day 2009
Catatan: wala kalili: penakut (arti harfiahnya bunga pantat/pantat berbunga) Sejarah Valentine: diambil dari situs wikipedia Indonesia |
Komentar
RSS feed untuk komentar posting ini.