Waingapu.Com-Pemerintah Kabupaten Sumba Timur mengonsolidasikan langkah besar dalam percepatan eliminasi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria melalui Rapat Koordinasi Perdana Satgas ATM yang dibuka Wakil Bupati Sumba Timur, Yonathan Hani, Selasa (2/12/2025). Rapat yang digelar di Gedung Nasional Umbu Tipuk Marisi ini dihadiri Sekretaris Daerah Umbu Ng. Ndamu, perangkat daerah terkait, Perdhaki, puskesmas, mitra kesehatan, dan organisasi pendukung eliminasi malaria.
Satgas ATM Digerakkan: “Koordinasi Adalah Jantung Eliminasi”
Dalam sambutannya, Wakil Bupati menegaskan bahwa Satgas ATM bukan hanya sebuah forum, tetapi menjadi ruang kerja bersama yang menentukan keberhasilan eliminasi tiga penyakit menular terbesar di Sumba Timur. “Pembentukan Satgas ATM ini menandai komitmen kita bersama dalam memperkuat langkah penanggulangan AIDS, TBC, dan malaria. Melalui koordinasi yang baik, kita berharap program eliminasi dapat berjalan efektif dan memberikan dampak nyata bagi kesehatan masyarakat Sumba Timur,” ujar Yonathan Hani.
Ia menambahkan bahwa lintas sektor harus menghindari kerja terpisah yang selama ini menjadi kendala klasik dalam penanganan penyakit menular. Menurutnya, keberhasilan masa lalu dalam pengendalian pandemi Covid-19 dan stunting menunjukkan bahwa kekuatan koordinasi bukan teori, tetapi fakta lapangan yang sudah teruji.
“Eliminasi penyakit tidak mungkin terjadi jika sektor kesehatan bergerak sendiri. Semua harus terlibat: pemerintah desa, tokoh agama, organisasi masyarakat, hingga keluarga,” tegasnya dalam kegiatan yang disponsori dan diinisiasi oleh Perdhaki itu.
Malaria Menurun Drastis, Tapi 66 Desa Masih Endemis
Sekretaris Daerah Umbu Ng. Ndamu memaparkan perjalanan penanganan malaria yang penuh dinamika. Tahun 2022 menjadi titik tertinggi dengan lonjakan 205 persen mencapai 5.530 kasus. Namun setelah intervensi terstruktur, grafik menurun drastis: 61 persen pada 2023, 47 persen pada 2024, dan 69 persen hingga Oktober 2025.
“Kita sudah lihat cahaya di ujung terowongan,” kata Umbu. “Ini bukan keberuntungan. Ini kerja kolaborasi dari desa sampai kabupaten.”
Meningkatnya cakupan pemeriksaan (ABER) hingga 73 persen dan turunnya positivity rate menjadi 0,18 persen menunjukkan transmisi berhasil ditekan. Meski demikian, Umbu mengingatkan bahwa 66 desa masih endemis, termasuk 13 desa kategori tinggi. “Musuh kita sekarang tidak lagi besar, tapi tersebar. Ini yang harus kita sikat habis secara bersama,” ujarnya.
Pemerintah memastikan intervensi vektor, operasi kelambu, IRS, survei habitat, dan kunjungan rumah oleh kader malaria terus diperkuat. Integrasi skrining ibu hamil dan balita juga menjadi pendekatan wajib untuk mempercepat eliminasi.
TBC Masih Tertinggal: “Jangan Normalisasi Ketertinggalan”
Berbeda dengan malaria, capaian penanganan TBC masih di bawah target. Target penemuan kasus tahun ini adalah 688 kasus, namun hingga 11 November baru 439 kasus ditemukan—sekitar 63,8 persen. “Kita kuat di pengobatan, tapi lemah di penemuan. Ini harus segera dibalik,” tegas Sekda Umbu.
Walau pengobatan mencapai 94,3 persen untuk kasus yang ditemukan, cakupan Terapi Pencegahan TBC (TPT) masih jauh dari target: 39,65 persen dari sasaran 72 persen. Rendahnya investigasi kontak, pelaporan SITB yang belum optimal di fasilitas swasta, serta keterbatasan sumber daya diagnostik menjadi kendala utama.
Wakil Bupati mengingatkan betapa berbahayanya keterlambatan penanganan TBC. “Kita tidak boleh menormalisasi ketertinggalan. TBC ini penyakit yang bisa disembuhkan, tetapi hanya jika ditemukan cepat. Kalau surveilans lambat, kita kalah sebelum bertarung,” ujarnya.
Kolaborasi dengan BPJS, klinik swasta, perusahaan, dan pemerintah desa pun didorong untuk mempercepat penemuan kasus. Satgas ATM menegaskan bahwa pendekatan ‘semua sektor harus terlibat’ akan menjadi strategi baru percepatan eliminasi TBC di Sumba Timur.
HIV-AIDS: Stigma Jadi Tembok Terbesar yang Harus Dirobohkan
Dalam bagian pemaparan HIV-AIDS, Sekda mengungkap data bahwa Sumba Timur telah mencatat 314 kasus HIV, dengan 183 orang (58 persen) aktif menjalani terapi ARV. Dari jumlah tersebut, 79 persen telah tersupresi viral load. Namun capaian skrining baru 83,9 persen, masih jauh dari ideal untuk menekan penularan ibu-ke-anak dan pasangan serumah.
Umbu menilai hambatan terbesar bukan pada layanan kesehatan, tetapi stigma sosial. “Orang takut diperiksa karena takut diketahui keluarga. Ada yang memilih tidak tahu statusnya daripada malu. Ini berbahaya dan membuat pasien datang terlambat,” ujarnya.
Wakil Bupati mengamini hal itu dan menyebut stigma sebagai musuh pertama yang harus dihadapi. “Kalau masyarakat tidak menerima, pasien akan bersembunyi. Dan ketika mereka bersembunyi, virus bekerja tanpa henti. Kita harus robohkan tembok stigma ini secara kolektif,” tegasnya.
Pemerintah mendorong kolaborasi dengan tokoh agama, sekolah, kelompok pemuda, dan organisasi lokal untuk kampanye anti-diskriminasi. Penekanan pada pendekatan humanis dan ramah layanan menjadi prioritas pada tahun 2026.
Dengan bergeraknya Satgas ATM, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur menegaskan arah baru penanganan tiga penyakit prioritas ini. Koordinasi lintas sektor, intervensi serentak, dan pendekatan humanis dianggap sebagai kunci utama. Wakil Bupati menyimpulkan dengan nada optimisme, “Eliminasi AIDS, TBC, dan malaria bukan sekadar target nasional. Ini tugas moral kita bagi generasi Sumba Timur. Kita bisa mencapainya jika kita bergerak bersama.”(ion)







