Waingapu.Com-Perjalanan bantuan itu dimulai dari sebuah proposal sederhana. Dari Kambaniru, harapan jemaat GKII mengalir menuju kantor pusat Pegadaian, sebelum akhirnya kembali dalam bentuk nyata: bahan bangunan untuk gereja di Wunga.
Proses itu diceritakan langsung oleh Pimpinan Cabang Pegadaian Prailiu, Andy Alfian.
“Sebelumnya pihak GKII Kambaniru sudah menyerahkan proposal. Kami teruskan ke kantor pusat, dan akhirnya disetujui,” ungkapnya.
Bantuan tersebut kemudian disalurkan melalui program Pegadaian Peduli. Penyerahan dilakukan secara simbolis, namun dampaknya terasa nyata bagi jemaat nantinya di lokasi pembangunan.
Andy menegaskan, kolaborasi seperti ini menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan di daerah.
“Kami ingin hadir untuk masyarakat melalui program CSR,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa sinergi antara masyarakat dan perusahaan menjadi kunci keberhasilan program.
Di lapangan, kolaborasi itu terlihat jelas. Jemaat, tokoh masyarakat, dan pemerintah setempat hadir menyaksikan penyerahan bantuan yang dilaksanakan di GKII Kambaniru, Kelurahan Kambaniru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, NTT, Sabtu (25/4/2026) siang lalu.
Ester Koba. selaku pelayan pada GKII Pos PI Wunga menyebut, bantuan ini menjadi titik balik dalam perjalanan pembangunan gereja.
“Ini jawaban doa kami. Dan tentunya membantu dan menjawab harapan umat. Kami sangat bersyukur,” ujarnya.
Ia berharap, pembangunan gereja dapat segera diselesaikan dengan adanya tambahan material.
“Ini sangat membantu kami untuk melanjutkan pekerjaan,” katanya.
Sementara itu, Lurah Kambaniru, Max Anfonsus Koli, melihat bantuan ini sebagai contoh nyata kolaborasi lintas sektor.
“Ini bentuk kerja sama yang baik antara perusahaan dan masyarakat,” ujarnya.
Ia menilai, model seperti ini perlu diperkuat untuk mendorong pembangunan di wilayah kota maupun pedesaan.
Max juga berharap, bantuan serupa dapat terus berlanjut untuk fasilitas umum lainnya.
Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah, peran dunia usaha menjadi semakin penting. Kisah dari Kambaniru ke Wunga ini menunjukkan satu hal sederhana: ketika kolaborasi berjalan, harapan bisa terealisasi(ion)







