Jakarta, Waingapu.Com-Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran mulai memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia. Situasi ini dinilai dapat berdampak langsung terhadap Indonesia yang masih bergantung pada energi impor.
Hal tersebut menjadi perhatian serius Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI)dalam diskusi publik mengenai transisi energi nasional yang digelar di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Sekretaris Jenderal PP PMKRI, Maria A. F. G. Sukmaniara, mengatakan konflik Timur Tengah berdampak besar terhadap pasokan minyak dunia yang mencapai sekitar 20 persen dari total distribusi global.
“Ketika konflik terjadi di kawasan penghasil minyak dunia, maka seluruh negara yang bergantung pada impor energi akan terkena dampaknya, termasuk Indonesia,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa ketergantungan pada energi fosil membuat Indonesia sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia dan gangguan pasokan energi global.
Menurutnya, pemerintah perlu mempercepat strategi transisi energi agar Indonesia memiliki kemandirian energi dan tidak terus terjebak dalam ketergantungan impor.
Selain itu, PMKRI juga meminta agar kebijakan transisi energi memiliki roadmap yang jelas serta indikator capaian yang terukur sehingga tidak hanya menjadi program jangka panjang tanpa implementasi nyata.
Dalam diskusi tersebut, perwakilan pemerintah dari Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong peningkatan energi terbarukan.
Saat ini, bauran energi nasional telah mencapai 15,75 persen dan ditargetkan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan melalui pengembangan energi surya, angin, air dan bioenergi.
PMKRI menilai bahwa kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan transisi energi nasional.
Diskusi publik ini menjadi ruang dialog antara mahasiswa, pemerintah dan pengamat energi untuk membahas strategi menghadapi ketidakpastian energi global akibat konflik geopolitik dunia.(ion)







