Waingapu.Com-Di tengah geliat ekonomi digital, sektor UMKM masih bergulat dengan persoalan yang sama: modal, kualitas SDM, dan akses pasar.
Hal itu diungkapkan Yusuf H. Mawolu dalam kegiatan LPS Goes To Campus di Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina) Sumba, Kamis (23/4/2026).
“Masalah UMKM itu klasik. Tapi dunia sudah berubah. Solusinya juga harus berubah,” katanya membuka pemaparan.
Ia menegaskan bahwa kesulitan mendapatkan permodalan masih menjadi hambatan utama. Banyak pelaku usaha kecil tidak memiliki jaminan yang cukup untuk mengakses kredit.
Selain itu, keterbatasan kemampuan manajerial membuat banyak UMKM sulit berkembang. “Usaha jalan, tapi tidak terkelola dengan baik,” ujarnya.
Persoalan lain adalah standardisasi produk. Sertifikasi seperti halal, BPOM, hingga SNI masih menjadi tantangan besar.
“Kalau mau naik kelas, produk harus memenuhi standar. Tidak bisa lagi asal jual,” tegas Yusuf.
Dalam sesi tersebut, ia juga menyoroti pola pemasaran yang masih konvensional. Ketergantungan pada pasar lokal membuat UMKM sulit berkembang.
“Pasar itu luas. Tapi kalau kita tidak masuk ke sana, ya tetap kecil,” katanya.
Ia kemudian menawarkan solusi berbasis digital. Marketplace, media sosial, hingga pembayaran digital menjadi alat yang bisa membuka akses pasar lebih luas.
Mahasiswa yang hadir terlihat aktif menyimak, terutama saat topik menyentuh peluang bisnis digital.
“Generasi muda punya keunggulan. Tinggal bagaimana memanfaatkannya,” tambahnya.
Yusuf juga menekankan pentingnya inovasi berkelanjutan. Menurutnya, UMKM harus terus beradaptasi dengan perubahan pasar.
“Tidak ada usaha yang bertahan tanpa inovasi,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa masa depan UMKM tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada kesiapan generasi muda.
“Kalau kalian mulai sekarang, lima tahun ke depan kalian sudah jadi pemain,” pungkasnya.(ion)







