Tersaingi Daging Ayam Beku, Peternak Sumba Timur Terancam Gulung Tikar

oleh -956 views
Haider

Waingapu.Com – Masuknya daging ayam beku dari luar Pulau Sumba via kapal penumpang PT. Pelni (Persero) di Pelabuhan Nusantara Waingapu, selama beberapa pekan terakhir, membuat para peternak ayam pedaging di Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) – NTT tersaingi. Bahkan saking kuatnya dampak dari hadirnya daging ayam asal pulau Jawa itu, usaha para peternak di Sumtim terancam gulung tikar. Realita itu sepenuhnya diakui oleh para peternak yang ditemui.

“Ini sudah lebih dari dua minggu terakhir begini, ayam ini usianya sudah mau dua bulan, tapi belum juga laku – laku, padahal harganya sudah anjlok hingga 30 ribu rupiah perkilogramnya. Sebelum daging ayam beku yang dikasih masuk Pelni, kami masih bisa jual 35 hingga 40 ribu perkilogramnya,” jelas Haider peternak ayam di bilangan Kilometer Lima, Kelurahan Kambadjawa, Kecamatan Kota Waingapu, Rabu (03/07) pagi lalu.

Daging Beku

Haider yang kala itu ditemui bersama para peternak lainnya itu juga mengeluhkan respon pemerintah melalui instansi teknis terkait yang dinilainya adem ayam. “Harusnya pemerintah tegakan aturan, karena kami tahu ada SK Gubernur yang melarang masuknya unggas dan dagingnya dari luar Sumba, dan SK itu sampai sekarang belum dicabut. Ini malah kami dapat informasi Dinas Peternakan ada keluarkan rekomendasi untuk masuknya daging ayam beku dari luar sebanyak 14 ton,” paparnya diamini sejumlah rekannya disisi salah sartu kandang ayam milik Haider yang masih tersisa lengkap dengan empat ribuan ayam yang mestinya telah layak untuk dijual itu.

Gerson

Gerson, salah satu peternak ayam juga mengeluhkan hal senada. Dia merasa sangat dirugikan dengan masuknya daging ayam beku. “Ini yang lalu kami bissa jual ayam dipengepul 35 ribu hingga 45 ribu perkilonya. Ini sudah diharga 30 ribu perkilo juga masih belum laku. Masyarakat langsung beli ke Pelni, dengan harga dibawah itu. Lama-lama kita bisa tutup usaha, kasihan kami, kasihan juga karyawan dan pengepul yang akan kehilangan penghasilan,” imbuh Gerson.

Masih kata Gerson dan Haider, dengan harga 30 ribu perkiloggramnya saja itu keuntungan yang didapat tipis sekali jika diperhadapkan pada tingginya harga DOC dan juga harga pakan ternak yang senderung terus pula naik.

Upaya untuk mencari titik terang dan solusi terhadap masalah itu diakui para pternak itu telah dilakukan. Termasuk mendatangi Dinas Peternakan setempat. Disebutkan mereka, pada tahap kini, mereka sebatas disarankan untuk membentuk wadah para peternak untuk kemudian bisa menyatukan suara.

“Kami sudah ke peternakan dan kami juga sudah disarankan untuk bentuk wadah. Kini draft pengurus untuk wadah itu telah 80 persen. Wadah itu tidak hanya untuk Peternak Sumba Timur tapu juga Se Sumba, sementara memang baru lebih dari 20 orang, tapi kami yakin akan terus bertambah. Dan kami akan perjuangkan kesejahteraan kami juga warga terkait lainnya, tolong bantu kami pak dan ibu wartawan, karena kami berhadapan dengan perusahaan besar untuk upayakan kesejahteraan kami ini,” pungkas Haider.

Bahkan beberapa hari lalu, para peternak sempat ‘menggeruduk’ gudang dan kontainer milik PT. Pelni untuk memastikan keberadaan daging ayam beku. “Kami gerebek gudang dan warung di Pelni sana, masih banyak daging ayam beku disana. Kami hanya tidak mau anarkis saja, kami hanya mau check kebenarannya dan memang measih banyak daging ayam disana,” jelas Paul, seorang peternak lainnya yang juga hadir saat itu. (ion-ped)

Komentar