Sementara itu, anak-anak mengikuti kegiatan kreatif bersama tim yayasan. Mereka membuat Dream Wall, mahkota, lampion, topeng satwa, dan lonceng cup dengan penuh antusias.
Melalui kegiatan ini, Juliani berharap perhatian terhadap anak-anak dengan bibir sumbing dan celah langit-langit tidak berhenti pada operasi. Mereka membutuhkan akses kesehatan yang baik, pendidikan yang layak, serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang tanpa perundungan.

Anak-anak dampingan Yayasan Kolewa Harapan Indonesia bergembira dan bermain kreatif bersama para mentor yang membimbing dengan keramahan dan kasih sayang (Foto Kolase: Dion. Umbu Ana Lodu/Waingapu.Com)
Ia juga berharap pemerintah semakin memperhatikan kebutuhan fasilitas kesehatan dan pendidikan di wilayah timur Indonesia. Dengan layanan yang semakin memadai, keluarga tidak selalu harus menempuh perjalanan jauh ke Bali untuk mendapatkan penanganan yang diperlukan.
Besarnya jumlah penerima manfaat dari Sumba menjadi pengingat bahwa akses pelayanan kesehatan masih membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Bagi Yayasan Kolewa, setiap pertemuan dengan keluarga merupakan kesempatan untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan pendampingan dan memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik.(ion)



