Ramai orang bicara soal pesawat ke Waingapu yang berkurang, bahkan ada rute Bali – Sumba Timur yang berhenti. Ada yang sentil maskapai, ada juga yang ribut soal pesawat ATR, ada juga macam – macam. Tapi kalau ditarik lurus, masalahnya bukan cuma itu.
Logikanya sederhana saja, pesawat terbang kalau penumpang ada. Kalau kursi sering kosong, maskapai pasti mundur. Mau disubsidi sekalipun, kalau sepi, ya lama-lama ditinggal.
Sumba Timur sebenarnya tidak kekurangan apa-apa. Alamnya cantik, budayanya kuat, landskapnya khas. Tapi jujur saja, semua itu belum dirangkai jadi satu cerita yang bikin orang bilang, “Saya harus ke Sumba Timur.” Karena berwisata tidak hanya tentang perpindahan fisik tetapi juga pertukaran pengalaman – pengetahuan.
Destinasi banyak, tapi jalan sendiri-sendiri. Promosi kadang muncul, kadang hilang. Tidak mustahil orang luar bingung, mau datang ke mana? mau lihat apa? dan dapat pengalaman apa?
Wisata itu bukan cuma soal tempat bagus. Orang mau datang kalau merasa daerahnya siap terima tamu: akses jelas, info gampang dicari, acaranya ada, dan ceritanya nyambung.
Pernah dicoba subsidi penerbangan. Tapi penumpang tetap sepi. Itu tanda kalau masalahnya bukan di pesawat, tapi di minat orang untuk datang.
Kalau lihat pengalaman daerah lain, penerbangan biasanya datang belakangan. Setelah wisatanya hidup, orang datang rutin, barulah maskapai masuk.
Di wilayah Sumba Barat Daya (SBD) misalnya, penerbangan bertambah setelah tempat wisatanya dibenahi dan promosinya jalan. Pesawat datang karena ada pergerakan orang.
Pelajaran ini sebenarnya sederhana untuk Sumba Timur. Jangan mulai dari bandara dulu. Mulailah dari darat. Benahi wisata, rapikan cerita, hidupkan acara budaya, dan bikin orang gampang jatuh cinta sama Sumba Timur.
Kalau orang sudah ramai datang, maskapai tidak perlu diajak bicara panjang. Mereka akan datang sendiri. Jadi pertanyaannya sekarang bukan kenapa pesawat pergi? tapi apa yang membuat orang mau datang ke Sumba Timur. Pada akhirnya, pesawat itu bukan awal cerita. Pesawat cuma ikut kalau ceritanya sudah hidup. Dengan demikian problem jenis pesawat, kapasitas bandara dan hal teknis lainnya sendirinya menemukan pintu solusi.(Penulis: Oris Goti, Jurnalis Metro TV dan Penikmat Alam dan Budaya Sumba)







