Waingapu.Com-Pelatihan Pengantar Peacebuilding yang digelar YKPAI bersama mitra di Sumba tidak hanya membahas teori perdamaian, tetapi juga membuka berbagai realitas konflik sosial yang masih terjadi di masyarakat Sumba, NTT.
Dalam diskusi dan studi kasus selama pelatihan, di Aula Casa Candara, Kelurahan Wangga, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, Sabtu (28/3/2026) siang lalu, peserta dari berbagai organisasi mengangkat persoalan nyata yang mereka hadapi di lapangan, mulai dari kekerasan terhadap perempuan dan anak, konflik sosial, hingga ketidakadilan terhadap kelompok masyarakat tertentu.
Salah satu organisasi mitra, SOPAN Sumba, mengangkat persoalan tingginya angka kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak serta kasus KDRT yang masih sering terjadi.
Selain itu, pendampingan terhadap korban dinilai belum maksimal, terutama dalam pemulihan trauma dan pemulihan ekonomi korban setelah mengalami kekerasan.
Sementara itu, PERUATI Sumba mengangkat persoalan kekerasan terhadap kelompok masyarakat yang secara sosial masih dianggap sebagai golongan hamba atau Ata di Sumba Timur.
Dalam beberapa kasus, korban yang melapor justru mengalami tekanan lanjutan dan proses hukum berjalan lambat sehingga keadilan sulit diperoleh.
Di sisi lain, UNKRISWINA juga mengangkat persoalan konflik internal yang pernah terjadi lembaga pendidikan yang berkaitan dengan kebijakan pimpinan kampus dan yayasan yang dinilai tidak adil dan berpotensi memicu konflik berkepanjangan.
Berbagai persoalan tersebut menjadi contoh nyata bahwa konflik sosial tidak hanya terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi juga konflik struktural yang berkaitan dengan kebijakan, relasi kekuasaan, dan ketidakadilan sosial.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mempelajari analisis konflik menggunakan metode Segitiga Konflik yang melihat konflik dari tiga aspek yakni kontradiksi, sikap, dan perilaku.
Endah Setyowati, Fasilitator dari Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogayakarta selaku, Fasilitator pelatihan menjelaskan bahwa konflik sering kali muncul karena ketimpangan struktural dan ketidakadilan yang tidak diselesaikan.
Peserta pelatihan juga mempelajari metode Pohon Konflik untuk mengidentifikasi akar masalah, masalah inti, dan dampak konflik yang terjadi di masyarakat.
Dengan pelatihan ini diharapkan peserta memahami potensi konflik dan juga cara yang lebih tepat dalam menyelaikannya secara lebih mendalam.
Direktur YKPAI, Erlin Mali, dalam sambutannya menegaskan bahwa peacebuilding bukan sekadar menghentikan konflik, tetapi membangun sistem yang adil dan berkelanjutan di masyarakat.
“Kita belajar bahwa upaya kita tidak boleh berhenti pada peacekeeping dan peacemaking, tetapi harus sampai pada peacebuilding, yakni upaya berkelanjutan untuk menghentikan kekerasan sambil membangun sistem yang memastikan keadilan sosial dan penghormatan terhadap martabat kemanusiaan,” papar Erlin Mali.
Pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat organisasi masyarakat sipil di Sumba dalam merespons konflik sosial dan membangun perdamaian berbasis komunitas.
Karena bagi para peserta, perdamaian bukan hanya tidak adanya konflik, tetapi adanya keadilan sosial dan relasi yang sehat di masyarakat.(ion)







