Stunting di Desa Watumbelar Terus Diminimalkan, Kini Tersisa 14 Kasus

oleh
oleh

Waingapu.Com – Stunting masih menjadi masalah yang terus diperangi oleh Pemerintah Kabupaten Sumba Timur secara umum. Probelema itu juga menjadi tantangan yang terus dihadapi oleh warga dan perangkat Desa Watumbelar, Kecamatan Lewa Tidahu, Kabupaten Sumba Timur, NTT.

“Kita gencar untuk sosialisasikan program untuk menekan dan menihilkan angka stunting di desa ini. Target kami di tahun 2023 ini tidaklagi ada stunting, gizi kurang dan buruk di desa kami ini,” tandas Umbu Nuku Hambaora, kepada wartawan di Waingapu beberap hari lalu ketika dikonfirmasi perihal penanganan stunting di wilayahnya.

Program 1 Kepala Keluarga (KK) sat dapur hidup adalah satu langkah yang diambil pemerintah desa Watumbelar, demikian Umbu Nuku mengawali penjabarannya terkait langkah-langkah penanganan stunting di desa yang dipimpinnya sejak setahun silam itu. Dapur hidup itu kata dia wajib ditanami sayuran serta tanaman pangan lainnya yang tinggi kadar gizinya. Hal itu terus disosialisasikannya hingga ke tingkat RT dan RW. 

Baca Juga:  Dua Metode ISOTER di Sumba Timur, Kunci Sukses Penurunan Level PPKM

Selain itu jelas Umbu Nuku yang tergolong menjadi salah satu Kepala Desa di Sumba Timur yang masih berusia muda itu juga melakukan intervensi dengan anggaran dana desa.  

“Anggaran dana desa juga telah dialokasikan untuk penanganan stunting. Selain itu kita menggugah warga untuk menyadari bahwa hal yang sungguh miris, kita di Watumbelar dan Kecamatan Lewa Tidahu serta Lewa pada umumnya masih ada stunting. Karena kita sejak masa silam dikenal sebagai lumbung pangan Sumba Timur,” urainya.

“Sebagai lumbung pangan tentu sungguh miris jika untuk kebutuhan karbohidrat dan protein hewani kita tidak tercukupi. Sentuh hatinya dan beri suntukan semangat warga untuk bangkit dan menjadikan stunting sebagai musuh bersama terus kami lakukan,” timpalnya. 

Anggaran dana desa untuk intervensi penanganan stunting  kata Umbu Nuku adalah dalam bentuk pemberian makanan tambahan atau PMT.  Hal ini telah dilakukan sejak bulan September 2022 lalu. Aneka langkah yang dilakukan itu mulia menunjukan hasil dimana dari 20 kasus angka stunting kini mulai ditekan menjadi tersisa 14 kasus.  

Baca Juga:  Positif Rapid Antigen, Ratusan Karyawan PT. MSM Jalani Isoman & Terpusat

“Usai pencarian Tahap 1 anggaran dana desa lalu, kami langsung memberikan makanan tambahan selama 90 hari, dengan daftar menu makanan yang sudah di susun oleh ahli gizi dari puskesmas Lewa Tidahu. Hasilnya terbukti sejak pra operasi timbang tahun 2023 semua berat badan anak anak naik, dan kemudian pemerintah terus memberikan PMT 30 hari sebelum pelaksanaan operasi timbang dan hasilnya cukup memuaskan dari  hasil entrian operasi timbang 3 posyandu  yakni posyandu Cengkeh, Kopi dan Mente,” paparnya.

Lebih lanjut Umbu Nuku menyatakan, jumlah stunting usia 0-23 bulan 1 Kasus, usia 24-59 bulan: 13 kasus.  Dari jumlah itu anak dan balita yang alami gizi kurang 2 kasus, di mana salah satu anak  bulan sebelumnya adalah anak Gizi buruk  dan kini menjadi gizi kurang pasca intervensi dengan PMT 30 hari. Selain itu  1 anaknya lagi memang riwayat gizi buruk (bulan Desember 2022) sekarang jadi gizi kurang juga setelah intervensi PMT 30 hari.

Baca Juga:  Bupati Pastikan Evaluasi Bulanan, Pejabat yang Jadi Ortu Asuh Anak Stunting di Sumba Timur

“Syukur pada Tuhan Yesus Kristus kerja keras kami pemerintah desa, para medis baik bidan perawat serta kader posyandu juga dukungan warga angka stunting terus bisa kami tekan. Kami tetap akan menyalurkan PMT sekalipun anggaran untuk  tahun 2023 masih dalam proses. Hal itu karena kami libatkan dunia usaha sebagai pihak ke-3 sebagai salah satu dari tiga komponen selain pemerintah dan masyarakat itu sendiri,” pungkas Umbu Nuku yang dulu pernha berkarier sebagai jurnalis sebuah harian Regioonal NTT itu. (ion)

Komentar