Desa Ngadulanggi Deklarasikan Gerakan Lawan Malaria, Sumba Timur Bidik Eliminasi 2028

oleh
Antusiasnya warga dan Pemerintah Desa Ngadulanggi Deklarasikan Bebas Malaria (Foto kolase: PERDHAKI/Waingapu.Com)

Komitmen itu menjadi penting karena upaya eliminasi malaria membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak tahap pencegahan, pengenalan gejala, pemeriksaan, hingga kepatuhan menjalani pengobatan sesuai petunjuk tenaga kesehatan.

Meski menghadapi keterbatasan geografis dan akses menuju pusat pelayanan, masyarakat Ngadulanggi menunjukkan bahwa inisiatif kesehatan dapat dibangun dari tingkat desa melalui kerja bersama dan dukungan lintas sektor.

Rangkaian kegiatan deklarasi diawali dengan pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) massal oleh Puskesmas Nggoa. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran warga untuk memeriksakan kondisi kesehatannya.

Rombongan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur yang diwakili Asisten Administrasi Umum atau Asisten III Sekretariat Daerah, Umbu Maramba Memang, S.Pt., hadir bersama perwakilan program PERDHAKI, Ard Dalo, serta Camat Nggaha Ori Angu, Jhon Umbu Nggaba Tay.

Kehadiran pemerintah dan mitra program tersebut memperlihatkan pentingnya dukungan kelembagaan dalam memperkuat gerakan penanggulangan malaria di wilayah pedesaan.

Perdes ATM

Selain deklarasi, Pemerintah Desa Ngadulanggi juga memperkuat landasan kebijakan melalui pengesahan Peraturan Desa tentang penanggulangan AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria atau Perdes ATM.

Perdes tersebut diserahkan langsung oleh Asisten III kepada Kepala Desa Ngadulanggi. Pada kesempatan yang sama, dibentuk pula Kelompok Kerja (Pokja) Desa untuk mendukung koordinasi, pembagian peran, dan keberlanjutan pelaksanaan program.

Asisten III Sekda Sumba Timur, Umbu Maramba Memang, mengapresiasi langkah yang dilakukan Desa Ngadulanggi dan menilai inovasi tersebut berpotensi menjadi contoh bagi desa lain.

Menurutnya, inisiatif berbasis desa perlu didukung agar penanggulangan malaria tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlanjut menjadi gerakan yang terukur dan berkesinambungan.