Mengurai Makna Logo HUT 75 Paroki Sang Penebus: Dari Salib hingga Cahaya Kebangkitan

oleh
Ketua panitia, Pastor Paroki dan Bupati Sumba Timur serta perwakilan umat foto bersama dalam momen peluncuran logo dan mascot HUT ke 75 Paroki Sang Penebus Waingapu (Foto: waingapu.com)

Waingapu. Com-Di balik peluncuran logo HUT ke-75 Paroki Sang Penebus Waingapu, tersimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar desain visual. Logo itu menjadi refleksi perjalanan iman umat selama puluhan tahun.

Ketua Panitia, Peternich Frits Djae, menyebut logo tersebut sebagai “kisah iman yang hidup”.

“Logo ini bukan sekadar gambar, melainkan narasi perjalanan iman umat selama 75 tahun,” tandasnya pada Waingapu.Com.

Di bagian tengah logo, tampak figur Yesus yang bangkit sambil mengangkat salib. Posisi itu bukan tanpa makna.

Ia menggambarkan kemenangan atas penderitaan, sekaligus penegasan bahwa umat telah ditebus melalui pengorbanan Kristus.

“Tangan-Nya terbuka merangkul semua orang tanpa kecuali. Itu melambangkan kasih yang menyelamatkan,” jelas Frits.

Dari belakang sosok tersebut, terpancar cahaya terang yang kuat. Cahaya itu menjadi simbol harapan, kebangkitan, dan hidup baru.

Menurut Frits, perjalanan iman umat tidak selalu mulus. Ada fase gelap, ada luka, ada keraguan.

Namun, seperti cahaya dalam logo, selalu ada jalan menuju pemulihan.

Angka 75 yang ditampilkan secara tegas menjadi simbol kesetiaan Tuhan.

“Selama 75 tahun, umat jatuh bangun, tetapi tetap bertahan karena Tuhan tidak pernah meninggalkan,” katanya.

Tema besar yang diusung, “75 Tahun Ditebus dan Diutus”, menjadi inti dari keseluruhan filosofi.

Umat tidak hanya menerima keselamatan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mewartakan kasih.

Menariknya, logo ini juga memuat unsur budaya lokal Sumba. Motif dan ornamen khas menjadi pengingat bahwa iman tumbuh dalam konteks budaya.

“Tuhan hadir dalam keseharian kita, dalam budaya, dalam identitas kita sebagai orang Sumba,” tambahnya.

Hal ini menjadi penting di tengah arus modernisasi yang kerap menggerus identitas lokal.

Dengan demikian, logo ini bukan hanya identitas perayaan, tetapi juga pernyataan teologis dan kultural.

Ia berbicara kepada umat tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka diutus.

Dari sebuah logo sederhana, lahir pesan besar: iman harus terus hidup dan bergerak.(ion)