Waingapu.Com-Dua dekade hadir mendampingi masyarakat pedesaan di Kabupaten Sumba Timur, NTT, Sumba Integrated Development (SID) bersama ChildFund Internasional di Indonesia resmi mengakhiri fase pendampingan di tujuh desa wilayah Kecamatan Nggaha Ori Angu.
Penutupan program ditandai dengan kegiatan selebrasi bertajuk “Merayakan Dampak, Menginspirasi Masa Depan” yang digelar di Aula Kantor Kecamatan Nggaha Ori Angu pada Rabu,13 Mei 2026 lalu.
Momentum tersebut menghadirkan suasana emosional bagi masyarakat yang selama dua dekade merasakan dampak langsung berbagai program pemberdayaan masyarakat dan perlindungan anak.
Direktur Eksekutif SID, Anto Kila mengatakan perjalanan panjang itu telah menghasilkan banyak perubahan positif di tengah masyarakat. Menurutnya, program yang dijalankan tidak hanya menyentuh aspek pendidikan anak, tetapi juga kesehatan keluarga, ekonomi masyarakat, lingkungan hidup hingga penguatan kelembagaan desa.
“Kita telah berproses bersama dan tentu banyak keberhasilan yang hari ini bisa kita rasakan,” ujarnya.
Anto menegaskan bahwa tujuan utama program selama ini adalah memastikan anak-anak desa memiliki kesempatan hidup yang lebih baik.
Ia menyebut banyak anak dampingan yang kini berhasil menjadi pribadi mandiri dan berdaya saing.
“Anak-anak yang dulu kita dampingi sekarang ada yang sudah menjadi ASN, guru, anggota TNI, pegawai swasta dan wirausahawan,” katanya.
Menurutnya, keberhasilan itu menjadi bukti bahwa pembangunan manusia membutuhkan konsistensi dan kerja bersama.
Dalam kesempatan itu, Anto juga meminta pemerintah daerah dan pemerintah desa terus melanjutkan semangat perlindungan anak di tingkat lokal.
“Setiap anak memiliki hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang. Mereka harus terus diberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan mengembangkan potensi,” tegasnya.
Camat Nggaha Ori Angu, John Umbu Nggaba Tay mengapresiasi kontribusi SID dan ChildFund dalam membangun kualitas sumber daya manusia di wilayahnya.
“Membangun manusia membutuhkan waktu panjang. Apa yang dilakukan selama ini sangat membantu masyarakat,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut dihadiri 165 peserta dari berbagai unsur pemerintah, sekolah, tokoh masyarakat, pemuda dan anak-anak desa dampingan.
Acara berlangsung meriah dengan penampilan budaya lokal seperti tarian tradisional, syair adat luluku hingga pembacaan puisi oleh anak-anak.
Selain seremoni, kegiatan juga diisi diskusi mengenai penguatan desa layak anak dan perlindungan anak berbasis komunitas.
Kepala Dinas DP3AP2KB Kabupaten Sumba Timur, Oktavianus Tamu Ama mengatakan pemerintah daerah akan berupaya mereplikasi praktik baik tersebut ke wilayah lain.
“Kami akan terus mendorong percepatan pemenuhan indikator Kabupaten Layak Anak meski saat ini pemerintah menghadapi efisiensi anggaran,” katanya.
Tokoh masyarakat Nggaha Ori Angu, Yulius Njurumbaha mengaku menjadi saksi perjalanan panjang organisasi tersebut sejak awal hadir di wilayah itu.
“Saya mengikuti bagaimana pendekatan program berkembang, dari yang bersifat karitatif hingga pemberdayaan masyarakat. Banyak bukti yang kita lihat hari ini,” katanya.
Dalam kegiatan itu juga digelar talk show mengenai penguatan desa layak anak dan perlindungan anak berbasis masyarakat. Sejumlah narasumber membagikan pengalaman terkait penguatan PAUD, pendidikan kecakapan hidup, literasi keuangan hingga peran forum anak dalam pembangunan sosial desa.
Kepala SMP Negeri 1 Nggaha Ori Angu, Sri Martini Thomas mengatakan program Pendidikan Kecakapan Hidup dan Literasi Keuangan telah diintegrasikan dalam pembelajaran sekolah.
“Program ini sangat sejalan dengan semangat Merdeka Belajar,” ungkapnya.
Acara kemudian ditutup dengan berbagai penampilan seni budaya oleh anak-anak desa dampingan yang tampil penuh percaya diri. Momentum itu menjadi simbol lahirnya generasi baru Sumba Timur yang lebih berdaya dan memiliki harapan masa depan lebih baik.(ion)







