KM Feronia Terbalik Dihantam Pusaran Arus di Perairan Komodo, Satu Dive Master Masih Hilang

oleh

Pada hari pertama kecelakaan, nakhoda kapal bernama Isran, Kepala Kamar Mesin (KKM) Irwandi, serta tiga anak buah kapal, yakni Falens Tinus Gordi, Wihelmus, dan Rupertus Raman, berhasil dievakuasi. Tiga wisatawan asing yang terluka, yaitu William Barnet, Teagans Monks, dan Yannick Wassmer, juga berhasil diselamatkan dan mendapatkan perawatan medis.

Operasi pencarian pada hari kedua dilakukan dengan mengerahkan armada perahu cepat dan Rigid Inflatable Boat (RIB). Tim memperluas penyisiran permukaan hingga Perairan Siaba, Tatawa, Batu Bolong, dan Taka Makassar.

Penyelaman juga dilakukan dalam empat sesi di beberapa titik, termasuk Batu Bolong, celah perairan antara Pulau Mawan dan Batu Bolong, perbatasan Manta Point, serta perairan antara Pulau Mawan dan Tatawa Kecil.

Namun, upaya tersebut menghadapi kendala berupa arus bawah laut yang kuat, perubahan arah arus secara mendadak, serta keterbatasan jarak pandang pada kedalaman tertentu. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para penyelam ketika melakukan pencarian di bawah permukaan laut.

“Hambatan utama di lapangan adalah kontur arus bawah laut yang sangat kuat dan sering berubah arah secara mendadak (underwater turbulence), serta jarak pandang penyelaman (visibility) yang terbatas pada kedalaman tertentu,” ujar Leonardo.

Setelah penyisiran hari kedua berakhir, unsur SAR Gabungan menggelar evaluasi teknis di Posko SAR Waterfront Labuan Bajo. Evaluasi dilakukan untuk memetakan ulang koordinat pencarian, membagi tugas penyelam, dan menyesuaikan strategi dengan kondisi arus laut.

Pencarian hari ketiga dijadwalkan dimulai Kamis (15/10/2026) pukul 09.00 WITA dengan memperluas jangkauan ke perairan selatan Taman Nasional Komodo. Di tengah tantangan kondisi bawah laut, operasi tersebut diharapkan dapat menemukan korban yang masih hilang sekaligus mengungkap posisi bangkai KM Feronia.(wyn)