Waingapu.Com- Aksi demonstrasi yang digelar oleh sejumlah elemen yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Sumba Bersatu, Kamis (4/9/2025) siang kemarin hingga kini masih jadi bahasan di masyarakat. Selain itu potongan foto dan video aksi yang berjalan damai dan kondusif itu, masih berseliweran di dunia maya oleh postingan sejumlah warganet.
Dari sejumlah orator yang tampil berorasi, salah satu yang mencuri perhatian para petinggi di Kantor Bupati Sumba Timur, juga para peserta aksi maupun publik yang sempat menonton dan menjadi saksi mata aksi itu Adalah orasi Pendeta Herlina Ratu Kenya, seorang rohaniwati Gereja Kristen Sumba (GKS) yang giat dalam organisasi Badan pengurus Daerah (BPD) Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologia di Indonesia (PERUATI) Sumba Timur.
Orasinya berisi seruan untuk para petinggi, politisi untuk kembali mereformasi diri sebelum Tuhan mencabut rahmat-Nya.
Berikut orasi lengkap dan suara kenabian yang dikumandangkan Herlina Ratu Kenya:
Sumba adalah bagian dari Indonesia, maka Sumba terpanggil untuk bersuara. Sebagai Pendeta, saya hadir untuk menyatakan sikap provetic saya – suara kenabian – di depan public untuk Pemerintah yang kami pilih dan doakan.
Jiwa kita sebagai bangsa sedang berduka, hati kita seakan terpecah, membuncah dengan kemarahan yang amat dalam. Negara yang wajib melindungi, sekarang sedang melukai rakyatnya.
Kami marah karena sampai kapan, sampai berapa lama lagi ketidakadilan, pemerasan atas nama UU dilakukan oleh negara kepada rakyatnya? Sementara wakil rakyat, penguasa berpesta, membagi-bagi rampasan mereka dengan tunjangan-tunjangan yang tidak masuk akal.
Tuhan… Izinkan kami marah dan memanggil nama-Mu untuk menjadi hakim atas penguasa, atas wakil rakyat yang berlaku tidak adil, membebani rakyat lewat pajak yang mencekik dan inflasi yang makin berat bagi biaya hidup sehari-hari, hilangnya nyawa anak-anak bangsa, kekayaan Alam yang hanya menguntungkan para penguasa. Sementara dampak kerusakannya merusak bahkan membawa kematian bagi masyarakat. Sudah sepatutnya sumber daya alam dikelola bukan sepenuhnya untuk alasan ekonomi, tapi prinsip sustainabilitas dan untuk hajat hidup banyak orang bukan kepentingan kapitalis.
Kami marah atas ditangkapnya orang-orang yang menyampaikan kebenaran, Tuhan bukakan telinga penguasa dan wakil rakyat kami.
Di tengah memuncaknya kejahatan penguasa, kami meminta: akuntabilitas, transparansi, empati dan transformasi-semoga penguasa kami bergegas mereformasi diri sebelum Tuhan mencabut rahmat-Nya dari mereka.
Kepada pemerintah daerah Sumba Timur kami meminta agar memperhatikan program yang berkaitan dengan layanan dasar kehidupan masyarakat. Untuk isu kekerasan seksual di Sumba Timur kami dorong pemerintah untuk UPTD segera direalisasikan.
Semoga kegelapan segera kita terangi dengan harapan yang masih menyala!
Adapun selama orasi dan suara kenabian yang dilantangkan oleh Pendeta Herlina nampak dicermati dalam hening dan seksama. Tak hanya oleh para peserta aksi namun juga Bupati Umbu Lili Pekuwali, Wakil Bupati Yonathan Hani, Sekda Umbu Ngadu Ndamu, dan anggota Forkopimda Sumba Timur serta para ASN yang hadir menyaksikan aksi demo kala itu.(ion)







