Stigma Masih Tinggi, ODHIV di Sumba Timur Butuh Dukungan Gereja dan Keluarga

oleh
Workshop Kesehatan Reproduksi dan Pengendalian HIV & AIDS bagi Pendeta dan Tokoh Gereja di Aula GKS Manubara, Sumba Timur (Foto: Waingapu.Com) Kerjasama UPKM/CD Bethesda YAKKUM dan Sinode Gereja Kristen Sumba (GKS)

Waingapu.Com-– Stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV) masih menjadi tantangan serius dalam upaya pengendalian HIV di Kabupaten Sumba Timur, NTT. Karena itu, gereja dan keluarga diminta mengambil peran penting dalam memberikan dukungan moral terhadap ODHIV agar mereka tidak takut menjalani pengobatan.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Workshop Kesehatan Reproduksi dan Pengendalian HIV & AIDS bagi Pendeta dan Tokoh Gereja di Aula GKS Manubara, Waingapu, Jumat (15/5/2026). Persoalan ini juga diangkat Desideria D.M. Moekoe, selaku dokter spesialis penyakit dalam dari RSUD Umbu Rara Meha dalam materinya.

Sementara itu, Project Manager UPKM/CD Bethesda YAKKUM, Sukendri Siswanto mengatakan stigma sosial membuat banyak ODHIV memilih menutup diri.

“Kalau masyarakat masih memberi stigma, maka ODHIV akan takut membuka status dan akhirnya tidak rutin minum ARV,” timpalnya dalam wawancara terpisah.

Ia menyebut saat ini terdapat 314 kasus HIV di Sumba Timur dan 131 pasien belum menjalani pengobatan rutin.

Menurut dia, gereja memiliki tanggung jawab besar untuk membangun pemahaman yang benar tentang HIV di tengah jemaat.

“Gereja harus mengedukasi bahwa ODHIV juga manusia yang harus diterima dan didampingi,” ujarnya.

Workshop tersebut membahas pendekatan pastoral terhadap ODHIV dan strategi komunikasi gereja untuk isu-isu sensitif. Peserta juga mendapatkan materi tentang nilai kasih, penerimaan dan pentingnya menghapus diskriminasi.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua II BPMS GKS, Pendeta Aprianus Meta Djangga Uma mengatakan gereja tidak boleh menjadi tempat yang menghakimi penderita HIV.

“Mereka tetap saudara-saudara kita yang perlu didampingi,” katanya.

Ia mengakui selama ini gereja belum maksimal melakukan pendampingan terhadap ODHIV karena keterbatasan data dan edukasi.

“Ini menjadi pekerjaan rumah bagi gereja ke depan,” ujarnya.

Workshop itu juga mendorong pembentukan agen edukasi berbasis gereja untuk melakukan sosialisasi tentang kesehatan reproduksi dan HIV di tingkat jemaat.

UPKM/CD Bethesda YAKKUM berharap gereja dapat menjadi ruang aman bagi ODHIV untuk mendapatkan dukungan moral dan spiritual.

“Kalau gereja dan keluarga hadir mendukung, maka kepatuhan minum ARV akan meningkat dan penularan HIV bisa ditekan,” kata Sukendri.

Melalui sinergi gereja, pemerintah dan masyarakat, upaya mencapai target Three Zero HIV tahun 2030 diharapkan dapat diwujudkan di Sumba Timur.

Adapun dakam kegiatan ini juga menghadirkan Shinta Dewi Pandarangga, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat selaku pemateri dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur(ion)