Solar Hilang dalam 3 Jam, Petani Lewa Duga Ada Mafia Bermain di Musim Tanam

oleh
Suasana audiensi perwakilan Petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Se-Lewa Raya di DPRD Sumba Timur - Foto: Waingapu.Com

Waingapu.Com-Kelangkaan solar yang melanda wilayah Lewa Raya, Sumba Timur, kian menuai kecurigaan. Tidak berlebihan jika petani menduga ada ‘mafia BBM’ yang bermain di balik cepatnya solar menghilang di SPBU, sementara solar eceran justru melimpah dengan harga selangit.

Kondisi ini terungkap saat Asosiasi Petani Se-Lewa Raya melakukan audiensi dengan DPRD Sumba Timur, Rabu (3/12/2025) siang tadi. Solar yang dipasok truk tangki ke SPBU diketahui habis hanya dalam waktu kurang dari tiga jam.

“Kami datang dengan jeriken lima liter saja, tapi solar selalu habis. Sementara pengecer bisa jual dengan harga Rp65.000 hingga Rp70.000 per jeriken. Ini pasti ada yang tidak beres,” kata Yohanis Umbu Tunggu Djama, Ketua Asosiasi Petani Se-Lewa Raya.

Menurut Yohanis, kemunculan jeriken-jeriken berukuran besar yang memenuhi area SPBU semakin menegaskan adanya pola distribusi yang tidak fair. Ia menilai situasi ini sengaja dibiarkan sehingga petani—yang justru membutuhkan solar untuk mengolah lahan—tidak mendapat akses yang memadai.

“Truk-truk dari luar daerah antre sejak malam, bahkan jeriken besar sudah ada duluan. Petani hanya bisa menonton. Seperti ada jaringan yang sudah atur semuanya,” ujarnya dengan nada kesal.

Dalam audiensi, Wakil Bupati Sumba Timur, Yonathan Hani, turut mendengar langsung keluhan petani. Pemerintah daerah meminta Pertamina memperketat pengawasan distribusi, juga dinas dan pihak terkait selektif dalam memberikan rekomendasi dan barcode gunamemastikan solar tidak bocor ke pada warga yang berperilaku serakah.

Para petani menegaskan bahwa kelangkaan solar bukan hanya soal antrean, tetapi juga soal ancaman terhadap 8.800 hektar lahan persawahan di Lewa Raya. Mereka mengatakan bahwa kelangkaan solar berpotensi menjadi bencana ekonomi dan pangan jika tidak diatasi segera.

Lahan seluas itu adalah salah satu sentra produksi padi Sumba Timur. Tanpa solar, alsintan tidak dapat digunakan, padahal hujan sudah turun dan musim tanam sudah dimulai. “Ini soal hidup mati petani. Kalau gagal tanam, satu kabupaten ikut terdampak,” kata Yohanis.

Meski demikian, petani tetap pada dugaan mereka. Mereka menuntut investigasi menyeluruh agar celah permainan mafia BBM dapat tertutup rapat. “Kami tidak mau ditipu oleh sistem yang kami sendiri tidak mengerti. Solar subsidi itu hak kami sebagai petani bukan justru yang menari adalah spekulan,” tegas Yohanis.(ion)

Komentar