Home > Lingkungan Hidup > Pengeboman Ikan di Pantura Sumba Marak, Penegakan Hukum Masih Sebatas Asa

Pengeboman Ikan di Pantura Sumba Marak, Penegakan Hukum Masih Sebatas Asa

Benyamin Meharatu

Waingapu.Com – Pantai Utara (Pantura) Kabupaten Sumba Timur, kembali menjadi lahan para pelaku pengeboman ikan yang menjarah kekayaan lautnya. Bahkan untuk memuaskan hasrat ketamakan mereka, warga lokal dan nelayan kecil yang berjerih payah mencari ikan menjadi sasaran ancaman mereka. Demikian diungkapkan Barawali, salah seorang warga desa Kadahang, Kecamatan Haharu, beberapa hari lalu ketika dihubungi awak media beberapa hari lalu.

Dikatakan Barawali, aksi pengeboman itu diduga dilakukan oleh nelayan dari luar Sumba. Dan aksi itu kurang lebih telah mulai marak tiga hari terakhir di perairan Laiwotung, desa Kadahang.

“Kita tidak tahu yang melakukan pengeboman ikan ini orang dari mana dan mau ke mana, hanya kita tahu kemarin kena ancaman kita punya teman dengan sekretaris desa Kadahang,” tandas Barawal kala ditanya wartawan perihal aksi pengeboman itu. Nelayan dan warga sekitar takut untuk mendekat kea rah perahu atau kapal para pelaku pemboman ikan karena diancam. Para pembom demikian Barawali mempersilakan warga untuk mengambil ikan-ikan hasil bom yang terapung dipermukaan namun kalau para nelayan makin mendekat mereka mengancam akan meledakan bom dan kapal atau perahu nelayan kecil.

Kawasan Laiwotung dan Tanjung Sasar (Haharu) disebut warga sudah sejak lama menjadi kawasan yang rentan dengan aksi pengeboman. Namun sayang, aksi tidak terpuji itu tidak jua tersentuh penegakan hukum. Warga hanya bisa pasrah namun tetap menumpuk asa, instansi terkait dan para penegak hukum akan bisa menindak aksi yang mengancam ekosistem laut dan keanekaragam hayati di wilayah mereka.

“Desember hingga menjelang April adalah masa-masa yang rawan dengan aksi pengeboman. Kami tahu dan sejatinya aparat terkait juga tahu. Tapi mungkin karena keterbatasan sarana jadi tidak bisa menindak mereka. Tapi kalau terus dibiarkan, bukan mustahil hanya menghitung waktu kepunahan kekayaan laut dan pesona laut kita akan tinggal cerita,” urai Benyamin Meharatu, seorang pemuda asal Kampung Wunga memberikan tanggapan dan mengungkapkan keprihatinannya ketika ditemui di Waingapu belum lama ini.(ion)

Komentar

komentar