Bupati menyatakan bahwa pemerintah daerah akan berupaya membangun komunikasi dengan berbagai tingkatan pemerintahan untuk memperjuangkan fasilitas tersebut. Meski demikian, ia mengakui pembangunan stadion memerlukan usaha dan perencanaan yang tidak sederhana.
“Berangkat dari keinginan agar stadion bisa menjadi pusat pembinaan olahraga, tentu kita akan berusaha. Karena kita tahu untuk membangun sebuah stadion bukan hal yang mudah. Tapi kita punya tingkatan pemerintahan yang bisa kita bangun komunikasi agar fasilitas itu bisa kita miliki,” katanya.
Namun, fasilitas fisik bukan satu-satunya faktor yang menentukan prestasi. Sistem seleksi pemain, kualitas pelatih, kesinambungan kompetisi, dan evaluasi tim juga harus dibangun agar potensi yang ditemukan dalam turnamen dapat dikembangkan menjadi kekuatan sepak bola daerah.
Hermanus H. Taranau, guru PJOK sekaligus pelatih Tim Kecamatan Lewa, menekankan pentingnya seleksi transparan dan upaya menghindari pemain titipan dalam proses pembentukan tim. Menurut dia, pemain yang mewakili daerah harus dipilih berdasarkan kemampuan dan kebutuhan tim.
Ia juga mengusulkan agar pelatih berlisensi nasional dikontrak minimal tiga tahun, serta pelatih lokal yang berdedikasi dilibatkan dalam pembinaan. Dengan pendekatan tersebut, pemain dapat memperoleh pendampingan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika turnamen besar akan dimulai.


