Fair Future Foundation Tegaskan Komitmen: Eliminasi Malaria di Sumba Timur Bukan Sekadar Wacana

oleh
Sebanyak 28 analis laboratorium dari 24 fasilitas kesehatan ikuti Pelatihan Maintenance dan Panel Tes Mikroskopis. Kegiatan ini diinisiasi oleh Malaria Partners International, Rotary Mandurah District, Fair Future Foundation, dan Yayasan Kawan Baik Indonesia (YKBI), dengan dukungan penuh Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur-Foto: Istimewa/Waingapu.Com

Waingapu.Com-Di tengah tren penurunan kasus malaria di Sumba Timur, dukungan lembaga internasional menjadi penopang utama. Fair Future Foundation, melalui perwakilannya Alexandre Wettstein, hadir langsung dalam pelatihan pemeliharaan mikroskop dan panel tes malaria yang digelar 16–17 September 2025.

Kegiatan yang diikuti 28 analis laboratorium dari 24 puskesmas, rumah sakit, dan klinik ini diinisiasi oleh Malaria Partners International, Rotary Mandurah District, dan Fair Future Foundation, berkolaborasi dengan Yayasan Kawan Baik Indonesia (YKBI) serta Dinas Kesehatan Sumba Timur.

“Komitmen kami jelas. Kehadiran Fair Future di Sumba Timur bukan hanya sebagai donor, tapi bagian dari perjuangan masyarakat untuk terbebas dari malaria. Eliminasi bukan sekadar wacana, tapi target yang harus dicapai bersama,” ujar Alexandre Wettstein dalam kesempatan itu.

Pelatihan dua hari ini menghadirkan fasilitator bersertifikat WHO, Herlina N. D. W. Dangga Dewa dan Magdalena Desiree Seran, serta teknisi mikroskop Nikson M. A. Taramata. Fokusnya adalah meningkatkan akurasi diagnosis malaria, sekaligus memastikan alat laboratorium tetap berfungsi optimal di fasilitas kesehatan.

Alyuprayitno Umbu Makaborang, Koordinator Lapangan YKBI, menjelaskan bahwa pelatihan ini hanyalah satu rangkaian dari program panjang. “Kampanye edukasi, penyemprotan residu, distribusi kelambu, hingga pelatihan teknis terus kita jalankan. Semua ini bertujuan agar Sumba Timur bisa mencapai target eliminasi malaria,” jelasnya.

YKBI mencatat, hingga kini sudah dipasang 10 papan edukasi di Waingapu, Kanatang, Kawangu, dan Umalulu. Selain itu, sesi edukasi di Umalulu menjangkau lebih dari 1.000 penduduk. Dari sisi intervensi, dilakukan penyemprotan residu dalam ruangan di 17 rumah tangga dan distribusi 146 kelambu berinsektisida.

Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Sumba Timur, Novri Kilimandu, menekankan pentingnya dukungan internasional dalam meningkatkan kapasitas tenaga laboratorium. “Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan di lapangan, sehingga setiap kasus malaria dapat terdeteksi lebih cepat dan ditangani sesuai prosedur,” katanya.

Data Dinas Kesehatan menunjukkan, sepanjang Januari–Agustus 2025, terdapat 266 kasus malaria: 194 kasus Plasmodium falciparum, 46 Plasmodium vivax, 5 Plasmodium malariae, dan 21 infeksi campuran. Angka tersebut menurun tajam dari 1.151 kasus di tahun 2024 dan 2.176 kasus pada 2023.

Instruksi Bupati Nomor 320 Tahun 2025 menjadi pedoman utama percepatan eliminasi. Salah satu poin penting adalah kewajiban penemuan kasus di atas 70 persen di semua desa serta pengobatan sesuai standar. “Kita dorong desa-desa punya aturan sendiri terkait malaria. Ini agar eliminasi benar-benar jadi gerakan bersama,” tegas Novri.

Bagi Fair Future Foundation, dukungan pada sektor kesehatan masyarakat di wilayah timur Indonesia bukan kali pertama. Program serupa telah dilakukan di beberapa daerah lain. Namun, Sumba Timur dipandang unik karena tren penurunannya sangat signifikan, dari endemis tinggi menjadi endemis sedang.

“Sumba Timur bisa jadi contoh nasional bagaimana pemerintah daerah, lembaga donor, dan masyarakat bergerak bersama. Kami percaya, eliminasi malaria di sini akan menjadi kisah sukses yang menginspirasi daerah lain,” pungkas Wettstein.(ion)

Komentar