Waingapu.Com-Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, satu hal masih sering terabaikan: pemahaman dasar tentang risiko. Itulah yang coba dijawab Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melalui program LPS Goes to Campus di Sumba Timur.
Kegiatan yang berlangsung di Universitas Kristen Wira Wacana, Kamis (23/4/2026) siang ini menghadirkan ratusan mahasiswa dalam satu forum edukasi yang tidak biasa. Bukan sekadar kuliah umum, tetapi diskusi terbuka tentang bagaimana uang bekerja dan bagaimana ia bisa hilang.
Sebanyak 300 mahasiswa tampak antusias mengikuti setiap sesi. Mereka diajak memahami peran LPS dalam menjamin simpanan nasabah serta bagaimana sistem perbankan menjaga stabilitas ekonomi.
Namun yang paling menarik, pembahasan tentang risiko keuangan menjadi sorotan utama. Dari investasi bodong hingga kesalahan pengelolaan keuangan pribadi, semua dibedah secara terbuka.
Materi disusun secara interaktif. Mahasiswa tidak hanya mendengar, tetapi juga diajak berpikir kritis terhadap fenomena keuangan yang sering terjadi di masyarakat.
Pembantu Rektor II Unkriswina, Adrianus Kabubu Hudang, menilai kegiatan ini sangat relevan dengan kebutuhan mahasiswa saat ini.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Literasi keuangan adalah bekal penting bagi mahasiswa agar tidak mudah terjebak dalam keputusan finansial yang salah,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan LPS II, Bambang S. Hidayat, menekankan pentingnya kesadaran sejak dini.
“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa setiap keputusan keuangan memiliki risiko. Dengan pemahaman yang baik, mereka bisa menghindari kerugian,” ujarnya.
Menurut Bambang, generasi muda adalah kelompok yang paling rentan sekaligus paling potensial. Rentan karena minim pengalaman, tetapi potensial karena cepat belajar.
Melalui program ini, mahasiswa diharapkan mampu mengenali produk keuangan yang aman, memahami sistem penjaminan simpanan, dan menghindari jebakan investasi ilegal.
Kolaborasi antara LPS, OJK, dan Bank NTT menjadi bukti bahwa edukasi keuangan tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kerja bersama untuk menjangkau lebih banyak masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi finansial, literasi menjadi benteng utama. Tanpa itu, kemudahan justru bisa berubah menjadi ancaman.
Dan di Waingapu, langkah itu telah dimulai dari kampus, untuk masa depan yang lebih aman secara finansial.(ion)







