Mahasiswa Unikama Soroti Urgensi Pelestarian Kearifan Lokal Sumba di Tengah Arus Modernisasi

oleh
oleh

Mahasiswa Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Fakultas Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Nofriyadi Dara Dapa Loka menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan zaman dan pelestarian budaya, khususnya kearifan lokal Sumba di tengah derasnya arus modernisasi saat ini.

Menurutnya, Pulau Sumba yang terletak di Nusa Tenggara Timur bukan hanya dikenal karena keindahan alamnya, melainkan juga sebagai “museum hidup” di mana tradisi dan nilai leluhur masih dipegang teguh. Namun, tantangan besar muncul ketika generasi muda mulai terpapar gaya hidup modern.

“Realitas saat ini menunjukkan tantangan yang tidak ringan. Generasi muda Sumba kini semakin banyak yang tergiur oleh gaya hidup modern dan memilih merantau ke kota besar. Hal ini berisiko menyebabkan terputusnya mata rantai pengetahuan tentang adat istiadat,” tutur Nofriyadi.

Marapu dan Identitas Budaya yang Terancam

Dalam pandangannya, Nofriyadi menyebut kekayaan budaya Sumba sangatlah unik, mulai dari tradisi pemakaman megalitik, rumah adat Uma Mbatangu, hingga kain tenun ikat. Salah satu nilai inti yang menjadi fondasi adalah konsep “Marapu”.

“Marapu adalah sistem kepercayaan yang mengajarkan hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, alam semesta, dan leluhur. Ajaran ini menanamkan rasa hormat yang tinggi terhadap alam dan gotong royong yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat,” tegasnya.

Namun, jika tidak ada regenerasi pemuda yang memahami makna di balik setiap ritual dan tradisi, bukan tidak mungkin warisan berharga ini akan perlahan memudar dan hanya menjadi tontonan wisata semata. Fenomena ini dianggapnya sebagai ancaman serius bagi identitas bangsa.

Oleh karena itu, Nofriyadi menekankan bahwa pelestarian budaya tidak boleh hanya menjadi tugas para tetua adat atau pemerintah semata. Diperlukan sinergi yang kuat dari berbagai pihak untuk memastikan warisan tersebut tetap lestari.

“Pendidikan mengenai kearifan lokal harus mulai dimasukkan ke dalam kurikulum atau kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah. Teknologi dan media sosial juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk mempromosikan dan mendokumentasikan budaya Sumba agar dikenal dunia, namun tetap dengan cara yang menghormati kesakralannya,” ungkap Nofriyadi.

Ekonomi Kreatif sebagai Kunci Regenerasi

Selain aspek pendidikan dan teknologi, mahasiswa ini juga menyoroti pentingnya aspek ekonomi dalam pelestarian budaya. Ia menilai pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya menjadi kunci penting untuk menahan laju migrasi pemuda.

“Industri tenun dan kerajinan tangan menjadi contoh nyata. Ketika budaya dapat memberikan nilai ekonomi yang layak bagi masyarakat, maka generasi muda akan memiliki alasan yang kuat untuk tetap tinggal, melestarikan, dan mengembangkan warisan tersebut,” imbuhnya.

Melalui pendekatan ini, generasi muda tidak hanya diajak untuk mencintai budaya secara emosional, tetapi juga diberdayakan secara ekonomi sehingga mereka merasa memiliki masa depan di tanah kelahirannya.

Nofriyadi menambahkan bahwa modernisasi bukanlah musuh yang harus ditakuti atau ditolak, melainkan tantangan yang harus dihadapi dengan bijak. Mari jaga agar kemajuan pembangunan fisik tidak menghapuskan identitas kultural yang membuat Sumba begitu istimewa.

“Sumba memiliki jiwa yang besar dalam tradisinya. Melestarikan budaya Sumba sama artinya dengan menjaga jati diri bangsa. Kita harus memastikan bahwa kemajuan tidak menggerus identitas,” pungkasnya.

Pada akhirnya, kesadaran kolektif diperlukan untuk memastikan bahwa warisan leluhur Sumba tetap hidup dan relevan di era digital, menjadikannya kebanggaan yang terus diwariskan kepada generasi mendatang.[*]

Penulis: Nofriyadi Dara Dapa Loka, Mahasiswa Universitas PGRI Kanjuruhan Malang